7 Tren Wisata 2026: Destinasi Terpencil Jadi Tujuan Healing, Tempat Liburan Ramai Mulai Ditinggalkan
Mimien Samini• Senin, 5 Januari 2026 | 09:40 WIB
KEARIFAN LOKAL: Test tour wisata Sumbersawit turut menyajikan aktivitas yoga dan tradisi lokal lainnya.
Selamat Tinggal Keramaian! Tren Wisata 2026 Bukan Lagi Pamer Foto, tapi Healing ke Tempat Terpencil
Jawa Pos Radar Madiun – Tahun 2026 menandai pergeseran besar dalam gaya liburan masyarakat dunia.
Jika dulu liburan identik dengan destinasi populer yang instagramable dan padat turis, kini arah angin berubah total.
Wisatawan modern mulai meninggalkan konsep "Fear of Missing Out" (FOMO) dan beralih mencari ketenangan jiwa.
Berdasarkan prediksi tren pariwisata 2026, benang merah yang terlihat jelas adalah keinginan kuat untuk menjauh dari keramaian demi mengobati kelelahan mental (burnout) akibat tekanan hidup digital.
Berikut 7 tren wisata yang diprediksi akan mendominasi sepanjang tahun ini:
1. "Hidden Gem" Terpencil Jadi Primadona
Lupakan kota metropolitan yang macet. Pulau kecil tak berpenghuni, desa di pelosok pegunungan, dan hutan yang sunyi kini menjadi incaran utama.
Wisatawan mencari tempat di mana mereka bisa benar-benar "menghilang" sejenak dari radar sosial.
2. Wisata Berbasis Kesehatan Mental (Wellness)
Liburan bukan lagi sekadar jalan-jalan fisik, tapi juga "servis" emosional.
Paket wisata yang menawarkan retreat meditasi, yoga di alam terbuka, hingga perjalanan hening (silent trip) semakin laris manis.
3. Slow Travel: Nikmati Prosesnya
Tren touch and go (datang, foto, pergi) mulai ditinggalkan.
Wisatawan 2026 lebih memilih Slow Travel, yakni menetap lebih lama di satu lokasi untuk benar-benar menyerap suasana, alih-alih berpindah-pindah tempat dengan jadwal ketat yang melelahkan.
4. Digital Detox: No Signal, No Problem
Kemewahan baru di tahun 2026 bukanlah hotel bintang lima dengan Wi-Fi kencang, melainkan tempat yang susah sinyal.
Banyak pelancong sengaja mencari blind spot internet agar bisa lepas dari notifikasi gawai dan fokus pada ketenangan pikiran.
5. Liburan Personal dan Intim
Wisata massal (mass tourism) dengan rombongan besar mulai dihindari. Tren beralih ke solo traveling atau perjalanan kelompok kecil (keluarga inti/sahabat dekat) demi menjaga privasi dan kualitas interaksi.
6. Autentik Bersama Warga Lokal
Menginap di hotel mewah sudah biasa.
Daya tarik baru adalah tinggal di homestay rumah penduduk, belajar memasak makanan tradisional, dan merasakan kehidupan warga lokal yang asli (authentic experience).
7. Wisata Berkelanjutan (Eco-Tourism)
Kesadaran lingkungan makin tinggi.
Wisatawan kini lebih selektif memilih akomodasi yang ramah lingkungan dan operator wisata yang memberdayakan ekonomi warga sekitar, bukan yang merusak alam.
Jadi, sudah siapkah Anda mematikan ponsel dan menyepi ke desa wisata terdekat akhir pekan ini? (naz)