Jawa Pos Radar Madiun – Telaga Sarangan di kaki Gunung Lawu selama ini identik dengan kepadatan wisatawan, terutama saat libur panjang dan Tahun Baru.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa Sarangan justru menawarkan pesona berbeda saat malam hari.
Ketika malam, arus lalu lintas padat merayap du jalur menuju lokasi wisata. Bahkan, hingga berkilo-kilo meter antrean kendaraan.
Saat tahun baru, lokasi telaga juga kerap dipenuhi antrean kendaraan, perahu wisata, dan hiruk-pikuk pengunjung.
Namun, suasana Sarangan akan terasa berubah total selepas matahari terbenam.
Telaga ikonik Kabupaten Magetan itu menjelma menjadi kawasan wisata yang lebih lengang, dingin, dan penuh nuansa romantis.
Tak heran, sebagian wisatawan sengaja memilih datang malam hari, terutama mereka yang ingin menghindari macet parah di jalur menuju Sarangan.
Erik Ermawan, pedagang sate kelinci, kuliner khas Telaga Sarangan, mengakui tren wisata malam ke Sarangan terus meningkat, khususnya saat akhir pekan dan libur panjang.
“Pengunjungnya lumayan banyak ini, meningkat tapi tidak terlalu ramai,” kata Erik kepada Jawa Pos Radar Madiun, Minggu (28/12).
Di menyebut, mayoritas wisatawan datang dari luar daerah.
“Banyak yang datang dari Tulungagung, Sragen, Madiun, Bojonegoro, dan daerah lain,” lanjutnya.
Ya, begitu malam tiba, suhu udara di kawasan Sarangan bisa turun drastis hingga di bawah 18 derajat Celsius.
Dinginnya udara pegunungan justru menjadi daya tarik utama, terutama bagi wisatawan dari daerah perkotaan yang sehari-hari akrab dengan hawa panas.
Banyak pengunjung memilih duduk santai di tepi telaga, menikmati suasana sejuk sambil berbincang atau sekadar melepas penat.
Wisata malam di Sarangan tak lengkap tanpa mencicipi kuliner khasnya.
Jagung bakar, wedang ronde, sate kelinci, hingga nasi pecel pincuk menjadi menu favorit.
Santapan hangat terasa semakin nikmat saat dinikmati sembari menyaksikan pantulan cahaya lampu di permukaan telaga yang tenang.
Lampu-lampu warung makan dan penginapan di sekitar telaga memantul indah di air, menciptakan suasana romantis yang jarang ditemui di siang hari.
Jalan setapak di tepian danau yang temaram, berpadu udara dingin pegunungan, membuat Sarangan malam hari kerap jadi pilihan pasangan muda hingga keluarga kecil.
Bagi penggemar fotografi, malam hari justru menjadi waktu terbaik mengabadikan Sarangan.
Kabut tipis yang turun perlahan, siluet perahu di telaga, serta cahaya lampu dari kejauhan menghadirkan komposisi foto yang dramatis dan estetik.
Tak sedikit wisatawan yang sengaja menunggu malam demi mendapatkan potret ikonik Sarangan.
Berbeda dengan siang hari yang penuh suara mesin dan kerumunan, malam di Sarangan menawarkan ketenangan.
Suasana menjadi momen reflektif sepanjang 2025 bagi pengunjung yang ingin menenangkan pikiran.
Pun, lokasi yang tepat untuk menyiapkan rencana hidup ke depan. Setidaknya selama 2026 mendatang. (den)
Editor : Deni Kurniawan