Jawa Pos Radar Madiun – Pemandangan luar biasa terjadi di Ultra-Trail Snowdonia 2025, Inggris, ketika seorang ibu muda bernama Stephanie Case tak hanya menaklukkan medan berat sejauh 100 kilometer, tapi juga melakukannya sambil menyusui bayinya di tengah perlombaan.
Momen yang menyentuh ini terjadi pada 17 Mei 2025, dan sejak itu menjadi simbol kekuatan dan dedikasi perempuan modern.
Stephanie Case, pelari asal Kanada sekaligus pengacara hak asasi manusia di PBB, menyelesaikan Ultra-Trail Snowdonia 100K dengan waktu 16 jam 53 menit 22 detik, dan berhasil keluar sebagai juara pertama kategori wanita.
Namun, bukan semata kemenangan yang membuat dunia berdecak kagum—melainkan komitmennya untuk tetap menyusui putrinya, Pepper, di sejumlah titik selama perlombaan.
Di Tengah Lintasan Ekstrem, Tetap Jadi Ibu
Dalam lomba yang menempuh medan curam dan cuaca ekstrem khas kawasan pegunungan Wales, Stephanie tetap menyempatkan waktu untuk bertemu dengan suaminya, John Roberts, dan bayinya di dua titik logistik resmi: kilometer 20 dan kilometer 80.
Bahkan di kilometer 50, tempat bantuan dari luar tidak diizinkan, ia tetap menyusui Pepper dengan izin khusus dari panitia—dengan bantuan para relawan.
“Saya ingin menunjukkan kepada Pepper bahwa ibunya adalah pelari hebat. Meskipun berat berpisah dengannya di jalur, ini bukan sekadar lomba,” ujar Stephanie kepada ABC News.
Perjuangan dari Belakang Hingga Juara
Case memulai lomba tanpa ambisi besar. Di awal lomba, ia tertinggal 30 menit dari pelari elite, namun perlahan mengejar dan menunjukkan determinasi luar biasa.
Bukan hanya sebagai pelari, tapi juga sebagai seorang ibu yang belum genap enam bulan melahirkan.
Perjalanan menuju kemenangan ini juga tidak mudah. Sebelum kelahiran Pepper pada November 2024, Stephanie menjalani tiga tahun program kehamilan, termasuk keguguran dan kegagalan IVF.
Semua itu tidak membuatnya menyerah, dan justru menjadi bahan bakar semangatnya saat kembali ke dunia lari.
Simbol Kekuatan Perempuan Masa Kini
Kemenangan Stephanie Case bukan sekadar statistik lomba. Ia adalah simbol ketangguhan, dedikasi, dan keseimbangan antara karier, keluarga, dan mimpi pribadi.
Di tengah tekanan menjadi ibu baru, ia mampu berdiri di podium, sekaligus mengangkat suara untuk para perempuan yang ingin tetap aktif tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu.
Editor : Ockta Prana Lagawira