Jawa Pos Radar Madiun– Tidak semua stadion Italia berada di pinggiran kota dengan area parkir luas.
Ada satu stadion yang justru berdiri di tengah denyut kehidupan warga, hanya beberapa menit dari pusat kota bersejarah.
Itulah Stadio Ennio Tardini, rumah Parma Calcio 1913, yang akrab dijuluki Il Tardini.
Dibuka pada 1923, Tardini lahir dari ide Ennio Tardini, seorang pengacara sekaligus penggagas klub Parma.
Meski meninggal sebelum proyek rampung, namanya diabadikan untuk stadion ini.
Keunikannya khas Beauty of Serie A langsung terasa. Lokasinya berada di pusat kota, diapit bangunan tua dan jalan sempit, membuat suasana hari pertandingan berbeda dari stadion modern di pinggiran kota.
Atmosfer dan Tradisi Tifosi
Dengan kapasitas sekitar 22 ribu kursi, Tardini bukan stadion terbesar di Italia. Namun tribun yang dekat dengan lapangan menciptakan suasana intim.
Sorakan tifosi seakan menggelegar tepat di telinga pemain, memberi tekanan kuat pada lawan.
Pada masa kejayaan Parma di era 1990-an, atmosfer Tardini dikenal sebagai salah satu yang paling bergelora di Serie A.
Keunikan Arsitektur dan Identitas
Gerbang utama bergaya klasik, Tribuna Petitot yang ikonik, serta letaknya yang menyatu dengan kota menjadikan Tardini berbeda dari stadion modern yang serba steril.
Setiap bangku dan dindingnya seolah menyimpan kenangan: dari kemenangan Parma di Piala UEFA hingga derai air mata saat klub jatuh bangkrut.
Tantangan dan Rencana Masa Depan
Posisinya di pusat kota juga membawa tantangan. Akses transportasi terbatas, ruang parkir sempit, dan infrastruktur yang sudah menua membuat renovasi menjadi kebutuhan.
Pada 2025, klub berencana memulai proyek besar membangun kembali stadion ini dengan kapasitas sekitar 21 ribu kursi, fasilitas VIP, museum klub, hingga area publik.
Uniknya, meski modernisasi dilakukan, stadion tidak akan dipindahkan keluar kota. Identitas Tardini tetap dijaga: stadion Parma akan tetap di hati Parma. (cor)
Editor : Andi Chorniawan