Jawa Pos Radar Madiun – Tidak semua stadion di Italia menyuguhkan panorama laut sebagai latar.
Namun, Stadio Ettore Giardiniero – Via del Mare, rumah Lecce, menawarkan pengalaman berbeda.
Terletak hanya beberapa menit dari pantai Adriatik, stadion ini menjadi simbol kebanggaan warga Salento.
Stadion ini dibuka pada 1966, menggantikan Stadio Carlo Pranzo yang lebih kecil.
Nama “Via del Mare” diambil dari jalan besar yang menghubungkan kota Lecce dengan laut Adriatik.
Kapasitas awalnya sekitar 20 ribu kursi, lalu diperluas hingga mampu menampung 40 ribu penonton pada era 1980-an, menjadikannya salah satu stadion terbesar di Italia selatan.
Panorama Laut dan Udara Pesisir
Yang membuat Via del Mare berbeda adalah lokasinya. Tribun tinggi di sisi timur memberi pemandangan langsung ke arah laut.
Angin dari Adriatik sering kali terasa hingga ke lapangan, menambah nuansa khas yang tak dimiliki stadion lain di Serie A.
Bagi banyak tifosi, duduk di tribun sambil melihat cahaya laut di kejauhan adalah pengalaman yang hanya bisa dirasakan di Lecce.
Atmosfer Curva Nord
Seperti stadion klasik Italia lainnya, Via del Mare hidup dari tribun fanatik. Curva Nord menjadi jantung emosi pertandingan Lecce.
Sorakan tifosi kuning-merah menggema di udara terbuka, menciptakan atmosfer intimidatif bagi tim tamu.
Kombinasi suara chant, warna bendera, dan hembusan angin laut menjadikan pertandingan di Lecce benar-benar teatrikal.
Renovasi dan Identitas yang Terjaga
Stadion ini beberapa kali direnovasi, termasuk menjelang Piala Dunia 1990 meski akhirnya tidak dipilih sebagai venue.
Kapasitas sekarang dikurangi menjadi sekitar 31 ribu kursi demi keamanan dan kenyamanan.
Meski begitu, identitasnya tidak berubah, yakni tribun dekat lapangan, akustik terbuka, dan latar pantai tetap menjadi daya tarik utama. (cor)
Editor : Andi Chorniawan