Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Underdogs Story: PSM Madiun dan Luton Town, Dua Tim Kasta Bawah yang Tak Kenal Kata Menyerah

Mizan Ahsani • Kamis, 18 Januari 2024 | 20:00 WIB

 

ILUSTRASI: Logo Luton Town dan PSM Madiun
ILUSTRASI: Logo Luton Town dan PSM Madiun

Jawa Pos Radar Madiun - Menyambut babak 16 besar Liga 3 Jatim yang akan bergulir sore ini (18/1), PSM (Perserikatan Sepak Bola Madiun) boleh meniru semangat Luton Town.

Sedekade lalu, Luton Town bermain di kasta kelima. Di musim 2023/2024, mereka tampil di Liga Primer Inggris (EPL), kompetisi kasta tertinggi di Inggris sekaligus yang paling bergengsi di dunia.

Sebuah pencapaian yang pada satu dekade lalu hanya menjadi impian bagi para pendukungnya. Begitu pula PSM. Bukan tak mungkin Madiun berlaga di Liga 1 dalam beberapa tahun ke depan.

Melukis Mimpi dari Berdfordshire

Sabtu malam, 30 September 2023. Hujan mengguyur Goodison Park ketika Manajer Luton Town Rob Edwards berlari ke arah para pemainnya di lapangan.

Di laga itu, Luton Town meraih kemenangan perdananya di EPL musim ini. Mengandaskan tim tuan rumah Everton lewat skor 1-2.

Duduk di tribun away, para pendukung The Hatters -julukan Luton Town- saling berangkulan satu sama lain. Bernyanyi kencang. Melawan derasnya suara hujan yang membasahi Kota Liverpool.

Tak pernah terbayangkan oleh para fans bahwa tim yang mereka dukung berhasil menaklukkan Everton di Goodison Park, stadion yang bahkan dianggap angker oleh banyak tim besar di EPL.

Namun jauh sebelum kesuksesan itu terukir, Luton Town menjalani nasib yang kurang lebih sama dengan PSM, tim yang home base-nya berjarak 12 ribuan kilometer dari mereka.

PSM beberapa tahun yang lalu bagai hidup segan mati tak mau. Terbelit masalah finansial, serta kesulitan bermain di kompetisi profesional.

Pun demikian dengan Luton Town. Stadion Kenilworth Road, markas Luton Town di Kota Berdfordshire, bahkan hanya berkapasitas 10 ribu orang.

Satu dekade lalu mereka bermain di Vanarama National League (kompetisi kasta kelima). Sebelumnya bahkan sempat mendapat pengurangan poin akibat masalah finansial.

Keajaiban baru tercipta di tiga laga terakhir mereka di musim 2013/2014. The Hatters merengkuh tiket promosi ke League Two (kompetisi kasta keempat).

Di tengah kondisi finansial yang tak cukup baik, Luton Town terus mencoba bertahan agar tak kembali degradasi ke kasta kelima.

Pelan tapi pasti, performa membaik. Perubahan itu mulai terlihat setelah Nathan Jones didapuk sebagai manajer menggantikan John Still di musim 2015/2016.

Nathan Jones terus memperbaiki peringkat akhir Luton Town. Dari peringkat 11 (musim 2015/2016), ke peringkat empat (musim 2016/2017), lalu ke peringkat dua (musim 2017/2018).

Berkat capaian finish sebagai runner-up, The Hatters berhak atas satu tiket ke League One (kasta ketiga).

Dari sini, The Hatters mulai berani bermimpi lebih tinggi. Tak sekadar mimpi, para pemain dan pendukung mencoba mewujudkan mimpi tersebut.

Hanya dalam satu musim, Luton Town kembali merengkuh tiket promosi ke Skybet Championship (kasta kedua liga Inggris) setelah menjuarai League One.

Empat musim mengarungi kasta kedua, Luton Town merengkuh tiket promosi ke EPL melalui jalur play-off setelah menang 6-5 melawan Coventry City dalam drama adu penalti.

Kali ini, The Hatters ditukangi Rob Edwards, pelatih muda yang baru bergabung dari musim 2022/2023.

Impian dari Berdfordshire akhirnya terwujud. Luton Town promosi ke EPL yang bergelimang bintang dan kejayaan.

"Kami menganggap setiap pertandingan selalu menyajikan peluang yang sama untuk kedua tim," kata Rob Edwards, dalam sebuah kesempatan, dikutip dari situs resmi Luton Town.

"Tekanan untuk menang tidak hanya pada kami, tapi untuk lawan. Jadi kenapa tidak menikmatinya saja," sambungnya.

Dalam sepak bola, tidak ada yang tidak mungkin selama bola masih bergulir dan peluit akhir belum ditiup sang wasit. Kesempatan untuk menang dimiliki dua tim yang bermain.

Hal itu dipahami betul oleh Pelatih PSM Kodari Amir. Sama seperti Rob Edwards, berharap para pemainnya selalu bermain lepas di setiap pertandingan Liga 3 musim ini.

"Mudah-mudahan para pemain bisa bermain lepas dan tidak over confidence," ujar Coach Amir, Rabu (17/1).

PSM bermain di kompetisi level tertinggi Indonesia? Mungkin saat ini hanya mimpi. Dan tampak mustahil. Tapi dengan kerja keras, mimpi itu bisa saja menjadi nyata.

Sebagai satu dari tujuh tim pendiri PSSI, Laskar Banteng Wilis -julukan PSM- pantas untuk berlaga di level tertinggi. Mari bermimpi! (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#Luton Town #liga 3 jatim #madiun #Inggris #psm