ITALIA - Atlet seluncur salju Kira Kimura memastikan Olimpiade Musim Dingin Tim Jepang dimulai dengan gemilang pada Sabtu (7/2).
Namun, untuk meraihnya, Kimura harus “melompati” rekan satu timnya sendiri.
Kimura dan Ryoma Kimata finis di posisi satu dan dua dalam kompetisi big air putra di Livigno Snow Park.
Sementara Su Yiming dari Tiongkok—peraih emas Olimpiade 2022—harus puas dengan medali perunggu.
“Ini adalah mimpi yang saya miliki sejak saya masih sangat kecil,” kata Kimura kepada wartawan. “Saya senang mimpi ini menjadi kenyataan.”
Lompatan Terakhir Jadi Penentu Emas
Pemain berusia 21 tahun itu memasuki putaran terakhir dari tiga percobaan di posisi keempat, setelah tersandung pada percobaan keduanya.
Itu berarti, Kimura wajib tampil sempurna di lompatan terakhir untuk melewati dua atlet teratas, yakni Kimata dan Su.
Dua percobaan terbaik tiap atlet dihitung untuk skor akhir.
Dengan tekanan penuh, Kimura mendarat sempurna pada trik switch backside 1980 (5½ putaran) mute grab.
Ia langsung mengangkat kedua tangannya, lalu menyaksikan para juri memberinya 90,50 poin, sehingga total skornya menjadi 179,50.
Kimura pun menjadi pengendara pertama—dan ternyata satu-satunya—yang menembus angka 90 poin dalam satu lompatan.
Su Yiming Gagal Salip, Jepang Pastikan Emas
Su menjadi penunggang kedua terakhir yang tampil, tetapi menyentuhkan tangannya saat mendarat.
Ia hanya mampu naik ke posisi ketiga, yang sekaligus memastikan Jepang meraih medali emas pertama di Olimpiade.
Satu-satunya pertanyaan saat itu tinggal: siapa yang memakainya.
Kimata sendiri membutuhkan skor besar untuk mengejar Kimura, tetapi gagal memperbaiki skor 171,50 dari dua lompatan pertamanya. Ia pun harus puas dengan medali perak.
Kimura Bangkit dari Cedera, Akhirnya Berdiri di Puncak Podium
Kimura mengaku ia sempat mengalami cedera musim lalu. Namun, ia bekerja keras sepanjang musim panas hingga akhirnya tampil tanpa beban.
“Tahun lalu, saya sangat cemas tentang trik-trik, tetapi tahun ini, kecemasan itu benar-benar hilang,” kata Kimura.
Kimura juga belum pernah memenangkan emas Piala Dunia, meski tiga kali menjadi runner-up. Karena itu, momen berdiri di podium tertinggi Olimpiade terasa sangat spesial.
“Saya benar-benar tidak bisa memenangkan ajang Piala Dunia dalam waktu yang lama. Menang di tempat seperti ini membuat saya sangat bahagia,” ujarnya.
Kimata: “Medalinya Menyebalkan, Tapi Dia Luar Biasa”
Kimata tetap tersenyum saat berbicara kepada wartawan meski disalip di momen terakhir.
“Saya mampu mengeksekusi trik-trik saya dengan kualitas maksimal. Saya finis di posisi kedua, tetapi saya tidak menyesal,” katanya.
Ia bahkan menyebut Olimpiade punya aura berbeda.
“Kurasa Olimpiade memang memiliki kekuatan istimewa, bukan? Aku bisa merasakannya saat bangun tidur pagi ini.”
Kimata juga tak menahan candaan soal emas yang direbut Kimura.
“Medalinya itu sangat menyebalkan,” katanya sambil tertawa. “Tapi dia luar biasa hebat, jadi yang bisa kukatakan hanyalah 'wow'.”
Jepang Masih Punya Banyak Kandidat Medali
Dalam kompetisi ini, dua atlet Jepang lainnya gagal bersinar.
Taiga Hasegawa finis di urutan ke-11 setelah gagal di dua lompatan. Sedangkan Hiroto Ogiwara yang sempat mencatat skor kualifikasi terbaik, finis ke-12.
Meski begitu, Jepang diyakini masih punya peluang panen medali di Livigno Snow Park selama dua pekan ke depan.
Bintang halfpipe Ayumu Hirano dijadwalkan tampil pada Jumat, berupaya mempertahankan gelar Olimpiade meski masih dibayangi cedera.
Sementara itu, Tsubaki Miki juga akan mencoba merebut emas di nomor slalom raksasa paralel pada Minggu.
Editor : Ockta Prana Lagawira