Jawa Pos Radar Madiun – Gestur sederhana itu mengejutkan dunia. Tijjani Reijnders mengangkat bahu, seolah berkata: "Ya beginilah hidup." C’est la vie.
Namun debutnya untuk Manchester City sama sekali tidak biasa. Dalam laga tandang melawan Wolverhampton Wanderers, Reijnders menjelma jadi maestro.
Ia terlibat dalam semua gol kemenangan 4-0: mengawali gol pertama, mencetak gol kedua, memberi assist untuk gol ketiga, dan mengkreasi alur gol keempat.
Bermain di atmosfer bising Molineux, Reijnders justru tampil seperti seorang filsuf dalam pertandingan sepak bola: efisien, tenang, dan seolah tak keluar dari gigi ketiga. Semuanya mengalir, dan ia menguasai panggung.
City memang pernah menyaksikan debut brilian sebelumnya, seperti Sergio Aguero pada 2011.
Tapi saat itu, Liga Inggris belum sekeras sekarang. Kecepatan, fisik, dan sistem pressing ekstrem membuat banyak pemain top dari liga luar butuh waktu adaptasi. Apalagi di lini tengah — jantung permainan Inggris yang paling brutal.
Namun Reijnders, di usia 27 dan baru dua musim tampil di liga top Eropa, melakukannya seperti veteran. Ia tak hanya beradaptasi.
Ia langsung mengendalikan permainan. Dan semua itu hanya dibeli seharga £45 juta. Harga yang kini membuat para eksekutif Milan tak bisa tidur nyenyak.
C’est la vie, mungkin hanya berlaku bagi Reijnders. Bagi Milan, ini lebih mirip tragedi bisnis. Di saat klub Liga Primer memasang harga £55 juta untuk pemain rotasi, City mencuri Reijnders dengan diskon.
Bukan karena dia tak layak lebih, tapi karena Milan terdesak kebutuhan dana.
Finis di luar zona Eropa membuat Milan menjual beberapa aset besar.
Theo Hernandez menurun drastis, Mike Maignan tak laku mahal. Reijnders tampil luar biasa — dinobatkan sebagai gelandang terbaik Serie A musim lalu — tapi mereka harus merelakannya agar bisa bertahan. Kini, mereka sadar: terlalu murah.
Sejak Pep Guardiola datang, Ilkay Gundogan jadi otaknya. Tapi kini, setelah sang mentor pindah ke Barcelona, Reijnders datang mengisi lubang itu dengan versi lebih segar dan tajam.
Aksi pembuka gol pertamanya jadi ilustrasi sempurna: empat gerak tipu, lalu umpan pembelah lini yang memaksa Wolves membuka formasi.
Bukan hanya teknik yang diperlihatkan. Tapi kecerdasan spasial, ketenangan di bawah tekanan, dan kemampuan menciptakan ruang.
Teknik la croqueta ala Iniesta, idolanya, jadi senjata di momen krusial. Lalu tenangnya saat mengeksekusi gol kedua dari jarak 20 yard menunjukkan hasil pembelajaran musim panasnya: lebih klinis di depan gawang.
Wolves tampil solid. Tapi semangat mereka seperti direnggut dua aksi Reijnders di babak pertama. Di babak kedua, dia tetap konsisten.
Ia menyuplai umpan pendek, memainkan bola-bola satu-dua, dan memberi umpan buta yang menghasilkan gol dari Haaland. Ia tidak selalu jadi bintang layar depan, tapi jelas otak dari semua kombinasi yang terjadi.
Tak cukup sampai di situ. Untuk gol keempat, ia berlari membuka ruang di sisi kanan, memainkan bola di ruang sempit, dan mengirim umpan silang ke tiang jauh.
Gol akhirnya dicetak Rayan Cherki, tapi semuanya berawal dari kesadaran ruang yang luar biasa milik Reijnders.
Tak ada gimmick. Tak ada gaya flamboyan. Hanya efisiensi, presisi, dan pemahaman permainan di level tertinggi.
Reijnders seolah tak terpengaruh tekanan laga debut, atmosfer Molineux, atau ekspektasi menggantikan Kevin De Bruyne. Ia hanya bermain seperti dirinya sendiri.
Dan ketika ia mengangkat bahu setelah pertandingan, dunia akhirnya mengerti. Begitulah hidup — atau jika Anda Milan, begitulah penyesalan.
Editor : Ockta Prana Lagawira