Jawa Pos Radar Madiun – Timnas Indonesia dan sejumlah negara Asia lainnya dinilai perlu memperbanyak laga internasional.
Hal ini bukan hanya untuk meningkatkan kualitas permainan, tetapi juga menjadi kunci memperbaiki peringkat FIFA yang stagnan.
Menurut laporan analisis Footy Rankings, konfederasi Asia (AFC) menjadi salah satu yang paling sedikit memainkan pertandingan dalam empat tahun terakhir.
Dengan format kualifikasi gabungan Piala Dunia dan Piala Asia, negara-negara Asia hanya memiliki kesempatan terbatas untuk tampil dalam pertandingan resmi.
Asia Tertinggal Jauh dari Eropa dan Amerika
Dalam 48 bulan terakhir, rata-rata jumlah pertandingan per konfederasi menunjukkan kesenjangan mencolok:
UEFA: 33 pertandingan
CONMEBOL: 30,2 pertandingan
CONCACAF: 28 pertandingan
CAF: 26,5 pertandingan
AFC: 17,1 pertandingan
OFC: 8,4 pertandingan
Angka tersebut memperlihatkan bahwa negara-negara Asia, termasuk Timnas Indonesia, hanya memainkan sekitar 17 pertandingan dalam empat tahun.
Jumlah itu hampir separuh dari rata-rata UEFA dan jauh tertinggal dari negara-negara Amerika Selatan.
“Tim-tim di AFC biasanya memainkan piala regional, tetapi itu hanya menambah jumlah pertandingan menjadi 25,1. Sementara di CAF bisa mencapai 32,1 pertandingan,” tulis laporan Footy Rankings.
Sebagai perbandingan, San Marino yang berada di peringkat terbawah FIFA, bahkan memainkan 27 pertandingan kompetitif dalam periode yang sama.
Dari seluruh negara Asia, hanya Jepang yang tergolong aktif dengan 30 pertandingan dalam empat tahun, termasuk empat laga di Piala Dunia.
Efek Minimnya Pertandingan: Peringkat FIFA Sulit Naik
Minimnya laga membuat poin FIFA negara-negara Asia meningkat sangat lambat. Padahal, performa baik dalam pertandingan resmi bisa mendongkrak ranking secara signifikan.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi federasi sepak bola Asia, termasuk PSSI, untuk menambah agenda uji coba internasional dan turnamen regional.
“Jika Timnas Indonesia ingin bersaing di level atas, frekuensi pertandingan harus diperbanyak agar pemain terbiasa dengan tekanan dan meningkatkan pengalaman internasional,” tulis laporan tersebut. (naz)
Editor : Mizan Ahsani