Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kisah Lahirnya PSSI: Dibentuk karena Dihina, Diusung Klub-klub Legendaris Sejak Era Belanda! PSM Madiun dan PPSM Nasibnya Tak Semujur Koleganya

Ockta Prana Lagawira • Sabtu, 19 April 2025 | 19:55 WIB
Para pengurus PSSI periode pertama. IR Soeratin (duduk tengah) ditunjuk jadi ketua umum PSSI yang pertama.
Para pengurus PSSI periode pertama. IR Soeratin (duduk tengah) ditunjuk jadi ketua umum PSSI yang pertama.

Jawa Pos Radar Madiun – PSSI genap berusia 95 tahun pada 19 April 2025. Namun, tak banyak yang tahu bahwa kelahiran organisasi sepak bola tertinggi di Indonesia ini tak hanya soal olahraga.

Ia lahir dari penghinaan kolonial, dipelopori oleh semangat nasionalisme klub-klub pribumi seperti VIJ (kini Persija Jakarta), SIVB (Persebaya), hingga PSIM Jogja.

PSSI atau Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia pertama kali dideklarasikan pada 19 April 1930 di Gedung Societeit Hande Projo, Yogyakarta.

Namun jalan menuju lahirnya PSSI begitu panjang, penuh penolakan, dan bahkan pelecehan dari penguasa sepak bola Hindia Belanda saat itu.

Sebelum PSSI, Ada IVB dan Sumpah Pemuda

Jauh sebelum PSSI lahir, tepatnya tahun 1927, telah berdiri IVB (Indonesische Voetbal Bond) yang juga mewadahi klub-klub pribumi. Namun sayangnya, IVB tak bertahan lama.

Kedekatan dengan NIVB (bond milik Belanda) membuat IVB dianggap melenceng dari semangat kebangsaan. Puncaknya, IVB dibubarkan pada 30 April 1930.

Sementara itu, semangat Sumpah Pemuda tahun 1928 ikut membakar perjuangan dari lapangan hijau. Misalnya, berdirinya VIJ (cikal bakal Persija Jakarta) pada 28 November 1928 tak lepas dari pengaruh semangat persatuan.

Momen Penghinaan yang Mengubah Sejarah

Pada Maret 1930, para pecinta bola di Jogja hendak menggelar kejuaraan antarklub melalui panitia kecil bernama panitia voetbalwedstrijden.

Namun, klub-klub yang diundang menolak karena harus izin ke NIVB. Jawaban NIVB sangat menyakitkan dan rasis:

"Tidak bisa, anggota NIVB dilarang bermain dengan perkumpulan sepakbola inlander yang belum teratur baik."

Penghinaan itu memicu kemarahan. Para tokoh seperti Soeratin Sosrosoegondo, Daslam Hadiwasito, dan Anwar Noto langsung menyusun langkah untuk membentuk organisasi baru yang lebih nasionalis.

Pertemuan Bersejarah di Yogyakarta

Pada 10–11 April 1930, digelar rapat awal bersama klub-klub dari Jogja. Mereka lalu menetapkan konferensi besar pada 19 April 1930 yang akhirnya melahirkan PSSI.

Rapat ini dihadiri 17 tokoh dari tujuh bond besar: VIJ Jakarta, BIVB Bandung, SIVB Surabaya, IVBM Magelang, MVB Madiun, VVB Solo, dan PSM Jogja.
Tokoh-tokoh penting yang hadir antara lain:

• Ir. Soeratin Sosrosoegondo (kemudian jadi ketua umum pertama),
• M. Daslam Adiwasito,
• H. A. Hamid,
• R. Moh. Amin, dan
• E.A. Mangindaan, yang kelak menjadi pelatih Timnas pada 1966–1970.

Dari rapat tersebut, disepakati nama organisasi baru: PSSI, yang dipilih dari tiga opsi nama yakni INVB, PVBI, dan PSSI. Nama itu diusulkan oleh wakil dari Solo, Soetarman.

PSSI, Simbol Perlawanan Pribumi

PSSI berdiri bukan hanya sebagai organisasi olahraga, tetapi simbol perlawanan dan kebangkitan nasional di masa penjajahan.

Bahkan, Belanda dibuat gusar karena kehadiran PSSI mengganggu dominasi NIVB.

Soeratin, lulusan teknik sipil dari Jerman, berani membawa sepak bola sebagai alat perjuangan. Ia menyatukan klub-klub yang tersebar di Jawa dan memperkuat ikatan kebangsaan lewat pertandingan bola.

Anggota PSSI Terus Bertambah

Tujuh tahun setelah berdiri, tepatnya pada 1937, jumlah anggota PSSI telah mencapai 18 bond, mayoritas berasal dari Jawa Tengah.

Meski sempat terjadi konflik—seperti keluarnya PSIM Mataram—PSSI tetap berkembang dan merangkul klub-klub baru, bahkan setelah Indonesia merdeka.

Di tahun 1960-an, nama-nama seperti Persekap Pasuruan, Persipro Probolinggo, Persema Malang, dan Persibo Bojonegoro mulai bergabung. PSM Makassar, Persiba Balikpapan, hingga klub dari Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara pun masuk keanggotaan PSSI.

Tujuh Klub Pendiri PSSI Kini

Dari tujuh klub pendiri PSSI, beberapa masih bertahan di kasta tertinggi Liga 1:
• VIJ (Persija Jakarta)
• BIVB (Persib Bandung)
• SIVB (Persebaya Surabaya)
• VVB (Persis Solo)
• IVBM (PPSM Magelang)
• MVB (PSM Madiun)
• PSM Jogja (PSIM Yogyakarta)

Namun hanya Persija, Persib, Persis, dan Persebaya yang kini aktif di Liga 1. PSIM juga naik kasta ke Liga 1. Sementara klub legendaris seperti PSM Madiun harus rela turun hingga Liga 4. Sama dan sebangun dengan PPSM Magelang yang sudah lebih dulu di Liga 4. (*)

Editor : Ockta Prana Lagawira
#NIVB #VIJ Jacatra #mvb #psim #sejarah #SIVB #psm madiun #persib #Persebaya #pssi #persija #ppsm magelang #persis