Jawa Pos Radar Madiun – Malam panas di Hard Rock Stadium, Miami, menjadi panggung pembuka bagi Real Madrid di Grup H Piala Dunia Antarklub 2025.
Namun, bukan kemenangan yang datang dalam debut Xabi Alonso sebagai pelatih.
Madrid hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Al Hilal, dalam laga yang dipenuhi drama, pergantian pemain, dan debut emosional bagi beberapa nama, termasuk Gonzalo dan Trent Alexander Arnold.
Madrid datang dengan bayang-bayang krisis—Mbappe sakit, dua pemain penting absen.
Namun Gonzalo, striker muda dari akademi, menjawab kepercayaan dengan gol di menit ke-34.
Dalam balutan strategi yang masih mencari bentuk, Madrid menekan, mencoba mendominasi, tapi justru sering kalah dalam duel fisik dan intensitas lawan.
Al Hilal tidak datang sebagai pelengkap. Mereka tampil sebagai tim matang, dengan barisan pemain top Eropa: Ruben Neves, Milinkovic-Savic, Koulibaly, Lodi, hingga Bono di bawah mistar.
Justru klub Arab Saudi yang dilatih Simone Inzaghi eks pelatih Inter Milan itu yang terlihat lebih padu dan sabar dalam mengendalikan pertandingan.
Xabi Alonso harus segera menambal banyak celah.
Pemain-pemain seperti Trent belum benar-benar menyatu dalam ritme permainan.
Ketika Trent gagal menjaga sisi kiri, Lodi menghukumnya dengan menyisir bebas hingga nyaris mencetak gol, seolah ia sedang mengenakan seragam Atletico.
Marcos Leonardo kemudian membuat bek Madrid kehilangan konsentrasi, memaksa Asencio melakukan pelanggaran yang berujung penalti. Ruben Neves mengeksekusi dengan tenang, menyamakan skor menjelang turun minum.
Babak kedua menjadi panggung perbaikan. Güler masuk, Vinicius mulai mengancam, Arda Guler menggoyang mistar, dan Madrid pun lebih menyerang.
Tapi itu juga mengorbankan pertahanan. Valverde yang menjadi jangkar tidak mampu menjaga keseimbangan saat Madrid kehilangan bola.
Bahkan Trent terlihat kelelahan berat dan akhirnya ditarik keluar. Lucas Vazquez, yang sedianya akan diganti, malah harus bertahan di lapangan.
Saat energi mulai menipis, Madrid masih punya peluang untuk menang. Sebuah pelanggaran di menit akhir terhadap Fran García memberi harapan. VAR menunjuk titik putih.
Federico Valverde maju sebagai eksekutor, namun tendangannya lemah dan mudah ditepis Yassine Bounou, salah satu pahlawan Al Hilal malam itu.
Gonzalo, yang mencetak gol pertama Madrid di ajang ini, kembali hampir mencetak gol lewat sundulan.
Tapi upayanya gagal dan peluit panjang berbunyi. Madrid harus puas dengan satu poin.
Bagi Xabi Alonso, malam itu jadi pelajaran keras: menjadi pelatih Real Madrid bukan sekadar soal nama besar, tapi tentang menyatukan talenta, mentalitas, dan taktik dalam waktu cepat.
Gonzalo mendapat penghargaan pemain terbaik—wajar, melihat bagaimana ia berani tampil eksplosif di tengah tekanan. Tapi tim ini masih jauh dari kata solid.
Dari lini tengah yang belum stabil, pergantian pemain yang belum efisien, hingga penyelesaian akhir yang melempem, semua menunjukkan bahwa pekerjaan Alonso masih panjang.
Namun satu hal yang pasti, darah muda seperti Gonzalo memberi harapan bahwa transformasi ini punya pondasi yang kuat. (ota)
Editor : Ockta Prana Lagawira