Oleh: Giffarri Ahsan
PERINGATAN 19 tahun Tsunami Aceh pada 26 desember 2023 lalu menginspirasi saya untuk menyambangi Bumi Serambi Makkah.
Padahal saya bekerja di daerah Blang Pidie yang kini bernama Kabupaten Aceh Barat Daya. Jarak Blang Pidie ke Banda Aceh jauh. Yakni 358,4 kilometer.
Waktu tempuhnya hampir delapan jam berkendara sepeda motor.
Meski begitu, saya tetap ingin menapak tanah Banda Aceh. Menyambangi Museum Tsunami Aceh yang merekam getirnya musibah di tahun 2004 silam.
Selain itu, saya ingin melihat dari dekat seperti apa jejak kebesaran Islam di sana.
Aceh memang punya sejarah panjang dalam persebaran Islam di Indonesia. Sejarah mencatat Islam dibawa pertama kali oleh para saudagar menyebarkannya di wilayah Aceh.
Interaksi para saudagar dan pemuka agama melahirkan pemukiman Islam di Aceh.
Dari permukiman kecil itu, lalu bertumbuh menjadi kerajaan Islam, dan kemudian memengaruhi corak agama kerajaan-kerajaan di Indonesia.
Pun hingga sekarang, masyarakat Aceh tetap memegang teguh adat dan syariat Islam sebagai hukum yang berlaku.
Sabtu, 29 Desember 2023. Hari yang ditunggu itu tiba. Saya merealisasikan rencana touring yang cukup nekat ini.
Di Blang Pidie, adzan subuh berkumandang pukul 05.25, dan matahari baru terbit pukul 07.05.
Tepat ketika cahaya matahari baru tampak, saya berpamitan dan memulai perjalanan menuju Banda Aceh. Bismillah.
Dari Blang Pidie, saya memacu sepeda motor menuju arah utara. Setelah dua jam berkendara, saya baru menyadari kalau perjalanan ini terasa sepi.
Sebagai satu-satunya jalan yang menghubungkan Banda Aceh dan Medan, Jalan Lintas Barat Sumatera ini tidak banyak dilalui mobil.
Masyarakat yang ingin berpergian di sini mengandalkan jasa travel yang biasanya berangkat malam.
Supaya ketika sampai di Banda Aceh atau Medan, sudah pagi dan langsung melanjutkan aktivitas.
Dari Blang Pidie menuju Babahrot, saya terus melanjutkan perjalanan hingga Nagan Raya. Daerah Nagan raya ditandai dengan jalanan yang relatif lebar dan lurus.
Selain itu, kawasan ini penuh dengan perkebunan sawit. Cukup menjemukan karena jalanan di sini lebih banyak lurus dan vegetasi yang sama sejauh mata memandang.
Di pusat keramaian Nagan Raya, ada Masjid Baitul A’la atau yang dikenal dengan Masjid Giok Nagan Raya.
Masjid unik ini belum selesai dibangun. Namun seluruh lantai, dinding dan beberapa pilar telah dihiasi dengan batu giok yang indah.
Masjid ini memiliki lahan parkir di lantai satu, dan untuk masuk ke masjid harus naik ke lantai dua.
Terdapat wudhu saat menuju lantai dua masjid. Sayangnya masjid ini belum ramah untuk lansia dan yang berkebutuhan khusus karena satu satunya akses menuju masjid hanya lewat tangga.
Pun, tangganya cukup curam. Namun tak dipungkiri, batu giok yang menghiasi berbagai sisi membuat masjid ini terlihat megah.
Selesai salat dan beristirahat, saya kembali melanjutkan perjalanan menuju Meulaboh, ibukota Kabupaten Aceh Barat.
Di Meulaboh ada Masjid Agung Baitul Makmur. Masjid besar yang indah dan bersih ini memiliki corak arsitektur seperti masjid timur tengah.
Di Meulaboh, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil mengisi bensin. Mumpung ada waktu, sekalian mencicip jajanan Aceh.
Setelah beristirahat sejenak, saya melanjutkan perjalanan hingga Calang. Daerah ini saya anggap sebagai check point kedua.
