alexametrics
23.3 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Pusat Grosir Konveksi, Pasar Besar Madiun Tiru Tanah Abang

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Pasar Besar Madiun (PBM) terkoneksi dengan Pasar Tanah Abang (PTA), Jakarta Pusat. Itulah mimpi besar pemkot untuk menyulap pasar tradisional tersebut. ‘’Itu sesuai arahan wali kota untuk lantai dua PBM,’’ kata Kepala Dinas Perdaganagan (Disdag) Kota Madiun Ansar Rasidi, Rabu (2/3).

Pertengahan bulan ini pihaknya memberangkatkan 30 perwakilan pedagang konveksi untuk studi tiru di pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut. Upaya itu dilakukan untuk mengembalikan gairah perdagangan di PBM. ‘’Saat ini terkesan seperti pasar mati,’’ ujarnya.

Khususnya di lantai dua yang merupakan pusat konveksi. Menurut Ansar, salah satu akar masalahnya adalah ketidakmampuan pedagang konveksi untuk bersaing. ‘’Antara lain faktor harga. Konsumen kurang berminat karena mungkin mahal dibanding toko atau pasar lain,’’ tuturnya.

Perwakilan pedagang itu diminta belajar untuk kemudian menirunya. Mulai mengenali barang, sistem jual-beli, hingga cara memasarkan dagangan. Pemkot juga bakal memfasilitasi jaminan kerja sama dengan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) PTA. Yakni, kulakan dari pasar itu untuk memutus mata rantai perdagangan. ‘’Kalau langsung dari Pasar Tanah Abang ke PBM, harga pasti jauh lebih murah,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Pemkot Madiun Cawe-cawe Tata Kawasan Sekitar Starbucks

Di sisi lain, pihaknya bakal mendata dan menertibkan lapak atau kios nonaktif. Sebab, itu juga dinilai sebagai faktor penyebab PBM seakan mati. Sesuai aturan, jika tidak difungsikan sebagaimana mestinya bakal dicabut hak sewanya. Kemudian diberikan ke calon pedagang khusus warga kota yang berminat. ‘’Lebih dari lima sampai 13 tahun tidak digunakan, kami cabut,’’ tegas Ansar.

Pun, dilarang memperjualbelikan lapak atau kios karena melanggar aturan. Jika terbukti, penjual dan pembelinya disanksi pencabutan kepemilikan hak sewanya. ‘’Kalau memang berminat berdagang di PBM, silakan daftar ke kami. Langsung ke pemerintah, jangan ke oknum,’’ pintanya.

Ansar menyebutkan, biaya sewa langsung ke pemerintah cukup murah. Yakni, Rp 219 ribu per meter per tahun. Untuk 12 meter persegi, misalnya. Sewa setahun hanya Rp 2,6 juta. ‘’Yang saya dengar, kalau beli ke oknum pemilik kios kisaran Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Jadi, eman-eman,’’ pungkasnya. (ggi/c1/sat/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Pasar Besar Madiun (PBM) terkoneksi dengan Pasar Tanah Abang (PTA), Jakarta Pusat. Itulah mimpi besar pemkot untuk menyulap pasar tradisional tersebut. ‘’Itu sesuai arahan wali kota untuk lantai dua PBM,’’ kata Kepala Dinas Perdaganagan (Disdag) Kota Madiun Ansar Rasidi, Rabu (2/3).

Pertengahan bulan ini pihaknya memberangkatkan 30 perwakilan pedagang konveksi untuk studi tiru di pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut. Upaya itu dilakukan untuk mengembalikan gairah perdagangan di PBM. ‘’Saat ini terkesan seperti pasar mati,’’ ujarnya.

Khususnya di lantai dua yang merupakan pusat konveksi. Menurut Ansar, salah satu akar masalahnya adalah ketidakmampuan pedagang konveksi untuk bersaing. ‘’Antara lain faktor harga. Konsumen kurang berminat karena mungkin mahal dibanding toko atau pasar lain,’’ tuturnya.

Perwakilan pedagang itu diminta belajar untuk kemudian menirunya. Mulai mengenali barang, sistem jual-beli, hingga cara memasarkan dagangan. Pemkot juga bakal memfasilitasi jaminan kerja sama dengan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) PTA. Yakni, kulakan dari pasar itu untuk memutus mata rantai perdagangan. ‘’Kalau langsung dari Pasar Tanah Abang ke PBM, harga pasti jauh lebih murah,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Gugatan Mahardika Lolos, Siap Disidangkan di MK

Di sisi lain, pihaknya bakal mendata dan menertibkan lapak atau kios nonaktif. Sebab, itu juga dinilai sebagai faktor penyebab PBM seakan mati. Sesuai aturan, jika tidak difungsikan sebagaimana mestinya bakal dicabut hak sewanya. Kemudian diberikan ke calon pedagang khusus warga kota yang berminat. ‘’Lebih dari lima sampai 13 tahun tidak digunakan, kami cabut,’’ tegas Ansar.

Pun, dilarang memperjualbelikan lapak atau kios karena melanggar aturan. Jika terbukti, penjual dan pembelinya disanksi pencabutan kepemilikan hak sewanya. ‘’Kalau memang berminat berdagang di PBM, silakan daftar ke kami. Langsung ke pemerintah, jangan ke oknum,’’ pintanya.

Ansar menyebutkan, biaya sewa langsung ke pemerintah cukup murah. Yakni, Rp 219 ribu per meter per tahun. Untuk 12 meter persegi, misalnya. Sewa setahun hanya Rp 2,6 juta. ‘’Yang saya dengar, kalau beli ke oknum pemilik kios kisaran Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Jadi, eman-eman,’’ pungkasnya. (ggi/c1/sat/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/