Jawa Pos Radar Madiun - Gelandang timnas Spanyol, Martin Zubimendi, selangkah lagi akan resmi menjadi milik Arsenal.
Pemain milik Real Sociedad itu dikabarkan telah mendarat di London, Sabtu (21/6)
Ia dikabarkan telah melakukan finalisasi dan menjalani tes medis sebelum menandatangani kontrak jangka panjang bersama Meriam London.
Kabar kepindahan Zubimendi dikonfirmasi jurnalis transfer kenamaan, Fabrizio Romano, yang menyebut bahwa Arsenal dan Zubimendi telah mencapai kesepakatan pribadi.
Sang pemain tinggal menyelesaikan administrasi dan pemeriksaan medis sebelum pengumuman resmi dilakukan klub.
“Zubimendi telah menyelesaikan langkah resmi kepindahannya di London hari ini karena ia akan menjadi pemain Arsenal musim panas ini,” tulis Romano via akun X miliknya.
Arsenal Tebus Klausul Rp1,13 Triliun
Menurut laporan The Athletic, Arsenal akan membayar biaya transfer sebesar €64–65 juta (sekitar Rp1,13 triliun) kepada Real Sociedad.
Menariknya, pembayaran dilakukan secara cicilan mengingat hubungan baik antara kedua klub.
Zubimendi sendiri sudah lama masuk radar Mikel Arteta sejak Januari lalu.
Namun, transfer baru bisa terealisasi musim panas ini seiring berakhirnya kontrak dua gelandang veteran Arsenal, Jorginho dan Thomas Partey.
Mengapa Arteta Pilih Zubimendi?
Zubimendi bukan sekadar pengganti. Ia adalah representasi dari proyek rejuvenasi lini tengah Arsenal.
Pada usia 26 tahun, ia sedang berada di performa terbaik.
Arteta membutuhkan pemain yang bisa menjadi pivot tunggal tanpa harus terus-menerus dibantu oleh Odegaard atau Rice dalam fase build-up.
“Martin adalah pemain terbaik kedua di dunia (setelah Rodri),” puji pelatih Spanyol Luis de la Fuente.
Gaya bermain Zubimendi juga disebut-sebut menyerupai Sergio Busquets. Ia tenang, mampu membaca permainan, dan mahir mengatur tempo.
Musim lalu, menurut Opta, Zubimendi mencatat 238 umpan progresif yang memecah garis pertahanan lawan di La Liga—tertinggi keempat setelah tiga gelandang Real Madrid.
Transformasi Taktik Arsenal Dimulai
Dengan hadirnya Zubimendi, Arsenal akan lebih leluasa bermain dengan formasi fleksibel berbasis satu gelandang jangkar.
Ia bisa berdiri sendiri sebagai holding midfielder, memberi ruang Odegaard dan Rice untuk lebih fokus menyerang.
Dalam final UEFA Nations League 2025 melawan Portugal, Zubimendi menunjukkan faktor “X” yang jarang dimiliki gelandang bertahan: insting menyerang.
Ia bahkan mencetak gol pembuka lewat pergerakan masuk ke kotak penalti tanpa bola—gambaran dari apa yang dibutuhkan Arsenal musim depan.
“Martin selalu menawarkan solusi. Sebelum bola sampai, dia tahu apa yang akan dilakukan. Dia membuat pemain di sekitarnya lebih baik,” ujar Xabi Alonso, eks pelatih Zubimendi di Sociedad B.
(tif/naz)
Editor : Mizan Ahsani