MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Keanekaragaman budaya lokal Jawa terus dilestarikan masyarakat.
Salah satunya manuskrip daun lontar yang menjadi souvenir wajib bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung di desa wisata Gunungsari, Kecamatan/Kabupaten Madiun.
Sebelum mengenal kertas sebagai media mencatat sejarah dan peradaban.
Zaman dulu, masyarakat Indonesia telah memiliki budaya manuskrip yang beraneka ragam di berbagai wilayah berbeda, tak terkecuali di Jawa yang dikenal dengan daun lontar.
Manuskrip yang sudah ditinggalkan itu mulai dihidupkan dan dilestarikan kembali di Desa Wisata Gunungsari, Kecamatan/Kabupaten Madiun.
Bahkan dijadikan salah satu objek atraksi wisata di desa wisata.
“Lontar aksara jawa ini kami kembangkan sebagaimana amanat UU 5/2017 tentang Kemajuan Kebudayaan, dari 10 objek kebudayaan yang harus dikembangkan dan dihidupkan ataupun direvitalisasi, salah satunya budaya manuskrip dan di Jawa ini ada daun lontar medianya,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Gunungsari Bernadi Sabit Dangin.
Bernadi berharap dengan atraksi tersebut dapat mengedukasi generasi muda untuk ikut melestarikan budaya tersebut.
“Jadi pengunjung akan diajari penulisan aksara Jawa dengan mengalih aksarakan nama mereka dari latin ke Jawa,” paparnya.
“Setelahnya pengunjung akan kami ajak cara menyerat daun lontar dan menulis dengan cara diukir menggunakan pisau khusus yang memang butuh ketelatenan karena daun lontar rentan dan mudah sobek,” lanjut Bernadi.
Dia juga menambahkan penulisan di daun lontar bisa beragam jenis aksara dan bahasa.
Bisa bahasa Indonesia dengan aksara latin, maupun bahasa atau aksara lain.
Pun dalam penulisan bisa disesuaikan dengan keinginan, mulai dari biodata, surat akta kelahiran atau akta pernikahan hingga surat penghargaan atau piagam yang kemudian di-translate dalam bahasa Jawa dan ditulis aksara Jawa.
“Pernah juga kami menerima pesanan aksara dari Cina dituliskan di daun lontar dan ternyata bisa, ini cukup unik karena menjadi akulturasi budaya dua negara,” ujarnya.
“Selain kami bentuk sebagai atraksi wisata budaya sempat kami gelar Festival Lontar Aksara Jawa, namun masih belum berlanjut lantaran terkendala anggaran dan SDM yang terbatas untuk penyelenggaraannya,” imbuh Bernadi. (ryu/aan)
Editor : Mizan Ahsani