Jawa Pos Radar Madiun – Laga pekan ke-10 Super League 2025 antara Bhayangkara Presisi Lampung FC dan Persita Tangerang berakhir imbang 1-1 di Stadion Sumpah Pemuda, Bandarlampung, Sabtu (1/11).
Meski hanya meraih satu poin, pelatih Bhayangkara Paul Munster tetap memberikan apresiasi atas kerja keras dan mentalitas anak asuhnya.
“Pertandingan berjalan sangat ketat dengan banyak kontak fisik dan situasi sulit. Namun, para pemain mampu menjaga fokus dan tampil disiplin hingga peluit panjang dibunyikan,” ujar Munster usai laga.
Pelatih asal Irlandia Utara itu menegaskan Bhayangkara memiliki karakter tim yang kuat dan selalu bermain untuk menang.
“Meski kami sempat kecewa dengan gol yang bersarang ke gawang kami, secara keseluruhan performa tim sudah cukup baik,” ucapnya.
Munster menambahkan, hasil seri kali ini menjadi bahan evaluasi menjelang pertandingan berikutnya.
“Besok kami harus fokus lagi, tentu sambil mengevaluasi semua yang terjadi hari ini. Kami kecewa kebobolan, tapi senang dengan satu poin yang kami dapat,” katanya.
Persita unggul lebih dulu lewat Pablo Janet pada menit ke-79 setelah memanfaatkan bola pantul di dalam kotak penalti.
Namun, tuan rumah Bhayangkara berhasil menyamakan kedudukan tujuh menit kemudian melalui sundulan Damjanovic pada menit ke-86.
Hasil imbang tersebut menempatkan Bhayangkara di peringkat ketujuh klasemen sementara Super League dengan 15 poin, sedangkan Persita berada di posisi ketiga dengan 18 poin.
Sementara itu, pelatih Persita Carlos Pena menilai pertandingan berlangsung keras dan penuh tekanan.
“Di babak pertama kami berusaha tetap kompak dan kuat secara mental. Di babak kedua kami bermain lebih pintar,” ujarnya.
Carlos menilai satu poin di laga tandang tetap positif, meski timnya sebenarnya sangat dekat untuk membawa pulang tiga poin.
Ia juga menyoroti beberapa keputusan wasit yang dianggap kurang tegas.
“Seharusnya ada kartu merah bagi tuan rumah,” tegasnya.
Meski begitu, Carlos tetap bangga dengan semangat dan mental pemainnya.
“Pemain saya punya mental yang kuat, mereka rendah hati dan tahu bagaimana cara berjuang. Baik starter maupun pemain pengganti semuanya bekerja keras. Ini contoh bagaimana kami harus berkompetisi,” kata dia.
Editor : Ockta Prana Lagawira