Jawa Pos Radar Madiun - Flare sering kali dilihat sebagai bagian dari atmosfer laga sepak bola.
Namun, tak banyak yang memahami apa itu flare dan fungsi utamanya. Padahal, flare bukan sekadar alat pertunjukan visual di stadion.
Dalam konteks aslinya, flare adalah alat isyarat darurat yang digunakan dalam pelayaran, pendakian gunung, atau situasi kritis di lokasi terpencil.
Flare menghasilkan cahaya terang, suara, atau asap yang dapat dilihat dari jarak jauh, berguna untuk menandai posisi atau meminta pertolongan.
Tetapi flare yang sama bisa menimbulkan bahaya kebakaran, paparan asap beracun, bahkan cedera fisik bila digunakan sembarangan.
Jenis dan Cara Kerja Flare
Secara teknis, flare terdiri dari tabung berisi bahan kimia mudah terbakar seperti fosfor putih atau senyawa piroteknik.
Setelah diaktifkan, flare membakar bahan bakar tersebut untuk menghasilkan cahaya yang menyala terang atau asap pekat.
Ada flare darat, laut, dan udara, dengan fungsi yang berbeda, tetapi prinsip kerjanya sama: menarik perhatian dalam keadaan darurat.
Sayangnya, belakangan ini flare kerap digunakan di luar konteksnya, termasuk oleh suporter sepak bola.
Risiko dan Cara Aman Menggunakan Flare
Flare tidak dirancang untuk hiburan. Risiko penggunaannya sangat tinggi, seperti:
• Luka bakar akibat suhu tinggi
• Gangguan pernapasan akibat asap pekat
• Potensi kebakaran di stadion atau ruang publik
Oleh karena itu, flare harus digunakan dengan hati-hati dan sesuai aturan. Berikut beberapa tips penggunaan aman:
• Jangan nyalakan flare di dalam ruangan
• Hindari penggunaan dekat bahan mudah terbakar
• Arahkan flare menjauh dari tubuh dan orang lain
• Jangan gunakan flare yang kedaluwarsa
Kasus Flare di Sepak Bola: PSS Sleman Sempat Kena Denda Rp200 Juta
Contoh penyalahgunaan flare terbaru datang dari laga PSS Sleman vs PSM Makassar dan PSS vs Persija Jakarta. Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan denda Rp200 juta kepada PSS karena suporter menyalakan flare di Stadion Maguwoharjo.
Melanggar Pasal 70 ayat 1 dan 2 Kode Disiplin PSSI 2023, insiden ini menjadi sorotan nasional.
Pihak panitia pelaksana bahkan telah mengimbau suporter agar tidak mengulanginya di laga melawan Persija Jakarta, Sabtu (17/5/2025).
Namun, kenyataannya berbeda. Flare kembali dinyalakan secara masif di tribune stadion. Bahkan pada menit ke-71, lemparan bom asap dari tribune PSS melukai lengan kiri asisten wasit.
Laga sempat dihentikan dua kali, dan asap tebal menutupi lapangan hingga menit ke-84. Pemain bahkan diminta keluar untuk menghindari paparan asap.
Sanksi Lebih Berat Bisa Mengancam
PSSI menegaskan bahwa pelanggaran berulang akan dikenakan sanksi lebih berat. Bila insiden flare terus terjadi, bukan tidak mungkin PSS Sleman akan mendapat sanksi lebih berat.
Penggunaan flare yang tak terkendali bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga membahayakan keselamatan pemain, ofisial, hingga suporter sendiri.(ota)
Editor : Ockta Prana Lagawira