Jawa Pos Radar Madiun - Penyerang Timnas Indonesia, Mauro Zijlstra, akhirnya buka suara soal suasana ruang ganti Garuda setelah kekalahan tipis 0–1 dari Irak di Stadion King Abdullah Sports City, Minggu (12/10) dini hari WIB.
Kekalahan itu memastikan langkah Indonesia terhenti di ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia dan menutup perjalanan sebagai juru kunci Grup B.
“Suasana di ruang ganti sangat sunyi. Beberapa pemain tampak emosional. Semua orang merasa ini adalah kesempatan terakhir untuk lolos,” ujar Mauro Zijlstra, dikutip dari ESPN NL, Sabtu (12/10).
Pidato Singkat Pelatih dan Kapten
Menurut pemain FC Volendam itu, setelah keheningan panjang, pelatih dan kapten tim memberi pidato singkat yang membangkitkan semangat seluruh skuad.
“Pelatih dan kapten berterima kasih kepada semua orang karena telah berhasil mencapai tahap ini bersama-sama. Sekarang, kami fokus ke Piala Asia 2027,” ungkapnya.
Mauro mengakui momen itu penuh emosi karena para pemain merasa telah berjuang maksimal.
Namun, ia menegaskan bahwa semangat tim masih terjaga meski hasil akhir tidak sesuai harapan.
Tekanan Besar dari Publik dan Media Sosial
Striker berusia 24 tahun itu juga menyinggung besarnya tekanan publik sepak bola Indonesia, terutama dari media sosial.
“Indonesia adalah negara besar. Banyak pesan masuk melalui media sosial. Itu tidak selalu menyenangkan. Di satu sisi saya mengerti karena kita begitu dekat dengan mimpi itu. Tapi di sisi lain, Indonesia belum pernah lolos sebelumnya,” ujarnya.
Mauro menyebut, tekanan besar itu justru menjadi pembelajaran berharga bagi para pemain muda Garuda agar lebih kuat secara mental di turnamen berikutnya.
“Kami tahu betapa besar ekspektasi. Semua orang kecewa, tapi kami harus terus bergerak,” pungkasnya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani