Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Pasar Ini Buka 24 Jam dan Sudah Ada Sejak 1930, Tapi Isinya Jauh Lebih Menarik dari yang Kamu Bayangkan

Tim Magang Radar Madiun • Kamis, 2 Juli 2026 | 10:27 WIB
Pasar Gede Hardjonagoro Solo (Maps/Andik Purwanto)
Pasar Gede Hardjonagoro Solo (Maps/Andik Purwanto)

Jawa Pos Radar Madiun -  Jam menunjukkan pukul enam pagi, tapi Pasar Gede Hardjonagoro sudah ramai sejak tadi.

Aroma jenang gempol bercampur uap soto dan suara tawar-menawar pedagang menciptakan simfoni yang sangat khas. suara Solo yang sesungguhnya, jauh dari kesan kota yang terus bersolek modern.

Di sinilah denyut nadi kehidupan sehari-hari warga Solo bisa dirasakan paling nyata.

Pasar Tertua Solo yang Dirancang Arsitek Eropa

Pasar Gede Hardjonagoro bukan pasar biasa ia adalah pasar tradisional tertua di Solo yang diresmikan pada 12 Januari 1930.

Yang membuatnya istimewa secara visual adalah arsitekturnya yang dirancang oleh Thomas Karsten, arsitek Eropa yang meninggalkan jejak desain kolonial khas pada bangunan ini.

Lorong-lorong panjang, jendela vertikal bergaya Eropa, dan atap melengkung megah menjadikan Pasar Gede bukan sekadar tempat belanja, melainkan sebuah karya arsitektur yang masih berdiri kokoh hampir satu abad kemudian.

Baca Juga: Unta Berpunuk Dua Jadi Penghuni Baru Taman Safari Bogor, Pengunjung Langsung Ramai Mengabadikan Momen

Surga Kuliner Autentik yang Sulit Ditandingi

Bagi pencinta kuliner, Pasar Gede adalah destinasi yang wajib masuk daftar prioritas saat mengunjungi Solo.

Di sini bisa ditemukan berbagai jajanan tradisional khas Solo yang semakin sulit dijumpai di tempat lain: jenang gempol, lupis, grontol jagung, brambang asem, hingga es dawet yang segar.

Semua tersaji dengan harga yang sangat terjangkau menjadikan Pasar Gede sebagai pengalaman kuliner dengan nilai terbaik di kota ini.

Buka 24 Jam, Kapan Pun Bisa Dikunjungi

Salah satu keunggulan Pasar Gede yang jarang dimiliki pasar tradisional lain adalah operasionalnya yang berlangsung selama 24 jam penuh.

Ini menjadikannya destinasi yang fleksibel bisa dikunjungi saat sarapan pagi untuk mencicipi jajanan tradisional, atau malam hari untuk merasakan suasana pasar yang berbeda.

Waktu paling ramai dan paling direkomendasikan adalah pagi hari antara pukul enam hingga sembilan saat hampir semua pedagang makanan sedang berjualan.

Baca Juga: Keraton Solo Bukan Sekadar Bangunan Tua, Ini yang Membuat Ribuan Orang Terus Kembali

Pengalaman Belanja yang Autentik

Selain kuliner, Pasar Gede juga menjadi tempat belanja berbagai kebutuhan sehari-hari mulai dari buah-buahan segar, rempah-rempah, hingga oleh-oleh khas Solo.

Suasana tawar-menawar yang hangat antara pedagang dan pembeli menciptakan pengalaman berbelanja yang jauh berbeda dari mal atau platform belanja online.

Ini adalah cara paling autentik untuk merasakan keramahan dan keseharian warga Solo secara langsung.

Tips Mengunjungi Pasar Gede

Datanglah sebelum pukul delapan pagi untuk mendapat pilihan jajanan paling lengkap sebelum habis terjual.

Bawa uang tunai dalam pecahan kecil karena kebanyakan pedagang tidak menerima pembayaran digital.

Kenakan pakaian yang nyaman dan siapkan tas belanjaan sendiri selain lebih praktis, ini juga bagian dari cara menghormati ekosistem pasar tradisional yang masih berjalan organik.

Pasar Gede adalah bukti bahwa wisata paling berkesan tidak selalu harus megah atau modern.

Terkadang, sebuah pasar tua yang berbau rempah dan riuh suara pedagang justru menyimpan kenangan perjalanan yang paling sulit dilupakan. (*) 

*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
#Pasar Gede Hardjonagoro Solo #solo #sejarah #wisata