Jawa Pos Radar Madiun - Aksi selebrasi main golf yang dilakukan Lee Chung-yong, pemain senior Ulsan HD, berbuntut panjang.
Selebrasi itu disebut-sebut sebagai sindiran terhadap eks pelatihnya, Shin Tae-yong alias STY, dan memicu gelombang hujatan di media sosial.
Chung-yong kini menjadi sorotan tajam publik Korea Selatan.
Netizen menilai selebrasinya tidak pantas, terlebih mengingat statusnya sebagai wakil presiden Asosiasi Pesepak Bola Profesional Korea (KPFA).
Asosiasi bahkan berencana mengambil langkah hukum atas serangan siber yang menimpa sang pemain.
Namun, badai ini juga menyeret masa lalunya. Media lokal kembali menyorot insiden lama saat Lee membela Crystal Palace di Liga Inggris (2015–2018).
Kala itu, ia pernah berseteru dengan manajer Alan Pardew karena mengkritik keputusan pelatih di media.
Akibatnya, ia dijatuhi skors dan denda £30.000.
“Dia menyuruhku pemanasan lalu melakukan tiga pergantian. Lima menit kemudian menyuruh pemanasan lagi, padahal tidak ada jatah pergantian. Aku merasa dipermainkan,” ujar Lee.
“Pardew mengelola tim dengan visi sangat pendek. Pemain baru jarang diberi kesempatan.”
Budaya Hormat Mulai Hilang
Insiden sembilan tahun silam itu dianggap memperkuat citra Lee sebagai pemain yang berani berkonflik dengan pelatih.
Kini, hubungan panasnya dengan Shin Tae-yong di Ulsan HD menjadi bahan pembicaraan utama sepak bola Korsel.
Pelatih Daejeon Hana Citizens, Hwang Sun-hong, turut mengomentari situasi ini.
“Saya tak tahu siapa yang salah, tapi ini sangat disayangkan. Budaya hormat mulai hilang di sepak bola modern,” ujarnya.
Gelombang kritik datang di saat Ulsan HD tengah berjuang di play-off degradasi. Sejak pemecatan Shin Tae-yong, Ulsan mulai bangkit dengan dua kemenangan beruntun.
Namun, badai kontroversi ini menjadi ujian baru bagi Lee Chung-yong, yang kini berusia 37 tahun dan tengah memikul tanggung jawab besar di klub. (naz)
Editor : Mizan Ahsani