Jawa Pos Radar Madiun – Enam bulan lalu, Jonathan David tiba di Juventus dengan julukan mentereng: "The Iceman".
Julukan itu merujuk pada ketenangannya yang mematikan di depan gawang saat membela Lille (mencetak 109 gol dalam 5 tahun).
Namun kini, julukan itu terdengar seperti ejekan. Bak gletser di Pegunungan Alpen yang terkena pemanasan global, ketenangan David "meleleh" total di Turin.
Kegagalan penalti memalukan saat Juventus ditahan imbang Lecce 1-1, Minggu (4/1), menjadi puncak gunung es dari masalah pelik sang striker.
Penalti yang dieksekusi dengan teknik panenka (cucchiaio) yang gagal itu mempertegas krisis yang dialaminya.
Statistik David di Juventus, Baru 3 Gol dalam 24 Laga
Media Italia menyoroti transformasi negatif David dari predator menjadi pemain yang serba canggung.
Statistiknya berbicara jujur, hanya 3 gol dari 24 penampilan di semua kompetisi.
Padahal, ia datang dengan status pemain bergaji tertinggi kedua di skuad (6 juta euro per musim).
Ekspektasi publik hancur berantakan melihat rentetan blunder, mulai dari kegagalan tap-in melawan Pafos, terpeleset saat melawan AC Milan, hingga penalti komedi lawan Lecce.
Apa penyebabnya?
Analisis menunjuk pada faktor psikologis. David datang dengan ekspektasi menjadi Striker No 1. Namun, realita berkata lain.
Persaingan tak terduga juga muncul di skuad.
Dusan Vlahovic batal pindah, dan manajemen justru mendatangkan Lois Openda. David yang introvert kesulitan bersaing dalam tim yang seharusnya bermain dengan satu ujung tombak.
Sebagai pemain gratisan dengan komisi agen dan gaji tinggi, sorotan publik membuatnya grogi.
Pelatih Luciano Spalletti sebenarnya sudah mencoba segala cara.
Mulai dari kritik keras hingga pujian manis. Namun, David tetap terlihat pemalu dan terisolasi di lapangan.
Hitungan Rugi Bandar: 8 Juta Euro Per Gol
Meski didatangkan dengan status free transfer, Jonathan David sebenarnya sangat mahal.
Komisi Agen/Pemain: 12,5 Juta Euro.
Gaji Kotor Tahunan: 11,1 Juta Euro.
Jika dikalkulasi, setiap satu biji gol yang dicetak David sejauh ini telah merugikan kas Juventus sekitar 8 Juta Euro.
Satu-satunya harapan Juventus kini hanyalah sejarah masa lalu. David dikenal lambat panas (di Lille ia butuh 3 bulan untuk cetak gol perdana).
Fans Juventus juga mengingat kasus Edin Dzeko di AS Roma (gagal di musim pertama, menggila di musim kedua di bawah asuhan Spalletti).
Namun, siulan dan cemoohan 41.000 penonton Allianz Stadium saat David gagal penalti adalah sinyal bahaya.
Bagi sebagian Juventini, kisah cinta dengan sang "Iceman" mungkin sudah berakhir sebelum benar-benar dimulai. (naz)
Editor : Mizan Ahsani