alexametrics
24.7 C
Madiun
Thursday, May 19, 2022

Musibah Banjir di Plumpung Maret 2019 Lalu Belum Terlupakan

Banjir hebat di Kabupaten Madiun Maret 2019 lalu belum hilang dari ingatan. Bencana mengerikan itu masih terekam jelas di benak para korban. Kini mereka lebih waspada menghadapinya.

——————————–

SEJUMLAH warga hilir mudik melintasi jembatan Dusun Plumpung, Glonggong, Balerejo. Seorang ibu berkendara motor memboncengkan dua anaknya. Di depan dan belakang. Melintas dari utara melewati jembatan di atas aliran sungai berwarna cokelat karena lumpur.

Seorang pria dengan seikat rumput di jok belakang motornya dari arah berlawanan. Pria itu menepi hati-hati. Menuju sebuah warung di ujung utara jembatan. ‘’Berita di televisi sudah banyak daerah yang banjir,’’ katanya membuka obrolan dengan pemilik warung setelah memesan segelas minuman.

Pembeli dan pemilik warung itu pun bernostalgia. Dusun ini merupakan salah satu kawasan terparah akibat banjir Maret 2019. Cerita-cerita miris dikemas pemilik warung yang humoris. Keduanya terpingkal mengingat kulkas pemilik warung yang hanyut kala itu. ‘’Dicari di rumah nggak ada. Eh, malah nyangkut di pohon randu,’’ ujar Janen, pemilik warung itu.

Janen, satu dari banyak warga korban terdampak bencana kala itu. Dusun Plumpung tenggelam. Ratusan warga menyelamatkan diri ketika air masuk ke rumah mereka. Nyawa yang utama untuk diselamatkan. Baik nyawa manusia maupun rajakaya (ternak). ‘’Banjir datang saat malam,’’ ungkapnya.

Warga kalang kabut. Gelontoran air dari arah utara membanjiri kawasan permukiman. Janen ingat betul suasana malam itu. Ketakutan datang bercampur dingin air banjir. Pria-perempuan, muda-tua, balita-lansia, menggigil menyelamatkan diri. Sembari memandangi perabotan rumah tangga yang mengapung. ‘’Tinggi air sampai bangkekan (pinggang, Red),’’ sebut pria 65 tahun itu.

Baca Juga :  Suami Sibuk Kerja, Si Istri Malah Sibuk Mendua

Malam di pengungsian berlalu. Esoknya warga belum berani kembali ke rumah lantaran air belum surut. Dua malam berlalu, bekas batas ketinggian air terpampang di dinding rumah. Kiriman air bah dari wilayah Kecamatan Pilangkenceng menuju sungai Dusun Plumpung itu surut. Namun, bukan akhir bencana. Janen dan warga lain disibukkan dengan sisa-sisa bencana. ‘’Setelah dua hari terendam banjir, bersih-bersih. Kendaraan mogok semua,’’ bebernya.

Warga tak sempat menyelamatkan harta benda saat bencana datang. Bisa menyelamatkan nyawa sudah sangat bersyukur. Sedikitnya 35 mobil warga rusak. Mesin tak menyala lantaran terendam banjir terlalu lama. Beragam cara dilakukan para pemilik mobil. Mulai ngetap oli, ganti aki, sampai ganti dinamo. ‘’Rata-rata habis depalan juta untuk memperbaiki mobil. Belum termasuk memperbaiki motor. Mobil saya yang terendam waktu itu sudah tak jual,’’ terangnya.

Musibah tahun lalu itu masih terekam jelas di kepala warga Plumpung. Banjir terparah setelah bencana hebat serupa 1978 silam. Saat ini kekhawatiran masih menggelayuti pikiran warga. Mereka takut bencana lebih hebat terjadi lagi. ‘’Sebenarnya warga sudah biasa dengan banjir kiriman. Menggenangi jalanan lalu surut beberapa jam kemudian,’’ kata Budi, warga lainnya.

Warga tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa berharap banjir tidak lagi separah Maret 2019 atau serupa 42 tahun silam. Sungai di desa setempat jadi limpahan saat hujan lebat dari kawasan lain. Warga Plumpung sedikit tenang dengan pembangunan tanggul sebagai antisipasi bencana. ‘’Kalau banjir semata kaki di jalan itu sudah biasa sebenarnya,’’ ujarnya. (den/c1/sat)

Banjir hebat di Kabupaten Madiun Maret 2019 lalu belum hilang dari ingatan. Bencana mengerikan itu masih terekam jelas di benak para korban. Kini mereka lebih waspada menghadapinya.

