Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Beauty of Serie A: Romansa Danau Como dan Stadion Sinigaglia Markas Como 1907

Andi Chorniawan • Minggu, 31 Agustus 2025 | 21:50 WIB

 

Stadion Giuseppe Sinigaglia markas Como 1907 bersebelahan dengan Danau Como.
Stadion Giuseppe Sinigaglia markas Como 1907 bersebelahan dengan Danau Como.

Jawa Pos Radar Madiun – Di tepi Danau Como yang tenang, berdiri sebuah stadion yang telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang sebuah klub tua Italia.

Namanya Stadio Giuseppe Sinigaglia, markas Como 1907. Dari luar, bangunannya tampak sederhana, namun panorama yang ditawarkan membuat siapa pun terpesona.

Tribun menghadap langsung ke danau, dengan latar pegunungan yang seakan melengkapi kemegahan alam Lombardy dan daya pikat Beauty of Serie A.

Awal Sejarah

Stadion ini diresmikan pada 30 Juli 1927, saat Italia masih dalam bayang-bayang rezim Mussolini.

Arsitek Giovanni Greppi merancangnya dalam gaya rasionalis, dan namanya diambil dari Giuseppe Sinigaglia, seorang putra daerah Como, atlet dayung yang gugur di medan perang.

Sejak saat itu, stadion bukan hanya lapangan hijau, melainkan monumen ingatan atas keberanian dan pengorbanan.

Kala itu, stadion dilengkapi lintasan atletik dan velodrom, menjadi pusat kegiatan olahraga warga. Kapasitas awalnya sekitar 6.000 kursi, cukup untuk sebuah kota kecil yang mencintai sepak bola.

Transformasi demi Transformasi

Waktu berjalan, dan Como mengalami pasang surut. Stadion pun ikut bertransformasi. Pada 1970-an lintasan atletik dihilangkan, tribun diperluas, dan pada 1990 serta 2002 dilakukan renovasi besar.

Kurva barat, yang kemudian dikenal sebagai “Curva Azzurra”, menjadi tempat penuh gairah bagi para tifosi.

Puncak kebanggaan datang saat Como kembali ke Serie A pada awal 2000-an. Kapasitas stadion melonjak hingga 14.000 kursi, suara suporter menggema, dan Sinigaglia kembali hidup.

Namun, krisis finansial klub membuat beberapa sektor ditutup. Kapasitas menyusut, tribun sepi, dan stadion sempat redup dalam bayang-bayang keterpurukan tim.

Bangkit Kembali

Kebangkitan Como 1907 dalam beberapa tahun terakhir juga berarti kebangkitan stadionnya.

Modernisasi mulai digarap: kursi baru dipasang, atap tribun diperbaiki, lampu sorot diperbaharui, dan teknologi modern seperti VAR serta goal-line technology disiapkan.

Tahun 2023 menjadi titik penting, empat menara lampu diperbarui dengan desain yang ramah lingkungan dan sesuai aturan penerbangan dermaga pesawat amfibi di dekatnya.

Musim 2024, tribun “Distinti” dibuka kembali, kapasitas meningkat menjadi lebih dari 10.500 penonton.

Kini, Sinigaglia kembali bergairah. Para tifosi bisa menyaksikan Como berjuang di Serie A dengan kenyamanan lebih baik, sekaligus tetap merasakan atmosfer klasik yang telah diwariskan sejak hampir seabad lalu.

Mimpi 2028

Rencana besar pun menanti. Klub bersama pemerintah kota berambisi memperluas kapasitas hingga 15.000 kursi, menambah fasilitas modern, sekaligus menjaga identitas unik stadion di tepi danau.

Namun, ada tantangan keterbatasan ruang, protes sebagian warga soal dampak lingkungan, hingga aturan pemerintah kota yang melarang tribun lebih tinggi dari 16 meter agar panorama Danau Como tetap terjaga.

Semua itu tak mengurangi mimpi. Justru menambah romantika perjalanan sebuah stadion yang kerap disebut Gianni Brera, jurnalis legendaris Italia, sebagai salah satu stadion tercantik di dunia. (cor)

 

Editor : Andi Chorniawan
#Giuseppe Sinigaglia #renovasi #danau como #stadion #Como 1907 #beauty of serie a