Jawa Pos Radar Madiun - Nama Serhou Guirassy kini menjadi perbincangan di kancah Liga Champions UEFA 2024/2025.
Striker Borussia Dortmund itu tampil luar biasa, mencetak 10 gol dan bersaing ketat dengan Raphinha (Barcelona) serta Harry Kane (Bayern Munchen) dalam perebutan gelar top skor kompetisi.
Namun, perjalanan Guirassy untuk mencapai level ini tidaklah mudah.
Pemain asal Guinea itu pernah mengalami degradasi di Jerman dan Prancis, berpindah-pindah klub tanpa benar-benar bersinar, hingga akhirnya menemukan bentuk terbaiknya di Bundesliga.
Kini, di Dortmund, ia menjelma sebagai salah satu striker paling mematikan di Eropa.
Karier Awal: Dari Laval ke Lille, Hanya Jadi Pemain Cadangan
Guirassy memulai kariernya di klub kasta kedua Prancis, Laval, pada musim 2014/2015.
Ia tampil cukup impresif dengan mencetak 6 gol dalam 29 pertandingan, hingga akhirnya direkrut Lille dengan transfer sekitar €1 juta.
Saat itu, ia masih menjadi pemain muda berbakat, bahkan sempat memperkuat timnas Prancis U-19.
Sayangnya, kariernya di Lille tidak berjalan sesuai harapan.
Ia hanya tiga kali tampil sebagai starter sebelum dipinjamkan ke Auxerre pada Januari 2016. Bersama klub kasta kedua itu, Guirassy mulai menemukan ketajamannya dengan mencetak 8 gol dalam 16 pertandingan.
Namun, meski tampil cukup baik, Lille tetap melepaskannya pada akhir musim.
Hijrah ke Bundesliga: Cedera dan Degradasi di Cologne
Setelah dilepas Lille, Guirassy mencoba peruntungan di Jerman dengan bergabung bersama Cologne pada 2016.
Transfernya sempat dipermasalahkan karena ada kendala dalam tes medis, namun akhirnya diselesaikan dengan nilai €4 juta.
Sayangnya, masa-masa di Cologne diwarnai cedera berkepanjangan. Dalam dua musim pertamanya, ia hanya tampil 21 kali dan mencetak 4 gol.
Musim berikutnya, Cologne justru terdegradasi ke Bundesliga 2, semakin membuat karier Guirassy terlihat suram.
Dengan kondisi tersebut, Guirassy memutuskan kembali ke Prancis dengan bergabung ke Amiens pada 2018, awalnya dengan status pinjaman.
Bangkit di Amiens, Tolak Chelsea demi Rennes
Guirassy tampil cukup baik bersama Amiens, mencetak 9 gol di musim 2019/2020.
Ia sempat menjadi incaran beberapa klub Inggris, termasuk West Ham, Leicester, hingga Chelsea. Namun, ia memilih untuk bergabung ke Rennes pada 2020 karena ingin jaminan bermain secara reguler.
Bersama Rennes, Guirassy akhirnya menemukan stabilitas.
Ia mencetak 25 gol dalam dua musim, menunjukkan bahwa ia masih bisa bersaing di level tertinggi. Namun, panggilan dari Bundesliga kembali datang.
Ledakan di Stuttgart: 28 Gol dalam Semusim
Pada 2022, Guirassy kembali ke Jerman dengan status pinjaman ke VfB Stuttgart.
Keputusan ini terbukti tepat, karena ia langsung tampil gemilang dengan 14 gol, termasuk gol krusial yang menyelamatkan Stuttgart dari degradasi.
Stuttgart pun langsung menjadikannya pemain permanen dengan tebusan €9 juta.
Musim berikutnya, Guirassy benar-benar meledak. Ia mencetak 28 gol dalam 28 pertandingan Bundesliga, hanya kalah dari Harry Kane (36 gol) dalam perebutan gelar top skor Bundesliga.
Bahkan, tanpa kehadiran Kane, Guirassy bisa saja memenangkan Sepatu Emas Eropa karena rasio golnya yang sangat tinggi. Dengan performa ini, ia mulai dilirik oleh klub-klub top Eropa.
Borussia Dortmund dan Panggung Liga Champions
Setelah musim luar biasa di Stuttgart, Borussia Dortmund menebus klausul pelepasannya sebesar €17,5 juta pada 2024.
Awalnya, ia sempat mengalami cedera, tetapi begitu pulih, ia langsung membuktikan kelasnya.
Sejauh ini, Guirassy telah mencetak 24 gol dalam 34 pertandingan di semua kompetisi, termasuk 10 gol di Liga Champions.
Ini menjadikannya debutan paling berbahaya di Liga Champions musim ini, mengungguli banyak striker top lainnya.
Komentar Guirassy: “Saya Tidak Terkejut”
Meskipun banyak yang terkejut dengan penampilannya, Guirassy justru menganggap ini adalah hasil dari kepercayaan diri dan kerja kerasnya.
"Saya mengerti bahwa penampilan saya mungkin mengejutkan sebagian orang, tetapi saya tidak terkejut," ujarnya kepada BBC Sport.
"Saya mengalami dua musim yang gila, tetapi saya tidak mengubah apa pun. Saya tidak bekerja lebih banyak, saya tidak tidur lebih banyak, saya tidak melakukan lebih banyak analisis video. Ini hanya masalah kepercayaan diri."
Menurutnya, keberhasilannya di level tertinggi bukan hanya karena bakat, tetapi juga mentalitas dan ketahanan dalam menghadapi tantangan.
Masa Depan: Bertahan di Dortmund atau Premier League?
Dengan performa luar biasa di Liga Champions, Guirassy kini menjadi incaran klub-klub top Premier League, termasuk Manchester United dan Newcastle United.
Namun, Dortmund tentu tidak ingin kehilangan striker tajam mereka, terutama jika mereka berhasil melangkah jauh di Liga Champions musim ini.
Akankah Guirassy melanjutkan perjalanannya di Jerman, atau akhirnya mencoba peruntungan di Inggris? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. (BBC Sports/ota)
Editor : Mizan Ahsani