Jawa Pos Radar Madiun – Suasana haru menyelimuti laga pramusim antara Liverpool dan Preston North End, Minggu (14/7/2025), usai kepergian tragis Diogo Jota.
Penyerang asal Portugal itu meninggal dunia dalam kecelakaan mobil bersama sang adik, Andre Silva, pada 3 Juli di Zamora, Spanyol.
Pertandingan di Deepdale menjadi momen pertama bagi Liverpool kembali ke lapangan setelah duka mendalam tersebut.
Upacara penghormatan digelar dengan penuh kekhidmatan. Kapten Preston, Ben Whiteman, menyerahkan karangan bunga kepada pendukung Liverpool.
Kemudian, “You'll Never Walk Alone” menggema, dinyanyikan ribuan suporter sebelum kick-off.
Para pemain kedua tim mengenakan ban lengan hitam dan mengheningkan cipta selama satu menit untuk mengenang Jota dan Andre.
Liverpool resmi memensiunkan nomor punggung 20 milik Jota sebagai bentuk penghormatan abadi.
Sebuah keputusan emosional yang menandai besarnya pengaruh Jota di dalam dan luar lapangan.
Beberapa pemain senior seperti Virgil van Dijk dan Andy Robertson tidak masuk skuad karena baru kembali dari Portugal usai menghadiri pemakaman Jota.
Mereka hadir di stadion sebagai bentuk solidaritas, menyaksikan rekan-rekan mereka dari tribun penonton.
Meski dibalut duka, Liverpool tetap tampil dengan semangat luar biasa. Mohamed Salah mengenakan ban kapten, sementara tiga rekrutan anyar—Giorgi Mamardashvili, Jeremie Frimpong, dan Milos Kerkez—melakoni debut.
The Reds menang 3-1 lewat gol-gol dari Conor Bradley, Darwin Nunez, dan Cody Gakpo.
Nunez mencetak gol pada menit ke-53 dan mempersembahkannya dengan selebrasi ikonik ala Jota dalam video game—gerakan yang biasa dilakukan Jota saat mencetak gol dalam FIFA.
Selebrasi itu langsung disambut tepuk tangan dan tangis para penonton.
Usai peluit akhir, skuad Liverpool berkumpul di depan tribun tandang, menyanyikan nama Jota bersama para fans yang masih terisak dalam suasana duka.
Pelatih Liverpool Arne Slot tak bisa menyembunyikan emosinya saat ditanya soal kehilangan Jota.
Ia menyebut Jota sebagai pribadi luar biasa yang selalu tulus, rendah hati, dan menjadi panutan bagi rekan setimnya.
“Kesedihan adalah emosi pertama yang kami rasakan. Tapi setelah itu, kami semua merasa bangga karena dia adalah orang yang luar biasa,” kata Slot.
Ia juga membagikan pesan emosional kepada para pemainnya: untuk tetap menjadi diri sendiri, sebagaimana Jota selalu menjadi dirinya.
"Kalau mau tertawa, tertawalah. Kalau mau menangis, menangislah. Jangan pura-pura kuat. Dan kalau sedang dalam situasi sulit, coba lakukan apa yang biasa dilakukan Jota: berikan sesuatu yang istimewa,” ujar Slot.
Seluruh elemen klub—dari staf, pemain, hingga fans—sepakat bahwa kepergian Jota meninggalkan lubang besar.
Tapi cara Liverpool merespons duka ini dengan kekuatan kolektif menjadi bukti betapa mendalam pengaruh sang penyerang.
Kemenangan atas Preston bukan sekadar hasil pramusim. Ini adalah tribut emosional dari rekan-rekan yang terus berjuang untuk mengenang dan meneladani semangat Jota di lapangan. (ota)
Editor : Ockta Prana Lagawira