Jawa Pos Radar Ponorogo – Korban ledakan petasan di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, bertambah.
Ahmad Fatoani, 20, yang mengalami luka berat akhirnya meninggal dunia setelah empat hari dirawat di RSUD dr Harjono Ponorogo.
Remaja asal Desa Morosari, Kecamatan Sukorejo itu dinyatakan meninggal pada pukul 05.20, Kamis (5/3) di ruang Intensive Care Unit (ICU).
Kabid Humas RSDH Ponorogo Sugianto mengatakan pasien mengalami luka bakar sekitar 36 persen.
Korban juga menggunakan alat bantu pernapasan selama menjalani perawatan intensif.
’’Keadaan pasien pascaledakan mengenai di sekitar leher sehingga pembuluh darah dan jalan napas terganggu,’’ katanya.
Selain luka bakar pada tangan dan badan, luka di bagian leher membuat kondisi korban terus memburuk.
Kepala Desa Morosari Samsi menambahkan, Ahmad Fatoani berasal dari keluarga broken home.
Ibunya, Sulistyowati, bekerja sebagai pekerja migran Indonesia di Hongkong.
Sedangkan ayahnya, Suyadi, mengalami gangguan kejiwaan.
Selama tiga tahun terakhir, korban tinggal bersama orang tua asuh di wilayah Sumoroto.
’’Sejak insiden petasan meledak, ibunya sulit dihubungi. Informasi anaknya meninggal juga belum bisa disampaikan,’’ kata Samsi.
Samsi menyebut korban sebelumnya dikenal memiliki perilaku cukup bandel sejak kecil.
Namun dalam tiga tahun terakhir mulai menunjukkan perubahan setelah tinggal bersama keluarga asuh.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, korban bersama Rifai Kurnia Putra meracik petasan yang rencananya akan diterbangkan bersama balon udara.
Diduga saat proses peracikan bahan peledak, korban bercanda mendekatkan rokok ke bubuk petasan hingga memicu ledakan.
’’Infonya awalnya niat bercanda dengan mendekatkan rokok, ternyata langsung meledak,’’ tandasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto