Jawa Pos Radar Madiun – Di tengah-tengah Jawa Timur, Gunung Wilis—atau dikenal juga sebagai Gunung Liman—menawarkan alternatif pendakian sunyi yang belum banyak dijamah.
Dengan ketinggian mencapai 2.563 mdpl, gunung berapi non-aktif ini membentang megah melintasi enam kabupaten sekaligus: Nganjuk, Tulungagung, Kediri, Ponorogo, Madiun, dan Trenggalek.
Bukan sekadar tempat untuk mendaki, Gunung Wilis menyuguhkan nuansa spiritual, panorama alam yang alami, serta jejak budaya lokal yang masih terjaga.
Tak heran, banyak pendaki menyebutnya sebagai “permata tersembunyi” di Jawa Timur.
Jalur Pendakian Gunung Wilis dari Enam Arah Kabupaten
Pendakian Gunung Wilis dapat dimulai dari sejumlah basecamp resmi maupun semi-resmi. Berikut rute populer dan tantangannya:
• Basecamp Bareng (Nganjuk)
Jalur favorit dengan akses termudah, dekat Air Terjun Sedudo. Cocok untuk pendaki pemula hingga menengah.
• Basecamp Sendang (Tulungagung)
Medan curam dan teknikal, diperuntukkan bagi pendaki berpengalaman. Alam liar jadi daya tarik utama.
• Basecamp Besuki (Kediri)
Terhubung dengan wisata Air Terjun Dholo dan Irenggolo. Jalur seimbang antara tantangan dan kenyamanan.
• Basecamp Candi (Ponorogo)
Dimulai dari sekitar Telaga Ngebel. Pemandangan memukau sejak awal, tetapi jalur cukup panjang dan menanjak.
• Basecamp Kare (Madiun)
Masih jarang dilalui, cocok bagi pecinta pendakian hening. Melewati kebun dan hutan perawan.
• Jalur Munjungan (Trenggalek)
Jalur semi-resmi yang masih minim petunjuk, disarankan hanya bagi pendaki berpengalaman dengan pemandu lokal.
Pesona Alam Gunung Wilis yang Masih Murni
Sepanjang jalur pendakian, Anda akan disuguhkan lanskap hutan hujan tropis, lembah berkabut, dan sumber air jernih. Beberapa titik jalur memiliki air terjun seperti Sedudo, Dholo, dan Irenggolo, yang bisa jadi lokasi istirahat sekaligus spot foto.
Di sisi Ponorogo, Telaga Ngebel sering dijadikan tempat berkemah atau transit sebelum muncak. Sementara di sisi Kediri dan Tulungagung, vegetasi yang rimbun menambah kesan eksklusif perjalanan Anda.
Puncak Liman: Panorama 360 Derajat di Atas Awan
Puncak Liman merupakan titik tertinggi dari Gunung Wilis. Jika cuaca cerah, pendaki dapat menyaksikan siluet Gunung Lawu, Arjuno, hingga Semeru.
Udara tipis dan suasana sakral di atas awan menjadi hadiah terbaik bagi siapa saja yang berhasil sampai di titik ini.
Nilai Budaya dan Spiritualitas Gunung Wilis
Gunung ini juga menyimpan jejak spiritual yang kuat. Di beberapa jalur seperti Bareng dan Kare, pendaki bisa menemukan punden, petilasan, atau situs pertapaan.
Masyarakat lokal masih menjadikan Gunung Wilis sebagai tempat laku spiritual, terutama saat bulan Suro.
Tips Mendaki Gunung Wilis dengan Aman
• Pilih jalur sesuai kemampuan fisik: Bareng dan Besuki cocok untuk pemula. Sendang dan Candi untuk pendaki berpengalaman.
• Gunakan jasa pemandu lokal, terutama jika melewati jalur seperti Kare atau Munjungan.
• Musim terbaik untuk pendakian adalah Mei–Agustus saat jalur tidak licin dan cuaca cerah.
• Bawa perlengkapan lengkap, termasuk jas hujan, kompas, dan kantong sampah. Ingat prinsip Leave No Trace.
Gunung Wilis bukan hanya destinasi pendakian, tapi juga perwujudan keheningan alam, kebudayaan lokal, dan jejak spiritual.
Dengan enam jalur pendakian dari berbagai arah kabupaten, setiap pendaki bisa mendapatkan pengalaman yang unik dan tak terlupakan.
Jika Anda mencari pendakian yang masih alami, penuh kejutan, dan jauh dari keramaian, Gunung Wilis adalah jawabannya. (ota)
Editor : Ockta Prana Lagawira