Jawa Pos Radar Madiun – Wacana digelarnya kembali Piala Indonesia rupanya belum menemui titik terang.
Meski masyarakat pecinta sepak bola berharap ajang ini kembali hadir, Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan bahwa realisasinya tidak semudah membalik telapak tangan.
Dalam konferensi pers di Hotel Langham Jakarta, Senin (7/7), Erick mengaku sangat terbuka dengan ide penyelenggaraan kembali Piala Indonesia.
Kompetisi nasional itu terakhir digelar pada 2019.
Namun, menurutnya, ada sejumlah kendala struktural dan teknis yang membuat pelaksanaannya tidak mudah diatur dalam waktu dekat.
“Liga 1 itu ada 18 klub. Coba bandingkan dengan liga-liga lain di Asia Tenggara: Singapura cuma 6 klub, Thailand 16 klub. Kita paling banyak. Itu artinya jadwalnya sangat padat,” ujar Erick.
Erick juga menyoroti padatnya jadwal kompetisi, apalagi dengan adanya klub yang turut serta di level internasional seperti AFC Cup atau Liga Champions Asia.
Jadwal pertandingannya biasanya digelar di tengah pekan, berimpit dengan jadwal akhir pekan Liga 1.
Hal itu tentu akan menguras tenaga dan membuat recovery pemain nyaris mustahil.
“Bayangkan, main Liga 1 Sabtu atau Minggu, Senin terbang ke luar negeri untuk kejuaraan Asia, lalu Jumat harus main lagi. Kapan latihannya?” ucap Erick.
Belum lagi, kata dia, geografis Indonesia yang berupa kepulauan menjadi tantangan tersendiri.
Perjalanan dari barat ke timur Indonesia bisa menghabiskan waktu 8 jam dengan pesawat.
Lebih dari itu, kekhawatiran terbesar Erick adalah soal kebugaran pemain timnas. Jika jadwal makin padat, risiko cedera pemain andalan semakin besar.
Padahal, depth atau kedalaman skuad timnas saat ini belum ideal. “Kalau pemain timnas cedera semua, siapa penggantinya? Talent pool kita masih tipis,” katanya.
Erick tidak menutup kemungkinan akan menerima kritik atau hujatan jika Piala Indonesia belum juga terlaksana.
Namun ia meminta semua pihak memahami realitas dan ikut berpikir jernih. “Saya mendukung Piala Indonesia, tapi kalendernya kapan?” pungkasnya. (tif/naz)
Editor : Mizan Ahsani