Perjalanan dari Meulaboh menuju Calang dihiasi berbagai pantai yang indah. Bahkan menurut saya lebih indah dari Pantai Sanur di Bali atau jajaran pantai di wilayah Gunungkidul, Jogjakarta.
Ada pantai dengan hamparan pasir putih luas. Juga ada pantai dengan ombak yang lumayan tenang ataupun yang cukup kuat untuk berselancar. Tinggal pilih.
Pemandangan pantai yang indah ini berlanjut setelah melewati Calang.
Di antaranya melalui Taman Wisata Geulumpang Raya, Pantai Patek, Pantai Pasie Saka, Panteloh Keutapang.
Setelah melewati jajaran pantai yang indah, saya tiba di Puncak Geurutee, Lamno, Aceh Jaya. Dari atas sini, tampak pantai berpasir putih dengan sebuah bukit di ujungnya.
Nama pantainya Ujong Seudeun. Pantai ini langsung berhadapan dengan Samudera Hindia.
Jalanan melewati Puncak Geurutee ini berbahaya karena sempit dan banyak tikungan tajam. Tanjakannya juga cukup curam.
Ketika cerah, di kawasan Puncak Geurute mudah dijumpai monyet liar yang hinggap di ranting dan cabang pohon karena terbiasa diberi makanan oleh orang yang lewat.
Postur monyet liar ini cukup besar, sekilas hampir setinggi anak manusia umur 6 tahun.
Tidak disarankan bagi pengendara untuk melambat dan berhenti untuk berinteraksi dengan monyet liar ini karena selain besar, mereka juga bergerombol.
Turun dari Puncak Geurutee, terdapat rest area yang dapat dipakai untuk istirahat sejenak, dan tidak jauh dari sini terdapat villa yang dapat disewa untuk rekreasi keluarga.
Dari sini ke Banda Aceh, ada banyak pantai cantik yang bisa dikunjungi. Seperti Pantai Lhokseudu, Pantai Penyu, atau Pantai Lhoknga.
Lhoknga menandai akhir deretan pantai cantik di perjalanan menuju Banda Aceh karena jalan menuju Banda Aceh memotong ke dalam, menuju Aceh Besar.
Daerah berikutnya yang dilewati adalah Lampisang, sekaligus daerah terakhir sebelum memasuki Banda Aceh.
Di Lampisang terdapat bangunan bersejarah Rumah Cut Nyak Dhien di kiri jalan dengan arsitektur tradisional Aceh.
Setelah delapan jam perjalanan, saya tiba di Banda Aceh.
Saya memutuskan untuk langsung ke Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Masjid ini berada di pusat kota Banda Aceh.
Untuk masjid ini, saya melalui Museum Tsunami Aceh, beberapa kantor pemerintah dan Alun-alun atau biasa disebut lapangan Blang Padang.
Jalan masuk ke masjid ini melalui gerbang utama (jika berjalan kaki) atau melalui parkiran basement yang dibedakan antara motor dan mobil.
Setelah memarkir kendaraan, saya dan pengendara lainnya langsung masuk ke area lorong yang telah suci, jadi tidak boleh memakai alas kaki.
Pun, alas kaki tidak perlu ditinggalkan di pintu masuk karena di dalam lorong tersebut sudah ada penitipan sandal dan sepatu.
Lorong dibedakan menjadi dua, untuk ikhwan (laki laki) dan akhwat (perempuan). Di ujung masing-masing lorong terdapat toilet, kamar mandi, penitipan sandal dan sepatu.
Bagi lansia atau pengunjung berkebutuhan khusus, terdapat elevator untuk naik menuju pelataran dengan lebih mudah.
Sampai di pelataran, mata langsung disuguhkan pada pemandangan nan indah.
Mengusung gaya arsitektur tradisional Aceh dan dipadukan dengan gaya timur tengah, Masjid Baiturrahman kian megah bila disaksikan setelah hujan.
Perjalanan delapan jam dari Blang Pidie ke Banda Aceh seakan terbayarkan setelah melihat pemandangan masjid seindah ini. (*/naz)
Penulis merupakan warga Kota Madiun yang tinggal dan bekerja di Blang Pidie, Aceh Barat Daya
Editor : Mizan Ahsani