alexametrics
25.2 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Parji Minta Penerusnya Lanjutkan Tradisi Prestasi Unipma

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Tekad Parji memajukan dunia pendidikan ditunjukkan sedari muda. Arsip koran Jawa Pos Radar Madiun edisi 6 Februari 2007 lalu jadi catatan bukti. Salah satu berita terbitan hari itu berjudul Jelang Sertifikasi Guru, Undang Diknas Jatim.

Berita tersebut mengulas langkah IKIP PGRI Madiun -sekarang Unipma- memfasilitasi pembekalan bagi guru-guru yang akan mengikuti tes sertifikasi. Wartawan yang mengangkat berita itu Wawan Isdarwanto -sekarang redaktur senior koran ini- sengaja memilih Parji sebagai narasumber utama.

Dua tahun setelah dilantik menjadi rektor di usia 39 tahun pada 2006 lalu, Parji bermimpi kampusnya menjadi rujukan akademik. Dua belas tahun berselang, impian itu terwujud. IKIP PGRI Madiun yang telah berganti status menjadi universitas dipercaya mengampu pendidikan profesi guru (PPG) untuk delapan program studi (prodi). ‘’Kebetulan di antara PTS di Jatim, prodi untuk PPG terbanyak. Ini cita-cita sejak dulu,’’ kata Parji, Kamis (3/2).

Ya, ketika anak petani kecil asal Ngawi kelahiran 1967 itu dipercaya menjadi rektor pada 2006 lalu, Unipma hanya memiliki satu kampus dengan dua lantai di Jalan Setia Budi, Kota Madiun. Jumlah mahasiswanya pun tak genap 700 dengan satu fakultas, sembilan prodi, 76 dosen, dan 34 karyawan. ‘’Sangat sederhana dulu,’’ kenangnya.

Dua tahun berselang, tepatnya 2008 lalu, IKIP PGRI Madiun mendadak menghenyakkan orang banyak. Kopertis Wilayah VII Jatim -sekarang LLDIKTI- mengganjar perguruan tinggi tersebut IKIP PGRI Madiun Anugerah Kampus Unggul (AKU) kategori non-universitas. ‘’Sangat bergengsi waktu itu, karena jumlah non-universitasnya lebih banyak,’’ ujarnya.

Baca Juga :  PPDB di Ponorogo Bakal Digelar Daring

Dasar penilaian penghargaan itu adalah hasil kemenangan hibah kompetitif tingkat nasional. Parji mengakui tradisi prestasi diletakkan sejak awal untuk membesarkan kampus yang dipimpinnya. Strategi berkompetisi itulah yang dijadikan senjata mengubah mindset akademik di kampusnya. ‘’Prestasi, prestasi, dan prestasi,’’ tegas Parji.

Sejak 2008 itulah Unipma mulai diperhitungkan. Animo lulusan SLTA kuliah di kampus tersebut meningkat tajam dan berdatangan dari berbagai daerah di tanah air. Kompleks kampusnya pun bertambah di Jalan AURI. Belum lagi laboratorium di Jalan Kolonel Suwarno dengan bangunan enam lantai. Termasuk punya kampus di Ngawi. ‘’Tekad harus kuat,’’ sebutnya.

Tidak hanya bangunan fisik, kini mahasiswa Unipma mencapai 6 ribu dengan empat fakultas, 27 prodi, 300 dosen, dan 125 karyawan. Termasuk membuka pendidikan pascasarjana. Penguatan sumber daya manusia (SDM) juga tak luput. Unipma memiliki 48 doktor dan saat ini memfasilitasi pendidikan doktor bagi 75 dosen. Cita-cita Parji, empat tahun ke depan kampus tempatnya mengabdi punya ratusan doktor. ‘’Itu percepatan agar SDM semakin kompetitif,’’ tuturnya.

Kini Parji bukan rektor lagi. Namun, dia akan tetap mengabdi memajukan dunia pendidikan dengan mengajar di Unipma. Termasuk meneruskan pengabdian ke masyarakat, fokus mendukung pembangunan, serta pengembangan demokrasi.

Dia berharap, penerusnya –Supri Wahyudi Utomo- dengan inovasi baru dapat melanjutkan tradisi prestasi yang telah berjalan 16 tahun belakangan. Mulai penghargaan dari LLDIKTI Wilayah VII Jatim hingga kerja sama pertukaran kampus merdeka dengan perguruan tinggi dalam maupun luar negeri. ‘’Saya yakin akan banyak inovasi dan kreativitas baru dari Pak Supri,’’ pungkasnya. (kid/c1/isd/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Tekad Parji memajukan dunia pendidikan ditunjukkan sedari muda. Arsip koran Jawa Pos Radar Madiun edisi 6 Februari 2007 lalu jadi catatan bukti. Salah satu berita terbitan hari itu berjudul Jelang Sertifikasi Guru, Undang Diknas Jatim.

