Ada Pasar Jadul di Situs Sendang Kamal Magetan? Bukan Pakai Uang, Belanja Jajanan Diganti dengan Koin Batok Kelapa

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 14:02 WIB
Pasar Nilowati di situs Prasasti Sendang Kamal Magetan menawarkan jajanan jadul, transaksi koin batok kelapa, hingga Tari Gambyong setiap pagi.  (HANINDA NAVYRA PUTRI/MAGANG RADAR MADIUN)
Pasar Nilowati di situs Prasasti Sendang Kamal Magetan menawarkan jajanan jadul, transaksi koin batok kelapa, hingga Tari Gambyong setiap pagi. (HANINDA NAVYRA PUTRI/MAGANG RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun – Membeli soto, cendol dawet, dan jajanan tempo dulu di pasar ini tak bisa langsung menggunakan rupiah. Pengunjung harus lebih dulu menukarkan uang dengan kepingan batok kelapa sebelum bertransaksi dengan para pedagang berkebaya.

Sensasi kembali ke masa lampau itu bisa ditemukan di Pasar Nilowati. Pasar tradisional yang berdiri di kawasan situs Prasasti Medang Kwambang Kulwan atau lebih dikenal sebagai Prasasti Sendang Kamal, Kabupaten Magetan.

Pasar Nilowati bukan sekadar tempat berburu kuliner. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya menghidupkan kawasan bersejarah agar wisatawan memiliki alasan lebih banyak untuk datang dan mengenal situs budaya tersebut.

Pasar itu dirintis dari gagasan pemerintah desa bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Keduanya mencari cara agar Prasasti Sendang Kamal tidak hanya menjadi destinasi yang dikunjungi untuk melihat peninggalan sejarah.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan dengan mendirikan Pasar Nilowati pada 2022.

"Ya, tujuan utamanya itu untuk mendatangkan wisatawan, karena lurah terdahulu dan pokdarwis itu awalnya kebingungan bagaimana caranya situs budaya ini tidak hanya sekadar sebagai tempat wisata," ujar Nugrohowadi Cahyono, 54, salah seorang pengelola sekaligus juru pelihara (jupel) situs Prasasti Sendang Kamal.

Baca Juga: Kisah Herlin Susilowati, Perajin Disabilitas Madiun yang Sulap Sisa Wayang Jadi Cuan

Pasar Nilowati biasanya mulai beraktivitas pukul 06.00 hingga 11.00. Berbagai makanan dan jajanan tradisional menjadi dagangan utama warga.

Namun, pengalaman berbelanja dibuat berbeda dari pasar tradisional pada umumnya. Rupiah tidak digunakan secara langsung ketika pengunjung membeli makanan.

Uang terlebih dahulu ditukarkan dengan batok kelapa yang telah dibentuk menyerupai koin. Kepingan itulah yang kemudian digunakan sebagai alat transaksi dengan pedagang.

"Di sini pakai batok kelapa ini untuk transaksi," tutur Bayu Wibowo, 54, penjaga tempat penukaran uang.

Konsep tradisional juga terlihat dari penampilan pedagang. Mereka mengenakan kebaya saat melayani pengunjung sehingga atmosfer pasar dibuat selaras dengan lingkungan situs budaya.

Sebagian besar pedagang merupakan warga yang tinggal di sekitar Prasasti Sendang Kamal. Bahkan, menurut salah seorang pedagang soto, Tri Hartini, 38, banyak di antara mereka berasal dari lingkungan yang sama.

"Yang jual orang-orang sini, malah satu RT," tutur Tri.

Sugiarti, 53, yang berjualan cendol dawet juga tinggal tidak jauh dari lokasi pasar. "Rumah saya utara sendang," ujarnya.

Salah satu sajian kuliner jadul di Pasar Nilowati, situs Prasasti Sendang Kamal Magetan. (HANINDA NAVYRA PUTRI/MAGANG RADAR MADIUN)
Salah satu sajian kuliner jadul di Pasar Nilowati, situs Prasasti Sendang Kamal Magetan. (HANINDA NAVYRA PUTRI/MAGANG RADAR MADIUN)

 

Ada ritual menarik ketika jarum jam menunjukkan pukul 08.00. Aktivitas berdagang sejenak berganti dengan kegiatan yang melibatkan para pedagang dan pengelola.

Mereka berbaris untuk memberikan penghormatan kepada Merah Putih yang berkibar di kawasan pasar. Seusai penghormatan, aktivitas dilanjutkan dengan pertunjukan budaya.

Para pedagang mengambil selendang dan menampilkan Tari Gambyong Moro Seneng. Tarian tersebut menjadi sambutan bagi wisatawan yang datang ke Pasar Nilowati.

Perpaduan kuliner, busana tradisional, transaksi menggunakan koin batok kelapa, dan kesenian membuat Pasar Nilowati tidak hanya menawarkan makanan. Pengunjung sekaligus diajak menikmati suasana yang dibangun dengan pendekatan budaya.

Bagi warga, kehadiran pasar turut membuka peluang memperoleh tambahan penghasilan.

"Ya, yang jelas dampaknya ke pemasukan," ungkap Tri.

Namun, jumlah pengunjung belum selalu stabil. Ada hari ketika wisatawan berdatangan sejak pagi, tetapi pada kesempatan lain keramaian baru terasa beberapa jam setelah pasar dibuka.

"Nggak tentu, kadang rame dari pagi, kadang baru mulai rame itu jam 9," tuturnya.

Kondisi tersebut turut memengaruhi jumlah dagangan yang terjual. Tri pun tidak dapat memastikan berapa porsi soto yang bisa habis dalam sehari. "Berapa porsi yang habis per hari tidak menentu," imbuhnya.

Meski menawarkan konsep yang berbeda, keberadaan Pasar Nilowati belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi sesuai harapan. Nugrohowadi menyebut hasil yang diperoleh masih belum signifikan.

"Misalkan saya katakan berapa persen, mungkin hanya mendekati 50 persen, itu pun masih susah," ungkap Nugrohowadi.

Salah satu tantangan terbesar adalah mengenalkan produk kuliner Pasar Nilowati kepada masyarakat yang lebih luas. Promosi dan penguatan branding dinilai masih perlu dilakukan.

Terlebih, jajanan tradisional harus bersaing dengan beragam kuliner kekinian yang lebih dekat dengan selera generasi muda.

Baca Juga: Pilah Sampah Mulai Jadi Kebiasaan Warga Madiun, Tiap RT Dapat Stimulan Rp 10 Juta

"Dikarenakan kuliner kita memang perlu promosi dan branding, karena kuliner jadul itu jarang disukai oleh remaja dan anak-anak," imbuhnya.

Tantangan itu menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola jika ingin Pasar Nilowati berkembang menjadi magnet yang lebih kuat bagi Prasasti Sendang Kamal.

Sebab, konsep yang ditawarkan sebenarnya tidak berhenti pada urusan perut. Pasar tersebut mencoba mempertemukan sejarah, kuliner, kesenian, dan pemberdayaan warga dalam satu kawasan.

Di tengah jejak masa lalu yang tersimpan pada Prasasti Sendang Kamal, Pasar Nilowati menawarkan cara berbeda untuk menjaga kawasan tetap hidup.

Sejarah tidak hanya dilihat pada batu prasasti, tetapi juga dirasakan lewat jajanan jadul, kebaya para pedagang, Tari Gambyong, hingga kepingan batok kelapa yang berpindah tangan setiap kali transaksi terjadi. (*/naz)

*Haninda Navyra Putri, Universitas Brawijaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
sendang kamal pasar nilowati magetan pasar jadul radar madiun