Jawa Pos Radar Madiun – Tanpa Federico Barba, lini pertahanan Persib Bandung seolah kehilangan jantung pengendali.
Absennya bek asal Italia itu saat menghadapi Selangor FC berujung pada terhentinya catatan lima laga tanpa kebobolan di berbagai kompetisi.
Persib memang mampu menang 3-2, namun dua gol yang bersarang ke gawang menjadi alarm penting bagi pelatih Bojan Hodak.
“Barba pemain berpengalaman. Ia bisa membaca permainan dengan baik dan sangat tenang saat di bawah tekanan,” ujar Hodak dalam konferensi pers usai laga.
Pemain yang Tenang di Saat Genting
Bagi Hodak, kemampuan teknis Barba membuat perbedaan besar.
Eks pemain Como 1907 itu bukan hanya tangguh dalam duel udara dan blok pertahanan, tetapi juga piawai mengatur tempo dari belakang.
“Secara teknik, dia bagus memainkan bola. Kadang saat kami ditekan, kami butuh pemain seperti dia yang tetap tenang,” ujar pelatih asal Kroasia itu.
Ketenangan Barba disebut turut membantu pemain depan.
Saat bola dikuasai bek berusia 31 tahun tersebut, lini serang punya waktu mencari ruang dan membangun serangan lebih efektif.
“Ketika dia menguasai bola, pemain di depannya bisa punya waktu dan ruang. Itu banyak membantu kami,” terang Hodak.
Jiwa Pemimpin yang Tak Tergantikan
Selain kualitas teknis, Hodak menilai Barba memiliki jiwa kepemimpinan alami yang sangat dibutuhkan di barisan belakang Maung Bandung.
“Barba punya jiwa pemimpin. Julio (Cesar) dan Pato (Patricio Matricardi) dua pemain bagus, tapi mereka pendiam, terutama Pato. Barba berbeda,” ujar Hodak.
Mentalitas itulah yang membuat Persib merekrut Barba musim ini.
Ia dianggap bisa menjadi kompas di lini belakang, mengarahkan rekan setim, menjaga organisasi pertahanan, sekaligus membangun kepercayaan diri tim dari belakang. (naz)
Editor : Mizan Ahsani