Jawa Pos Radar Madiun – Ketika David Beckham memilih Miami sebagai lokasi tim MLS barunya pada 2013, tak ada yang membayangkan apa yang akan terjadi satu dekade kemudian.
Bermodalkan waralaba senilai £15,6 juta—hak istimewa dari kontraknya saat hijrah ke LA Galaxy—Beckham meresmikan Inter Miami pada 2018 dan melakukan debut liga dua tahun berselang.
Namun era baru benar-benar dimulai pada 2023, ketika Lionel Messi memutuskan memilih Miami sebagai labuhan berikutnya setelah dua musim di Paris Saint-Germain.
Kehadiran pemain terbaik dunia itu mendorong Inter Miami menuju panggung terbesar MLS, termasuk final Piala MLS melawan Vancouver Whitecaps asuhan Thomas Muller, Sabtu ini.
Xavi Asensi, kepala bisnis Inter Miami, menyebut peran Beckham sebagai fondasi kebangkitan klub.
“Tanpa David Beckham, tak seorang pun dari kita akan duduk di sini. Semuanya menjadi mungkin,” ujarnya.
“Tidak ada nama mendunia seperti David Beckham dan Leo Messi—mereka semua ada di sini.”
Asensi bergabung pada 2021 setelah satu dekade di Barcelona. Ia menjelaskan bahwa target utama para pemilik—Jorge Mas, Jose Mas, dan Beckham—selalu jelas: membangun tim yang menang dan memiliki pemain terbaik di planet ini. Messi menjadi wujud nyata ambisi itu.
Bintang Argentina tersebut bergabung pada 7 Juni 2023, menandai transformasi instan bagi Inter Miami.
Beckham yang sedang berada di Jepang saat kabar resmi dirilis bahkan mengaku menangis saat mengetahui kesepakatan tercapai.
“Dalam semalam kami berubah dari klub MLS menjadi klub yang semua orang tahu,” kata Asensi.
Tak hanya Messi, Miami juga merekrut mantan rekan setimnya di Barcelona—Jordi Alba, Sergio Busquets, dan kemudian Luis Suárez—serta pelatih Gerardo Martino.
Messi memperpanjang kontraknya hingga 2028, dengan laporan pendapatan £37–45 juta per tahun, ditambah bonus dari Adidas dan Apple.
Dari Dua Juta Menjadi 50 Juta Pengikut
Efek Messi terlihat nyata. Media sosial Inter Miami melonjak dari dua juta pengikut menjadi 50 juta.
Jumlah penonton MLS meningkat sekitar 20%, sementara streaming global melonjak dua kali lipat pada 10 pertandingan pertama Messi.
MLS yang sebelumnya kerap dipandang sebagai liga pinggiran kini menjadi bagian dari percakapan sepak bola global.
Tiket menyaksikan Messi melonjak dari harga rata-rata £40 menjadi £150–£200. Bahkan stadion lawan berulang kali dipindahkan ke arena yang lebih besar untuk menampung permintaan luar biasa.
Pada April 2024, Columbus Crew memindahkan laga kandang melawan Miami ke stadion NFL dengan kapasitas 60.614 kursi—pertandingan itu terjual habis dan mencetak rekor event non-NFL terbesar stadion tersebut.
Pendapatan Inter Miami melonjak dari £41 juta pada 2022 menjadi £160 juta pada 2024.
Liga pun mencatatkan rekor kehadiran lebih dari 11,4 juta penggemar musim 2023/24. Penjualan merchandise meningkat 41%, sementara jersey Messi menjadi yang terlaris di MLS.
Klub lain juga ikut menikmati efek Messi dengan tambahan pendapatan tiket sekitar £63 juta. Rata-rata harga tiket naik 1.700%, dengan pendapatan kumulatif mencapai £198 juta.
Inter Miami Menjadi Merek Global
Asensi menegaskan bahwa Messi adalah sosok yang tak tergantikan. Namun Inter Miami membangun sistem untuk menarik bintang generasi berikutnya.
Salah satunya melalui Dreams Cup, platform pembinaan bakat muda yang bekerja sama dengan yayasan klub.
Miami juga berubah menjadi magnet bagi ikon dunia. Will Smith, Tom Brady, Kim Kardashian, Serena Williams, Ronaldinho, hingga Roberto Carlos sering terlihat memenuhi tribun.
Klub menjelma sebagai persimpangan budaya pop, olahraga global, dan hiburan kelas atas.
Warna merah muda yang semula diperdebatkan justru menjadi identitas paling ikonik.
Beckham yakin bahwa warna tersebut mencerminkan Miami—dari Art Deco hingga cahaya neon South Beach.
Identitas visual itu kini menjadi bagian dari daya tarik Inter Miami sebagai merek internasional.
Dalam dua tahun terakhir, Inter Miami meraih gelar Piala Liga 2023 dan Supporters’ Shield 2024, naik dari posisi juru kunci menjadi juara.
Terbaru, kemenangan 5-1 atas New York City di final play-off Wilayah Timur membawa mereka ke final Piala MLS.
Final melawan Vancouver Whitecaps menjadi puncak kisah transformasi klub: dari proyek ambisius Beckham menjadi fenomena olahraga global yang mendefinisikan ulang MLS.
Editor : Ockta Prana Lagawira