Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kisah Inspiratif Raphinha: Ingat Selalu Pesan Ibunda, Dulu Nyaris Menyerah Kini Kandidat Ballon d'Or

Ockta Prana Lagawira • Selasa, 18 Maret 2025 | 03:54 WIB
Kapten Barcelona Raphinha sekarang dalam top perform.
Kapten Barcelona Raphinha sekarang dalam top perform.

Jawa Pos Radar Madiun - Pada ulang tahunnya yang ke-18, Raphinha duduk di kamarnya yang sempit di Florianopolis, Brasil.

Ia menatap ponselnya, namun tak ada pesan masuk, tak ada panggilan, tak ada tawaran bermain sepak bola.

Cedera membuatnya tersingkir dari tim U-20 Avai, klub tempatnya bernaung saat itu.

Sepak bola, yang selama ini menjadi jalan keluar dari kehidupan keras di favela Porto Alegre, kini terasa seperti jalan buntu.

Seperti dilaporkan BBC Sports, mimpi yang ia genggam sejak kecil mulai pudar.

Untuk pertama kalinya meski bukan yang terakhir, Raphinha bertanya-tanya apakah ia telah mengejar sesuatu yang tak ditakdirkan untuknya.

Namun, di saat putus asa, suara ibunya membangunkannya.

"Jika kamu menyerah sekarang, kamu akan menyesal seumur hidupmu. Apakah kamu siap untuk itu?"

Kata-kata itu menjadi titik balik bagi Raphinha.

Bertahun-tahun kemudian, ia bukan hanya berhasil keluar dari keterpurukan, tetapi juga menjadi sosok penting dalam kebangkitan Barcelona.

Gol-golnya membawa tim Catalan melaju di Liga Champions, membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan bisa mengubah nasib.

Dari Favela ke Panggung Eropa

Raphinha lahir dan besar di lingkungan kumuh Restinga, Porto Alegre.

Hidup dalam kemiskinan, ia menyaksikan banyak teman berbakatnya terjerumus ke jalan yang salah.

Baginya, sepak bola bukan sekadar hobi, melainkan satu-satunya jalan keluar.

Dengan dukungan penuh dari keluarga, terutama ibunya dan pamannya, ia terus berusaha meski mengalami berbagai hambatan.

Penolakan datang bertubi-tubi. Klub-klub seperti Internacional dan Gremio menolaknya karena tubuhnya dianggap terlalu kurus untuk bersaing di level profesional.

Namun, kegagalan itu justru membakar semangatnya.

Akhirnya, ia mendapat kesempatan di Avai, klub yang memberi dasar ketahanan fisik sebelum akhirnya mengalami cedera serius yang hampir menghancurkan kariernya sebelum dimulai.

Momen krusial datang ketika ibunya kembali menegaskan, menyerah bukanlah pilihan.

Dari titik itu, Raphinha mengubah cara pandangnya terhadap sepak bola. Ia mulai melihatnya bukan hanya sebagai passion, tetapi juga sebagai satu-satunya jalan untuk mengubah hidup.

Baca Juga: 20 Ucapan Menarik Selamat Idul Fitri 2025, Apa Makna dari Happy Eid Mubarak?

Panggilan dari Eropa dan Perjalanan Menuju Puncak

Tak seperti banyak bintang Brasil yang melejit di klub-klub besar negaranya sebelum hijrah ke Eropa, Raphinha memulai kariernya dari bawah.

Ia berangkat ke Portugal dan membangun reputasi bersama Vitória Guimarães dan Sporting CP.

Bakatnya menarik perhatian Rennes di Prancis, di mana ia membuktikan dirinya sebagai pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan.

Namun, titik balik kariernya datang saat Marcelo Bielsa membawanya ke Leeds United.

Bersama pelatih asal Argentina itu, Raphinha belajar disiplin taktik yang ketat, meningkatkan daya tahan fisiknya, dan memahami pentingnya pergerakan tanpa bola.

Perkembangannya begitu pesat hingga Barcelona tertarik merekrutnya dengan mahar £50 juta pada tahun 2022.

Perjuangan di Barcelona dan Kebangkitan Bersama Hansi Flick

Di Barcelona, perjalanan Raphinha tidak berjalan mulus. Awalnya, di bawah kepelatihan Xavi, ia lebih sering menjadi pemain pelapis ketimbang starter.

Dengan kehadiran Lamine Yamal sebagai bintang muda yang mencuri perhatian, posisi Raphinha semakin terancam.

Bahkan, pada musim panas lalu, Barcelona hampir menjualnya demi mendatangkan Nico Williams dari Athletic Bilbao.

“Banyak momen di mana saya mempertimbangkan untuk pergi,” akunya.

"Saya punya kebiasaan buruk mengkritik diri sendiri dengan keras, jadi tekanan itu membuat saya berpikir untuk keluar."

Namun, segalanya berubah ketika Hansi Flick datang menggantikan Xavi.

Pelatih asal Jerman itu memberinya peran lebih besar dalam tim dan membiarkannya bermain dengan penuh percaya diri.

Kini, Raphinha menjadi pemain yang lebih tajam, efisien, dan tenang di depan gawang.

Statistiknya pun berbicara: ia mencetak 26 gol dan 19 assist dalam 40 pertandingan musim ini, termasuk menjadi pencetak gol di setiap laga Liga Champions yang dimainkannya.

Tak hanya itu, ia juga terpilih sebagai salah satu kapten tim, menjadi suara yang disegani di ruang ganti.

Bahkan, Lamine Yamal, yang digadang-gadang sebagai bintang masa depan Barcelona, secara terbuka menyebut Raphinha sebagai mentornya.

Dari Hampir Menyerah ke Kandidat Ballon d'Or

Kini, Raphinha bukan hanya sekadar pemain yang berjuang mempertahankan tempatnya di skuad Barcelona.

Ia adalah sosok pemimpin, pemain yang telah mengubah dirinya dari anak favela yang hampir menyerah menjadi salah satu winger terbaik di dunia.

Jika Barcelona melaju jauh di Liga Champions, tak ada yang bisa meragukan bahwa ia layak diperhitungkan dalam perburuan Ballon d'Or.

Keberhasilannya bukan hanya soal bakat, tetapi juga tentang mentalitas dan ketekunan.

Ia tahu betapa sulitnya mencapai posisi ini, dan lebih dari itu, ia tahu bahwa mempertahankannya adalah tantangan yang lebih besar.

Dengan dedikasi tinggi, Raphinha kini berdiri di puncak kariernya dan ia tidak akan membiarkan siapa pun atau apa pun menjatuhkannya kembali. (ota)

Editor : Mizan Ahsani
#kisah #barcelona #Raphinha #inspiratif