Jawa Pos Radar Madiun - Manchester United resmi mengakhiri kerja sama dengan Ruben Amorim.
Keputusan itu bukan diambil secara mendadak, melainkan hasil akumulasi persoalan teknis, emosional, hingga statistik yang dinilai tak bisa lagi ditoleransi oleh manajemen klub.
Mengutip laporan Sky Sports News, perilaku Amorim yang dinilai emosional dan tidak konsisten menjadi faktor utama di balik pemecatan tersebut.
Manchester United awalnya menginginkan stabilitas dan struktur saat menunjuk Amorim, sesuatu yang sempat terlihat di fase awal masa jabatannya.
Titik balik terjadi saat Amorim dijadwalkan bertemu dengan Direktur Sepak Bola Jason Wilcox pada Jumat lalu.
Dalam pertemuan tersebut, pendekatan taktis tim dibahas secara mendetail.
Menurut sumber internal klub, respons Amorim dalam diskusi itu dinilai sangat negatif dan emosional.
Sikap tersebut membuat petinggi klub kehilangan keyakinan bahwa Amorim mampu memimpin proses jangka panjang yang sebelumnya telah disepakati bersama.
Bukan Masalah Formasi 3-4-3
Pemecatan Amorim tidak berkaitan langsung dengan preferensinya terhadap formasi 3-4-3.
Manchester United menegaskan bahwa persoalan utamanya adalah penolakan sang pelatih untuk menyesuaikan taktik dengan kondisi pertandingan dan dinamika skuad.
Klub menilai Amorim gagal mengembangkan sistemnya sesuai kebutuhan tim, meski sempat diberi kepercayaan penuh untuk membangun fondasi permainan.
Bukan Gara-gara Transfer Januari
Isu perbedaan pandangan soal bursa transfer Januari juga bukan alasan utama pemecatan.
Meski ada ketidaksepakatan mengenai urgensi belanja pemain, hal itu tidak pernah menjadi faktor penentu.
Sumber klub menyebut Manchester United telah menggelontorkan sekitar £250 juta untuk pemain baru sejak Amorim datang.
Amorim pun mengetahui sejak awal bahwa prioritas penguatan lini tengah direncanakan pada bursa musim panas.
Upaya mendatangkan Antoine Semenyo dari Bournemouth disebut bersifat oportunistik dan tidak akan mengganggu rencana jangka panjang klub.
Sikap Negatif dan Optimisme yang Hilang
Petinggi Manchester United merasa skuad masih memiliki peluang realistis untuk finis di zona Eropa.
Namun, sikap Amorim yang kerap melontarkan pernyataan emosional dan bernada pesimistis di media dinilai merusak stabilitas internal.
Kesimpulan manajemen, meski mereka percaya pada kualitas para pemain, Amorim dianggap tidak memiliki optimisme dan visi yang sejalan dengan klub.
Statistik Buruk Amorim di Manchester United
Sejumlah data memperkuat keputusan pemecatan Ruben Amorim:
• Amorim hanya memenangkan 24 dari 63 pertandingan di semua kompetisi (38,1 persen), terburuk di era pasca Sir Alex Ferguson, kecuali Ralf Rangnick (37,9 persen).
• United menang 15 dari 47 laga Premier League di bawah Amorim, dengan 19 kekalahan.
• Rata-rata 1,23 poin per pertandingan, terendah di antara semua manajer Manchester United era Premier League.
• Rentetan kemenangan terpanjang hanya tiga laga.
• Amorim kalah tepat sepertiga dari total pertandingan yang dipimpinnya, rekor terburuk sejak era Frank O’Farrell pada awal 1970-an.
Masa Depan Amorim
Menurut informasi Sky Sports News, Amorim diperkirakan akan kembali ke Portugal dalam beberapa hari ke depan.
Belum ada kejelasan apakah ia akan langsung kembali melatih atau mengambil jeda dari dunia kepelatihan.
Manchester United sendiri menegaskan bahwa mereka tidak ingin terus mengganti pelatih kepala.
Namun, kombinasi hasil buruk, konflik internal, dan atmosfer negatif membuat perubahan dianggap tak terelakkan.
Editor : Ockta Prana Lagawira