Jawa Pos Radar Madiun - Dalam dunia sepak bola yang terus berubah, di mana loyalitas kerap dikalahkan oleh nilai kontrak dan popularitas instan, sosok Alessandro Del Piero menjadi pengecualian.
Ia bukan sekadar legenda Juventus. Ia adalah wujud dari cinta yang tulus terhadap klub, jersey, dan nilai-nilai permainan itu sendiri.
Del Piero tiba di Juventus pada 1993, saat usianya baru menginjak 18 tahun. Ia datang dari Padova, membawa teknik ciamik, wajah pemalu, dan ambisi besar.
Gol Khas dan Julukan Abadi
Hanya butuh tiga pertandingan untuk menunjukkan siapa dirinya. Dalam debut penuhnya, ia mencetak hattrick ke gawang Parma. Dunia mulai melirik. Turin mulai jatuh cinta.
These Football Times menyebut Del Piero sebagai "bentuk paling murni dari pemain yang bermain bukan hanya untuk menang, tetapi untuk bermain dengan cara yang indah."
Julukan itu bukan tanpa alasan. Ia dikenal karena gol khasnya yaitu sebuah tembakan melengkung dari sisi kiri luar kotak penalti, menuju tiang jauh, yang kini dikenang sebagai “Gol ala Del Piero.”
Ia menyabet segalanya bersama Juventus: enam gelar Serie A, satu Liga Champions, Piala Interkontinental, Coppa Italia, dan Supercoppa Italia.
Tapi yang membuatnya dikenang bukan hanya trofi, melainkan bagaimana ia bertahan.
Cinta Tertambat ke Nyonya Tua
Tahun 2006 menjadi titik uji. Skandal Calciopoli mengguncang Juventus. Klub dijatuhi sanksi berat: gelar dicabut, pemain hengkang, dan mereka terlempar ke Serie B untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Tapi Del Piero tetap tinggal. Ia bahkan menjadi top skor Serie B musim itu, memimpin Juventus kembali ke Serie A dengan kepala tegak.
The Guardian menyebut keputusan itu sebagai "salah satu momen kepemimpinan paling bermakna dalam sejarah klub modern."
Total, Del Piero membukukan 705 penampilan dan mencetak 290 gol untuk Juventus—rekor yang masih berdiri hingga hari ini.
Ia bermain selama 19 musim, menjadi wajah klub melewati tiga dekade dan lima era kepelatihan.
Sang Pemimpin
Di ruang ganti, ia adalah pemimpin diam. Di lapangan, ia adalah seniman. Di mata suporter, ia adalah dewa yang membumi.
Saat Juventus tak memperpanjang kontraknya pada 2012, tak ada kata marah keluar dari mulutnya.
Ia hanya mencium lambang klub di dada dan melambaikan tangan ke arah Curva Sud, tribun fanatik Juventus.
“Saya tak perlu berkata apa pun. Kalian sudah tahu apa arti klub ini bagi saya,” katanya dalam pidato perpisahan.
Del Piero sempat melanjutkan kariernya di Sydney FC dan Delhi Dynamos sebelum pensiun.
Kini, ia menjalani hidup sebagai analis sepak bola dan baru-baru ini mengantongi lisensi UEFA Pro, memunculkan spekulasi soal kemungkinan kembali ke Juventus sebagai pelatih.
Reuters bahkan menulis bahwa “para Juventini diam-diam bermimpi sang pangeran kembali dalam jas dan dasi di pinggir lapangan.”
Sir Alex Ferguson pernah berkata bahwa Del Piero adalah “the one who got away,” pemain yang nyaris bergabung dengan Manchester United tapi lebih memilih Juventus.
Dalam wawancara bersama TalkSport, Del Piero mengakui ketertarikan itu, tapi menegaskan bahwa hatinya memang hanya untuk satu klub.
Dan begitulah, di era ketika lambang klub bisa diganti dengan sponsor dan warna jersey berubah demi pasar Asia, Del Piero tetap menjadi monumen.
Monumen tentang pemain yang tak hanya setia, tapi juga mengajarkan dunia bahwa bermain cantik dan menjadi besar bisa dilakukan dalam satu seragam, untuk satu kota, seumur hidup.
Alessandro Del Piero bukan hanya legenda Juventus. Ia adalah Juventus itu sendiri. (cor)
Penulis:
Rizhal Putra Pratama, mahasiswa Universitas Merdeka Madiun
Editor : Andi Chorniawan