Jawa Pos Radar Madiun - Inter Milan diterpa badai skandal terbesar sejak Calciopoli yang menjerat Juventus.
Laporan yang dipublikasikan Foot Mercato dan disusun oleh seorang konsultan keuangan di London membongkar praktik manipulasi keuangan serius di tubuh Nerazzurri.
Salah satunya, dugaan penggunaan sponsor fiktif dari China untuk menutup defisit anggaran yang seharusnya menyebabkan degradasi dari Serie A.
Skandal ini menyeruak setelah kekalahan memalukan dari PSG di Liga Champions serta kabar hengkangnya pelatih Simone Inzaghi.
Publik Italia dihebohkan dengan dokumen rahasia yang mengungkap indikasi pelanggaran masif.
Mulai dari rekayasa pendapatan, campur tangan lembaga sepak bola nasional FIGC, hingga hubungan dengan kelompok ultras yang disebut-sebut punya kaitan dengan mafia.
Sponsor Fiktif dari China
Dalam dokumen yang dikutip Foot Mercato dari laporan Affaritaliani.it dan siaran investigatif RAI Report, disebutkan bahwa Grup Suning (pemilik Inter Milan sejak 2016) menciptakan aliran pendapatan senilai 297 juta euro dalam tiga tahun lewat jaringan sponsor regional asal China.
Namun, sebagian besar sponsor tersebut sulit dilacak eksistensinya, tidak memiliki kaitan dengan dunia olahraga, dan bahkan tidak mencantumkan laporan keuangan publik.
Disebutkan pula, sebagian besar dana, yakni sekitar 165 juta euro, berasal dari pihak ketiga yang dicurigai fiktif.
Sementara 131 juta euro lainnya berasal dari kontrak internal Grup Suning sendiri. Tujuannya menutupi defisit dan lolos dari sanksi UEFA terkait Financial Fair Play, yang sebelumnya sudah menjerat Inter tahun 2015.
Dugaan Intervensi FIGC dan Permainan Politik?
Lebih dari sekadar masalah sponsor, laporan tersebut juga menyoroti dugaan campur tangan langsung dari federasi sepak bola Italia (FIGC) untuk melindungi Inter dari ancaman degradasi.
Bahkan diklaim ada tekanan terhadap COVISOC (lembaga pengawas keuangan klub) agar tidak menindak Inter, meski laporan keuangan menunjukkan “modal negatif” yang seharusnya memicu proses likuidasi.
Skema ini disebut mirip dengan pola Calciopoli dan skandal Parmalat 2003.
Dalam kasus ini, Inter Milan disebut menerima “perlakuan khusus” berupa perubahan regulasi secara mendadak (ad hoc) dari FIGC.
Bayangan Mafia dan Peran Marotta
Yang lebih mengejutkan, Giuseppe Marotta, sang direktur Inter Milan, dikaitkan dengan dugaan pertemuan tertutup bersama tokoh-tokoh ultras, bahkan saat dirinya masih menjabat di Juventus.
Beberapa pertemuan disebut dilakukan di lokasi-lokasi privat tanpa dokumentasi, dan berpotensi memiliki keterkaitan dengan organisasi kriminal.
Meski tidak ada dakwaan hukum langsung, keterlibatan Marotta dalam “negosiasi damai” dengan kelompok tersebut dicatat dalam laporan.
Steven Zhang, sang presiden Inter, juga disorot. Ia disebut jarang hadir dalam proses strategis klub akibat tidak memiliki paspor valid, yang memicu kekhawatiran soal tata kelola klub.
Skandal Terbesar Sejak Calciopoli
Jika semua tuduhan dalam laporan ini terbukti benar, maka kasus Inter Milan berpotensi menjadi krisis paling besar dalam sejarah sepak bola Italia modern.
Bahkan lebih kompleks dibanding Calciopoli karena melibatkan aktor keuangan global, jaringan offshore, dan campur tangan institusi resmi.
Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, telah menyerukan audit transparan terhadap COVISOC dan meminta investigasi penuh terhadap semua dugaan pelanggaran yang dilaporkan. (naz)
Editor : Mizan Ahsani