Jawa Pos Radar Madiun – Berbicara soal kuliner viral di Yogyakarta, nama Warung Kopi Klotok hampir selalu masuk daftar rekomendasi. Berlokasi di kawasan Kaliurang, Sleman, tempat makan ini tak pernah sepi pengunjung, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.
Mengusung konsep warung rumahan dengan nuansa pedesaan, Warung Kopi Klotok menawarkan pengalaman makan yang sederhana namun berkesan.
Suasana Pedesaan yang Jadi Daya Tarik
Salah satu alasan Warung Kopi Klotok selalu ramai adalah suasananya yang khas. Bangunan joglo sederhana dengan meja dan kursi kayu menghadirkan nuansa tradisional Jawa.
Dari area makan, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan sawah dan latar Gunung Merapi yang menambah kesan alami dan tenang.
Menu Rumahan yang Bikin Rindu
Warung Kopi Klotok dikenal dengan menu masakan rumahan seperti:
Sayur lodeh terong
Telur dadar tebal
Tempe dan tahu goreng
Ayam goreng kampung
Sambal khas pedas
Sistem penyajiannya pun unik, sebagian menu disajikan prasmanan sehingga pengunjung bisa memilih sesuai selera.
Kopi Klotok yang Ikonik
Sesuai namanya, kopi di tempat ini juga menjadi daya tarik utama. Kopi disajikan dengan cara tradisional, menghadirkan cita rasa khas yang kuat.
Nama “klotok” sendiri merujuk pada bunyi alat atau suasana tradisional yang identik dengan pedesaan.
Selalu Ramai, Datang Lebih Awal Disarankan
Karena popularitasnya yang terus meningkat di media sosial, Warung Kopi Klotok hampir selalu dipadati pengunjung. Tak jarang antrean mengular, terutama pada jam makan siang.
Pengunjung disarankan datang lebih pagi untuk menghindari antrean panjang.
- Baca Juga: Auto Betah! 5 Cafe Hits Yogyakarta 2026 yang Lagi Ramai Diburu, Nomor 3 Punya View Bikin Lupa Pulang
Warung Kopi Klotok bukan sekadar tempat makan, tetapi juga destinasi kuliner yang menghadirkan pengalaman khas Yogyakarta. Perpaduan suasana desa, menu sederhana, dan harga terjangkau menjadikannya kuliner viral yang tetap konsisten diminati.
Kalau ke Jogja, Warung Kopi Klotok sudah masuk daftar kunjunganmu? (*)
* Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani