Jawa Pos Radar Madiun - Juara bertahan Crystal Palace mengalami malam paling kelam dalam sejarah Piala FA setelah tersingkir secara mengejutkan dari tangan Macclesfield, tim National League North, Sabtu.
Kekalahan 1-2 di Moss Rose membuat Palace tercatat sebagai juara bertahan pertama yang tersingkir oleh tim non-Liga dalam 117 tahun terakhir, sebuah noda sejarah yang memicu kemarahan besar dari sang pelatih Oliver Glasner.
Glasner: “Kami Kekurangan Segalanya”
Glasner tak menahan amarahnya usai pertandingan dan secara terbuka mengkritik kualitas permainan anak asuhnya.
"Kami sama sekali tidak berkualitas hari ini. Kebobolan gol dari bola mati hasil sundulan - kami seharusnya bisa bermain lebih baik. Gol kedua itu konyol."
Ia menilai kegagalan Palace bukan semata soal taktik, melainkan soal mental dan kualitas individu di lapangan.
"Di sisi lain, jika Anda tidak bisa menciptakan peluang yang jelas... itu hanya menunjukkan kurangnya kualitas yang kami tunjukkan hari ini. Kami kalah dan kami pantas kalah."
Pergantian pemain ofensif yang dilakukan sejak babak pertama pun tak mampu mengubah keadaan.
"Saya mengharapkan kualitas dari semua orang. Saya memasukkan lebih banyak pemain menyerang [pada babak pertama], tetapi saya tidak punya penjelasan untuk apa yang saya lihat hari ini."
Macclesfield Tanpa Beban, Palace Tanpa Jawaban
Macclesfield tampil lepas sejak menit awal dan berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-43 melalui sundulan Paul Dawson yang memanfaatkan umpan Luke Duffy.
Kepercayaan diri tuan rumah meningkat di babak kedua. Isaac Buckley-Ricketts menggandakan keunggulan pada menit ke-60 dan membuat publik Moss Rose bergemuruh.
Crystal Palace baru mampu mencetak gol balasan di menit ke-90 lewat Yeremy Pino, namun gol itu datang terlalu terlambat untuk menyelamatkan sang juara bertahan dari kekalahan memalukan.
Kritik Keras Berlanjut di Ruang Konferensi Pers
Glasner kembali melontarkan kritik pedas saat konferensi pers pasca-laga, menyebut performa timnya nyaris tanpa sisi positif.
"Semua yang saya coba jelaskan tentang penampilan ini, atau untuk mencari alasan, akan sepenuhnya salah."
"Saya tidak punya kata-kata untuk penampilan hari ini. Ini bukan hanya tentang kekalahan, tetapi juga tentang hampir tidak menciptakan peluang di lini serang."
Ia menyoroti minimnya kualitas dasar para pemainnya sepanjang pertandingan.
"Sangat sulit untuk menontonnya. Tidak ada seorang pun yang bisa menggiring bola melewati lawan, tidak ada kekuatan fisik, dan kami tidak mampu masuk ke area berbahaya."
"Serangan kami hari ini sama sekali tidak berkualitas, dan itulah yang membuat ini sangat mengecewakan."
Catatan Sejarah Kelam Palace
Kekalahan ini menempatkan Crystal Palace dalam buku sejarah Piala FA dengan catatan pahit.
Terakhir kali juara bertahan Piala FA disingkirkan tim non-Liga terjadi pada musim 1908/09 — dan ironisnya, pelakunya kala itu adalah Palace sendiri saat menyingkirkan Wolves.
Mantan pemain Palace, Clinton Morrison, turut mengecam performa mantan klubnya dan menyebut penampilan tersebut sebagai “memalukan”.
Editor : Ockta Prana Lagawira