Jawa Pos Radar Madiun - Estadio Vila Belmiro dipenuhi suasana muram ketika Neymar kembali menunjukkan ekspresi penuh frustrasi.
Kekalahan 3-2 dari Flamengo pada Minggu (9/11) malam membuat tensi di Santos semakin meninggi.
Puncak emosinya terjadi ketika ia ditarik keluar pada menit ke-85, momen yang langsung menjadi sorotan publik Brasil.
Pertandingan awalnya berjalan berat bagi Santos.
Flamengo melesakkan tiga gol tanpa balas sebelum Santos mencoba bangkit melalui dua gol balasan di akhir laga.
Namun keputusan pelatih Juan Pablo Vojvoda mengganti Neymar justru memperburuk suasana.
Saat meninggalkan lapangan, Neymar tampak kecewa.
Ia sempat mempertanyakan keputusan sang pelatih lalu berjalan menuju ruang ganti tanpa duduk di bangku cadangan hingga laga berakhir.
Kamera televisi menangkap ekspresi emosionalnya dengan jelas, sebuah simbol tekanan besar yang tengah melanda klub.
Santos Kian Terpuruk, Neymar Kesulitan Angkat Tim
Santos kini hanya berjarak satu tingkat dari zona degradasi Serie A Brasil.
Kembalinya Neymar setelah lebih dari sepuluh tahun berkarier di Eropa semula diharapkan menjadi angin segar. Namun realitas di lapangan jauh dari ekspektasi.
Dalam 15 pertandingan musim ini, Neymar baru mencetak tiga gol.
Performanya juga terganggu setelah absen 48 hari karena cedera otot, membuat perannya sebagai penyelamat klub menjadi semakin berat.
Pelatih Juan Pablo Vojvoda merespons insiden tersebut dengan menegaskan bahwa reaksi Neymar masih dalam batas wajar.
“Soal Neymar, wajar saja dia marah, seperti pemain lain. Saya yang memutuskan siapa yang harus pergi, dan saya menganggap wajar jika dia kecewa. Dia tidak bersikap tidak sopan, dan rasa hormat itu tetap ada. Para pemain ingin bermain dan ingin membantu klub di masa sulit seperti ini,” ujar Vojvoda.
Komentar sang pelatih menggambarkan betapa rapuhnya kondisi internal tim.
Menurut ESPN Brasil, kemarahan Neymar bukan hanya karena diganti, melainkan akumulasi dari rasa frustrasi atas performa buruk Santos yang tak kunjung membaik.
Sumber internal bahkan menyebut Neymar siap meninggalkan klub jika Santos terdegradasi.
Ikatan Neymar dan Santos: Dari Kejayaan ke Ancaman Degradasi
Bagi pendukung Santos, ekspresi emosional Neymar dianggap sebagai bukti bahwa keterikatannya pada klub tidak pernah pudar.
Ia tumbuh di akademi Santos, menjalani debut profesional pada usia 17 tahun, dan membawa klub meraih Copa Libertadores 2011, gelar yang masih menjadi kebanggaan besar warga Sao Paulo.
Kini, Neymar kembali bukan untuk mengejar gelar, melainkan untuk menyelamatkan klub masa kecilnya dari krisis terburuk dalam sejarah modern.
Namun situasi Santos saat ini adalah gambaran pahit perjalanan tim yang kehilangan stabilitas. Neymar, meski menjadi sosok paling berpengaruh, belum mampu membalikkan keadaan. (fin)
Editor : AA Arsyadani