Jawa Pos Radar Madiun - Perjalanan Ruben Amorim di kursi panas Manchester United resmi berakhir pada 5 Januari 2026.
Datang pada November 2024 dengan reputasi pelatih muda terbaik Eropa usai sukses bersama Sporting CP, Amorim memikul ekspektasi besar mengembalikan kejayaan Setan Merah.
Realitanya, Liga Inggris menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks.
Selama sekitar 14 bulan, era Amorim menjadi studi kasus menarik tentang adaptasi taktik, manajemen tekanan, dan kerasnya tuntutan hasil instan di Premier League.
Penghargaan Individu dan Momen Terbaik Amorim di MU
Di tengah inkonsistensi, Amorim sempat menorehkan capaian individual:
1. Premier League Manager of the Month (Oktober 2025).
2. Bulan terbaik United di bawah Amorim, dengan rekor 100% kemenangan.
3. Menang 2-1 vs Liverpool di Anfield (20 Oktober 2025).
Kemenangan tandang langka di markas Liverpool, pertama sejak 2016, yang sempat memantik optimisme fans.
Namun, lonjakan performa itu tak berlanjut konsisten pada bulan-bulan berikutnya.
Statistik Kinerja di Bawah Standar Big Six
Hingga Januari 2026, Amorim memimpin lebih dari 60 laga di semua ajang dengan gambaran rapor berikut:
Win rate: 39%–45% (rendah untuk standar Big Six).
Posisi saat berpisah: Peringkat 6 klasemen sementara.
Belanja pemain: lebih dari €280 juta, difokuskan untuk menyesuaikan skema 3-4-3, namun return of investment dinilai belum sepadan.
Revolusi Taktik Berani tapi Rentan
Amorim konsisten menerapkan 3-4-3/3-4-2-1, meninggalkan pakem 4-2-3-1. Dampaknya:
Positifnya, penguasaan bola di area lawan meningkat, beberapa pemain (seperti striker dan gelandang kreatif) sempat tampil lebih efektif dalam peran baru.
Negatifnya, transisi bertahan rapuh. United kerap kebobolan dari serangan balik cepat. Ini masalah yang tak kunjung tuntas hingga akhir masa jabatan.
Rekor Negatif yang Membayangi
Objektivitas menuntut melihat sisi gelap era Amorim:
Lebih banyak kalah daripada menang dalam satu tahun kalender (2025).
Rekor kekalahan kandang beruntun terburuk sejak 1979.
Kebobolan di 15 laga tandang beruntun.
Tersingkir dini Carabao Cup (kalah adu penalti dari Grimsby Town, Agustus 2025).
Menilai era Amorim ibarat dua sisi mata uang. Ia gagal menghadirkan trofi mayor dan pergi dengan statistik kemenangan yang tak impresif.
Namun, ia berani merombak DNA permainan, meninggalkan momen ikonik (Anfield), serta memberi gambaran arah permainan yang di atas kertas menjanjikan.
Bagi suporter United, era ini akan dikenang sebagai masa transisi penuh turbulensi. Pertanyaannya sekarang, siapa pelatih MU berikutnya? (naz)
Editor : Mizan Ahsani