Berita tersebut mengulas langkah IKIP PGRI Madiun -sekarang Unipma- memfasilitasi pembekalan bagi guru-guru yang akan mengikuti tes sertifikasi. Wartawan yang mengangkat berita itu Wawan Isdarwanto -sekarang redaktur senior koran ini- sengaja memilih Parji sebagai narasumber utama.

Dua tahun setelah dilantik menjadi rektor di usia 39 tahun pada 2006 lalu, Parji bermimpi kampusnya menjadi rujukan akademik. Dua belas tahun berselang, impian itu terwujud. IKIP PGRI Madiun yang telah berganti status menjadi universitas dipercaya mengampu pendidikan profesi guru (PPG) untuk delapan program studi (prodi). ‘’Kebetulan di antara PTS di Jatim, prodi untuk PPG terbanyak. Ini cita-cita sejak dulu,’’ kata Parji, Kamis (3/2).

Ya, ketika anak petani kecil asal Ngawi kelahiran 1967 itu dipercaya menjadi rektor pada 2006 lalu, Unipma hanya memiliki satu kampus dengan dua lantai di Jalan Setia Budi, Kota Madiun. Jumlah mahasiswanya pun tak genap 700 dengan satu fakultas, sembilan prodi, 76 dosen, dan 34 karyawan. ‘’Sangat sederhana dulu,’’ kenangnya.

Dua tahun berselang, tepatnya 2008 lalu, IKIP PGRI Madiun mendadak menghenyakkan orang banyak. Kopertis Wilayah VII Jatim -sekarang LLDIKTI- mengganjar perguruan tinggi tersebut IKIP PGRI Madiun Anugerah Kampus Unggul (AKU) kategori non-universitas. ‘’Sangat bergengsi waktu itu, karena jumlah non-universitasnya lebih banyak,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Peringatan HUT Ke-22 Radar Madiun, Perayaan Sederhana tapi Mengena

Dasar penilaian penghargaan itu adalah hasil kemenangan hibah kompetitif tingkat nasional. Parji mengakui tradisi prestasi diletakkan sejak awal untuk membesarkan kampus yang dipimpinnya. Strategi berkompetisi itulah yang dijadikan senjata mengubah mindset akademik di kampusnya. ‘’Prestasi, prestasi, dan prestasi,’’ tegas Parji.

Sejak 2008 itulah Unipma mulai diperhitungkan. Animo lulusan SLTA kuliah di kampus tersebut meningkat tajam dan berdatangan dari berbagai daerah di tanah air. Kompleks kampusnya pun bertambah di Jalan AURI. Belum lagi laboratorium di Jalan Kolonel Suwarno dengan bangunan enam lantai. Termasuk punya kampus di Ngawi. ‘’Tekad harus kuat,’’ sebutnya.

Tidak hanya bangunan fisik, kini mahasiswa Unipma mencapai 6 ribu dengan empat fakultas, 27 prodi, 300 dosen, dan 125 karyawan. Termasuk membuka pendidikan pascasarjana. Penguatan sumber daya manusia (SDM) juga tak luput. Unipma memiliki 48 doktor dan saat ini memfasilitasi pendidikan doktor bagi 75 dosen. Cita-cita Parji, empat tahun ke depan kampus tempatnya mengabdi punya ratusan doktor. ‘’Itu percepatan agar SDM semakin kompetitif,’’ tuturnya.

Kini Parji bukan rektor lagi. Namun, dia akan tetap mengabdi memajukan dunia pendidikan dengan mengajar di Unipma. Termasuk meneruskan pengabdian ke masyarakat, fokus mendukung pembangunan, serta pengembangan demokrasi.

Dia berharap, penerusnya –Supri Wahyudi Utomo- dengan inovasi baru dapat melanjutkan tradisi prestasi yang telah berjalan 16 tahun belakangan. Mulai penghargaan dari LLDIKTI Wilayah VII Jatim hingga kerja sama pertukaran kampus merdeka dengan perguruan tinggi dalam maupun luar negeri. ‘’Saya yakin akan banyak inovasi dan kreativitas baru dari Pak Supri,’’ pungkasnya. (kid/c1/isd/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/