Jawa Pos Radar Madiun - Keramaian selalu menjadi bagian dari wajah Dubrovnik setiap musim panas.
Jalan-jalan batu di Kota Tua dipenuhi wisatawan dari berbagai penjuru dunia, sementara antrean panjang menjadi pemandangan sehari-hari.
Namun, di balik hiruk pikuk itu, kota pesisir Kroasia tersebut kini menawarkan pengalaman berbeda.
Sebuah jalur peziarahan baru bernama Camino Dubrovnik Međugorje hadir sebagai alternatif bagi wisatawan yang ingin menikmati sisi Dubrovnik yang lebih tenang, alami, dan penuh sejarah.
Rute sepanjang 145 kilometer yang resmi dibuka pada Maret 2026 itu tidak hanya menjadi jalur trekking, tetapi juga bagian dari strategi kota untuk mengurangi kepadatan wisata di kawasan Kota Tua yang selama ini menjadi magnet utama wisatawan.
Jalur Baru untuk Menyebar Arus Wisatawan
Camino Dubrovnik–Međugorje dimulai dari Gereja St. James di Dubrovnik dan berakhir di Gereja St. James di Međugorje, Bosnia dan Herzegovina.
Jalur tersebut terbagi menjadi tujuh etape yang melintasi sejumlah desa, kawasan pedesaan, hingga pegunungan dengan panorama Laut Adriatik.
Baca Juga: Pria Thailand Bawa Uang Tunai Rp6,3 Miliar ke Indonesia, Berakhir Diamankan Bea Cukai
Sekitar 61 kilometer dari keseluruhan jalur berada di wilayah Dubrovnik Neretva County. Untuk menyelesaikan seluruh perjalanan, pendaki membutuhkan waktu sekitar tujuh hari.
Menurut Wali Kota Dubrovnik, Mato Franković, pembangunan jalur ini merupakan bagian dari program Respect the City yang mulai dirancang tiga tahun lalu.
"We also saw it as a great opportunity that tourists, [local residents] – all those that are going to walk would see for the first time some areas that are completely hidden."
Program tersebut bertujuan mengarahkan wisatawan keluar dari kawasan Kota Tua sekaligus mendorong konsep pariwisata berkelanjutan.
Menyusuri Jejak Sejarah Berusia Ratusan Tahun
Dari Akuaduk Abad ke-15 hingga Jalur Dagang Kuno
Camino baru ini memanfaatkan jalur bersejarah yang dahulu digunakan pedagang dan peziarah untuk menghubungkan pesisir Adriatik dengan wilayah pedalaman Herzegovina.
Sepanjang perjalanan, wisatawan akan melewati:
- Akuaduk batu kapur yang dibangun pada 1438.
- Jalur perdagangan kuno.
- Bekas rel kereta.
- Rute peziarahan Kristen yang telah digunakan selama berabad-abad.
Direktur Dubrovnik Tourist Board, Miroslav Drašković, menjelaskan bahwa jalur tersebut menyimpan banyak infrastruktur bersejarah yang selama ini jarang diketahui wisatawan.
Baca Juga: American Express Raih Peringkat Pertama Aplikasi dan Situs Kartu Kredit Terbaik Versi JD Power 2026
"Pilgrims walk along historic infrastructure, including medieval water systems, traditional rural paths, railway routes and areas marked by continuous Christian pilgrimage tradition."
Menawarkan Sudut Pandang Baru terhadap Dubrovnik
Salah satu bagian paling menarik berada di Gunung Srđ.
Dari ketinggian sekitar 412 meter, wisatawan dapat menikmati panorama Kota Tua Dubrovnik, Laut Adriatik, Pulau Lokrum, hingga Kepulauan Elaphiti.
Di kawasan ini pula terdapat Fort Imperial, benteng peninggalan era Napoleon yang kini menjadi lokasi Museum Homeland War.
Tempat tersebut menyimpan kisah penting mengenai perang kemerdekaan Kroasia pada awal 1990-an.
Selain pemandangan alam, jalur menuju puncak juga dilengkapi 14 stasiun Way of the Cross yang menjadi simbol perjalanan religius umat Katolik.
Kota yang Berusaha Lepas dari Label Overtourism
Dubrovnik selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat overtourism tertinggi di Eropa.
Baca Juga: Insiden Jalanan di Ho Chi Minh, Pengemudi Van Jadi Korban Perusakan Setelah Membunyikan Klakson
Pada 2019, UNESCO bahkan memperingatkan bahwa status Warisan Dunia kota itu terancam akibat lonjakan jumlah wisatawan dan kapal pesiar.
Jumlah penduduk di Kota Tua pun terus menyusut.
Menurut pemandu wisata lokal, Ivan Vuković, pada era 1980-an terdapat sekitar 4.000 hingga 5.000 penduduk yang tinggal di kawasan tersebut.
Kini jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 700 orang.
"Now, there are a maximum of 700 people living in the Old Town. It's Airbnb business."
Untuk mengatasi kepadatan, pemerintah kota sebelumnya telah memasang sistem pembatas arus pengunjung di Gerbang Pile.
Kini, keberadaan Camino diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar wisatawan juga menikmati kawasan pedesaan di sekitar Dubrovnik.
Lebih dari Sekadar Trekking
Selain menjadi jalur wisata, Camino Dubrovnik Međugorje juga mengajak pengunjung memahami sejarah, budaya, hingga kehidupan masyarakat lokal yang selama ini luput dari perhatian.
Pemandu wisata Ivona Čović menilai perjalanan tersebut memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk memperlambat ritme perjalanan dan menikmati pengalaman yang lebih bermakna.
"Camino Dubrovnik is exactly what reminds us to slow down and reconnect with what truly matters."
Dengan kombinasi panorama alam, warisan sejarah, dan pendekatan pariwisata berkelanjutan, jalur Camino baru ini menjadi wajah baru Dubrovnik yang menawarkan pengalaman berbeda dari sekadar berjalan di balik tembok kota abad pertengahan. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun