Jawa Pos Radar Madiun - Persija Jakarta kembali gagal memenuhi ekspektasi di Liga 1 musim 2024/2025.
Tim berjuluk Macan Kemayoran hanya finis di peringkat ke-7 klasemen akhir dengan 51 poin, terpaut tiga posisi dari target empat besar yang dicanangkan manajemen.
Musim ini, Persija hanya naik satu peringkat dari musim lalu yang berakhir di posisi kedelapan dengan raihan 48 poin.
Ricky Nelson, yang dipercaya mendampingi Persija sebagai caretaker selama musim berlangsung, akhirnya buka suara terkait tiga faktor utama yang menyebabkan kegagalan ini.
1. Stadion Kandang Tak Konsisten, JIS Hanya Dipakai 6 Kali
Masalah pertama yang dianggap krusial adalah soal kandang Persija yang berpindah-pindah.
Ricky Nelson menekankan pentingnya konsistensi lokasi pertandingan kandang, karena hal itu berpengaruh besar pada performa tim.
"Bayangkan kita hanya enam kali main di JIS. Kalau di JIS, permainan selalu intens, tekanan bagus, dan hasilnya juga hampir sempurna," ujarnya.
Dari enam laga di Jakarta International Stadium (JIS), Persija mencatat lima kemenangan dan satu hasil imbang. Sebaliknya, 11 laga kandang lainnya tersebar di lima stadion berbeda, yakni:
• Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK)
• Stadion Patriot Candrabhaga
• Stadion Pakansari
• Stadion Sultan Agung Bantul
• Indomilk Arena Tangerang
Ketidakstabilan lokasi ini dinilai mengganggu kenyamanan dan kesiapan pemain saat menjalani laga kandang.
2. Adaptasi Taktik Gagal Pasca Ganti Pelatih
Masalah kedua menurut Ricky adalah proses transisi pelatih yang belum optimal. Musim ini, Persija dilatih Carlos Pena yang menggantikan Thomas Doll.
“Perpindahan pelatih pasti mengubah gaya permainan. Putaran pertama kita bagus, tapi lawan berubah di putaran kedua, dan kita kurang siap,” kata Ricky.
Pada paruh musim pertama, Persija sempat meraih posisi kedua klasemen sementara.
Namun performa menurun drastis di putaran kedua, seiring dengan lawan yang sudah mampu membaca pola permainan Macan Kemayoran.
3. Badai Cedera Pemain Kunci Ganggu Performa
Persoalan ketiga yang menghantam Persija adalah cedera pemain inti.
Dalam beberapa laga terakhir saja, tiga nama penting yakni Syahrian Abimanyu, Ondrej Kudela, dan Muhammad Ferarri mengalami masalah kebugaran.
Cedera ini membuat lini tengah dan belakang Persija kehilangan kekuatan utama, yang berimbas pada penurunan performa tim secara keseluruhan.
Persija Dituntut Evaluasi Menyeluruh Jelang Musim Baru
Dengan tiga masalah utama yang mengemuka, Persija Jakarta perlu melakukan evaluasi besar-besaran jika ingin kembali ke papan atas Liga 1 pada musim depan.
Konsistensi stadion, adaptasi pelatih, dan manajemen kebugaran pemain jadi tiga fokus utama yang harus dibenahi. (ota)
Editor : Ockta Prana Lagawira