——————————–

SEJUMLAH warga hilir mudik melintasi jembatan Dusun Plumpung, Glonggong, Balerejo. Seorang ibu berkendara motor memboncengkan dua anaknya. Di depan dan belakang. Melintas dari utara melewati jembatan di atas aliran sungai berwarna cokelat karena lumpur.

Seorang pria dengan seikat rumput di jok belakang motornya dari arah berlawanan. Pria itu menepi hati-hati. Menuju sebuah warung di ujung utara jembatan. ‘’Berita di televisi sudah banyak daerah yang banjir,’’ katanya membuka obrolan dengan pemilik warung setelah memesan segelas minuman.

Pembeli dan pemilik warung itu pun bernostalgia. Dusun ini merupakan salah satu kawasan terparah akibat banjir Maret 2019. Cerita-cerita miris dikemas pemilik warung yang humoris. Keduanya terpingkal mengingat kulkas pemilik warung yang hanyut kala itu. ‘’Dicari di rumah nggak ada. Eh, malah nyangkut di pohon randu,’’ ujar Janen, pemilik warung itu.

Janen, satu dari banyak warga korban terdampak bencana kala itu. Dusun Plumpung tenggelam. Ratusan warga menyelamatkan diri ketika air masuk ke rumah mereka. Nyawa yang utama untuk diselamatkan. Baik nyawa manusia maupun rajakaya (ternak). ‘’Banjir datang saat malam,’’ ungkapnya.

Warga kalang kabut. Gelontoran air dari arah utara membanjiri kawasan permukiman. Janen ingat betul suasana malam itu. Ketakutan datang bercampur dingin air banjir. Pria-perempuan, muda-tua, balita-lansia, menggigil menyelamatkan diri. Sembari memandangi perabotan rumah tangga yang mengapung. ‘’Tinggi air sampai bangkekan (pinggang, Red),’’ sebut pria 65 tahun itu.

Baca Juga :  Cara Unik Tim Relawan Pemakaman Covid-19 Kota Madiun Peringati Hari Kemerdekaan RI

Malam di pengungsian berlalu. Esoknya warga belum berani kembali ke rumah lantaran air belum surut. Dua malam berlalu, bekas batas ketinggian air terpampang di dinding rumah. Kiriman air bah dari wilayah Kecamatan Pilangkenceng menuju sungai Dusun Plumpung itu surut. Namun, bukan akhir bencana. Janen dan warga lain disibukkan dengan sisa-sisa bencana. ‘’Setelah dua hari terendam banjir, bersih-bersih. Kendaraan mogok semua,’’ bebernya.

Warga tak sempat menyelamatkan harta benda saat bencana datang. Bisa menyelamatkan nyawa sudah sangat bersyukur. Sedikitnya 35 mobil warga rusak. Mesin tak menyala lantaran terendam banjir terlalu lama. Beragam cara dilakukan para pemilik mobil. Mulai ngetap oli, ganti aki, sampai ganti dinamo. ‘’Rata-rata habis depalan juta untuk memperbaiki mobil. Belum termasuk memperbaiki motor. Mobil saya yang terendam waktu itu sudah tak jual,’’ terangnya.

Musibah tahun lalu itu masih terekam jelas di kepala warga Plumpung. Banjir terparah setelah bencana hebat serupa 1978 silam. Saat ini kekhawatiran masih menggelayuti pikiran warga. Mereka takut bencana lebih hebat terjadi lagi. ‘’Sebenarnya warga sudah biasa dengan banjir kiriman. Menggenangi jalanan lalu surut beberapa jam kemudian,’’ kata Budi, warga lainnya.

Warga tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa berharap banjir tidak lagi separah Maret 2019 atau serupa 42 tahun silam. Sungai di desa setempat jadi limpahan saat hujan lebat dari kawasan lain. Warga Plumpung sedikit tenang dengan pembangunan tanggul sebagai antisipasi bencana. ‘’Kalau banjir semata kaki di jalan itu sudah biasa sebenarnya,’’ ujarnya. (den/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/