
Jawa Pos Radar Madiun - Kabupaten Demak di pesisir utara Jawa Tengah dikenal sebagai kota sejarah dan religi. Itu berkat warisan Wali Songo yang mendalam.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa daerah ini juga menyimpan kekayaan hayati yang menarik untuk dijelajahi.
Yakni, flora dan fauna khas daerah berupa belimbing Demak dan blekek. Keduanya bukan hanya bagian dari keindahan alam, tapi juga memberi manfaat besar bagi ekosistem dan perekonomian lokal.
Belimbing atau Averrhoa carambola adalah buah tropis yang dikenal karena bentuknya yang menyerupai bintang ketika dipotong.
Di Demak, terutama di kecamatan Mranggen dan Sayung, tanaman belimbing tumbuh subur berkat tanah yang subur dan iklim tropis yang mendukung.
Menariknya, belimbing Demak memiliki rasa manis yang khas dan warna kuning cerah.
Tak heran jika buah ini banyak dicari oleh konsumen dari luar daerah. Selain dinikmati langsung, belimbing juga diolah menjadi jus, sirup, manisan, hingga oleh-oleh khas yang menambah nilai ekonominya.
Belimbing juga dikenal bermanfaat bagi kesehatan, karena kandungan gizinya dapat membantu mengontrol kadar gula dan tekanan darah.
Ditambah lagi, tanaman ini mudah dibudidayakan dan tidak memerlukan perawatan rumit, menjadikannya sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat desa.
Fauna khas Demak juga menyimpan pesona melalui kehadiran burung Blekek nama lokal untuk spesies Nycticorax nycticorax.
Atau, dikenal juga sebagai black-crowned night heron. Burung ini unik karena aktif berburu pada sore hingga malam hari, sehingga sering disebut pencari nafkah malam dalam dunia satwa.
Habitat blekek banyak ditemukan di kawasan pesisir, rawa, dan tambak Demak, menjadikan daerah ini sebagai lokasi penting dalam jalur migrasi burung air di Jawa Tengah.
Kehadiran blekek juga menjadi indikator bahwa lingkungan disana masih alami dan sehat.
Berbeda dari burung siang hari, blekek memanfaatkan penglihatan malamnya untuk memburu mangsa seperti ikan kecil, katak, dan serangga air.
Warna bulunya yang abu kehitaman membantunya berkamuflase dengan lingkungan sekitar, sementara gaya berburu mereka sangat tenang dan terukur.
Yang tak kalah menarik, blekek membangun sarangnya secara berkelompok di pohon bakau atau semak pesisir dan berbagi tugas menjaga anak bersama pasangannya suatu perilaku sosial yang langka dan menarik untuk diamati.
Keberadaan belimbing sebagai tanaman pertanian unggulan, dan blekek sebagai satwa pengendali alami populasi hewan kecil/serangga.
Flora dan fauna khas ini menunjukkan bagaimana alam Demak bekerja secara seimbang.
Keduanya menjadi simbol bahwa kekayaan hayati bukan hanya soal keindahan, tapi juga potensi nyata bagi pertanian, ekonomi, dan kelestarian lingkungan. (*/den)
Fauzia Adelia Cahya Ningrum/Politeknik Negeri Madiun

