Jawa Pos Radar Madiun – Setelah membawa Tottenham Hotspur meraih gelar Liga Europa pertama dalam sejarah klub, Ange Postecoglou justru harus angkat kaki.
Pria Australia berusia 59 tahun itu resmi dipecat pada Jumat (6/6), mengakhiri masa kepemimpinan yang penuh gejolak meski bersejarah.
Postecoglou sejatinya menepati janjinya. Sejak awal ia bertekad memberikan trofi di musim keduanya—dan benar, trofi itu datang dalam bentuk Liga Europa, usai kemenangan 1-0 atas Manchester United di final bulan lalu.
Namun seperti dikutip dari ESPN, dewan direksi Tottenham menilai harga yang harus dibayar terlalu mahal.
Dalam pernyataan resmi, klub mengakui performa Liga Primer mereka memburuk secara drastis.
“Setelah awal yang positif musim 2023–24, kami hanya mengumpulkan 78 poin dari 66 laga terakhir di Premier League. Itu berujung pada posisi ke-17 musim ini—terburuk sepanjang sejarah kami di era EPL,” tulis Tottenham.
Sebagai catatan, Spurs mencetak rekor negatif 22 kekalahan dalam satu musim—angka tertinggi untuk klub yang tidak terdegradasi.
Start Impresif, Tapi Retak Sejak Tengah Musim
Postecoglou datang ke Tottenham pada Juli 2023 dalam suasana tidak ideal. Di hari pertamanya, striker utama Harry Kane menyatakan ingin hengkang.
Kane akhirnya pindah ke Bayern Munich dengan mahar €120 juta sehari sebelum laga pembuka EPL.
Namun Tottenham tampil mengejutkan. Mereka tak terkalahkan dalam 10 laga awal dan memuncaki klasemen.
Postecoglou bahkan mencetak rekor sebagai manajer pertama yang memenangkan tiga gelar pelatih terbaik bulanan secara beruntun di awal musim.
Semangat "Angeball"—gaya menyerang total khas Postecoglou—membuat fans jatuh cinta.
Bahkan dalam kekalahan 1-4 dari Chelsea yang kacau (dua kartu merah, sembilan kali intervensi VAR, dan 21 menit injury time), para fans tetap memuji tim yang berani bermain terbuka meski hanya dengan sembilan pemain.
Di puncaknya, Daniel Levy selaku chairman Tottenham bahkan berkata dalam forum fans, “Tottenham kami telah kembali.”
Trofi Tak Selalu Menjamin Jabatan
Namun performa menurun drastis di paruh kedua musim. Tottenham hanya memenangkan dua dari tujuh laga terakhir dan gagal lolos ke Liga Champions.
Ironisnya, pada salah satu pertandingan terakhir melawan Manchester City, sebagian fans bahkan berharap Spurs kalah agar rival mereka, Arsenal, gagal juara liga.
Postecoglou kemudian menyebut fondasi klub “rapuh,” dan mengkritik mentalitas kalah yang menurutnya melekat di klub. “Saya ingin memperbaikinya, dengan cara saya,” ujarnya usai kekalahan dari Arsenal.
Ia percaya bahwa keberhasilan dimulai dari keyakinan diri klub untuk menjadi pemenang.
Namun berbagai sumber menyebut bahwa idealisme Postecoglou—terutama komitmennya pada sepak bola menyerang—mulai dianggap tidak sejalan dengan realitas Liga Inggris yang keras dan pragmatis.
Gaya bermainnya dinilai terlalu dogmatis, meski fans banyak yang tetap mengapresiasi prinsipnya.
Musim Berakhir, Serialnya Dihentikan
Pidato terakhir Postecoglou kepada fans di atas bus juara terdengar penuh harapan: “Dalam semua serial TV terbaik, musim ketiga selalu lebih baik dari musim kedua.” Tapi dewan direksi dan pemodal klub tampaknya tak sepakat. Mereka memilih untuk menyudahi cerita.
Kini, dengan trofi Eropa di tangan tapi posisi Liga Primer yang nyaris masuk zona degradasi, Tottenham kembali ke persimpangan jalan.
Siapa yang akan jadi pengganti Ange Postecoglou? Dan mampukah Spurs mempertahankan momentum Eropa tanpa harus mengorbankan posisi di liga domestik? (ota)
Editor : Ockta Prana Lagawira