Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Perjuangan Berat Mebesarkan Nama Persepon Ponorogo

Hengky Ristanto • Senin, 17 Oktober 2022 | 02:00 WIB
LASKAR WAROK SUROMENGGOLO: Skuad Persepon Ponorogo musim 2022/2023. (AJI PUTRA/RADAR PONOROGO)
LASKAR WAROK SUROMENGGOLO: Skuad Persepon Ponorogo musim 2022/2023. (AJI PUTRA/RADAR PONOROGO)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Jangan bicara prestasi jika tak ada dukungan dari semua pihak. Apalagi tanpa ada support anggaran, kebesaran klub sepak bola di daerah hanya menjadi mimpi di siang bolong belaka.


Persoalan ini merembet ke berbagai lini hingga menyumbat jalannya pembibitan. Jangan heran, jika kini mencari talenta pemain lokal sesulit menemukan jarum di tumpukan jerami.


Tugas berat itu sekarang diwariskan pada generasi muda yang duduk di kepengurusan PSSI Ponorogo dan manajemen Persepon. Rizal Akbar yang baru dilantik menjadi Askab PSSI Ponorogo April lalu ketiban sampur.


Dia dihadapkan pada persoalan menggunung yang bikin Persepon meredup 14 tahun lamanya. ‘’Faktornya kami lihat historikalnya. Pas moncer itu seluruh pihak bersinergi dengan baik mulai klub, pemkab, dan support lainnya,’’ kata Rizal.


Pada masa jaya, Persepon berhasil melahirkan pemain sekelas Dian Agus yang tembus menjadi kiper timnas. Setahun berselang (2006), Persepon lolos 10 besar Piala Pakde Karwo. Persepon berada di grup neraka bersama Persebaya, Arema, dan Diklat Mandau. Prestasi membanggakan kembali terulang di tahun berikutnya.


Persepon lolos di putaran kedua Liga 3 Jatim, butuh selangkah lagi masuk ke peringkat nasional di putaran ketiga. Tahun berikutnya kejayaan itu kian surut dan meredup, hingga 14 tahun lamanya. Barulah tahun lalu, Persepon mulai bangkit dan lolos 16 besar Liga 3 Jatim.


Rizal menyebut persoalan prestasi tak lepas dari anggaran. Hingga kini, anggaran untuk persiapan Liga 3 masih gelap. Pihaknya hanya mengandalkan sponsorship untuk operasional klub.


Sementara itu, Persepon ditarget minimal lolos ke delapan besar. ‘’Anggaran masuk ke askab sudah terealisasi untuk Porprov Rp 300-an juta, untuk Persepon belum. Kami mengandalkan sponsorship,’’ ujarnya.


Rizal blak-blakan harus merogoh kocek pribadinya ratusan juta untuk menambal problem keuangan klub. Pengeluaran semakin berjibun lantaran Persepon terpaksa harus merekrut tim dari luar daerah. Rizal mengaku sulitnya mencari bibit lokal yang layak ikut kompetisi sekelas Liga 3 Jatim.


‘’Kami memahami bahwa pemain lokal belum siap. Maka problem ini kami pecahkan tahun ini, kami lakukan pembinaan atlet dan menggelar kompetisi internal untuk mencari bibit,’’ ungkapnya.


Nyaris 90 persen materi pemain berasal dari daerah. Dari total 25 pemain, 19 diantaranya merupakan pemain impor daerah lain. Mulai Magetan, Nganjuk, Jepara, Jember, hingga Surabaya. Manajer Persepon Arif Budianto menegaskan pemain lokal pantang dianaktirikan. Mereka tetap mendapat porsi sama sesuai posisinya.


‘’Ini kami merekrut pemain dari luar kota yang kualitasnya di atasnya pemain lokal. Tapi kami tidak menganaktirikan pemain lokal, di beberapa posisi utama itu ada pemain lokalnya,’’ kata Arif. (kid)

Editor : Hengky Ristanto
#Askab PSSI Ponorogo #persepon ponorogo #Asprov PSSI Jatim #liga 3 jatim #ponorogo