alexametrics
25.2 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Puluhan Anak di Madiun Tersandung Hukum

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Puluhan anak harus berhadapan dengan hukum karena tersangkut berbagai kasus. Catatan balai pemasyarakatan (bapas), di wilayah Madiun Raya hingga Juli tahun ini terdapat 72 anak berhadapan dengan hukum (ABH).

Kasus yang mereka hadapi mulai pencurian, penyalahgunaan obat terlarang, kecelakaan lalu lintas, pengeroyokan, hingga pelecehan seksual. ‘’Paling banyak pencurian, sekitar 70 persen,’’ kata Kasubsi Bimbingan Klien Anak Bapas Madiun Djaka Sutedjo, Selasa (3/8).

Yang menjadi catatan khusus bapas, lanjut Djaka, tahun ini terdapat sembilan anak terjerat pasal UUD darurat terkait penggunaan bahan peledak. ‘’Walaupun niatnya hanya main-main, tapi membahayakan. Sebagian mungkin karena pengaruh orang dewasa,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Suhu Pacitan Capai 33 Derajat Celcius

Dia menyebut, beberapa anak yang melakukan tindak pidana diketahui besar di lingkungan keluarga broken home, yatim piatu, serta orang tuanya menjadi pekerja migran Indonesia (PMI). ‘’Tidak semuanya berakhir di penjara. Beberapa ada restorative justice, terutama yang ancaman hukumannya di bawah tujuh tahun,” paparnya. (irs/mg8/c1/isd/her)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Puluhan anak harus berhadapan dengan hukum karena tersangkut berbagai kasus. Catatan balai pemasyarakatan (bapas), di wilayah Madiun Raya hingga Juli tahun ini terdapat 72 anak berhadapan dengan hukum (ABH).

Kasus yang mereka hadapi mulai pencurian, penyalahgunaan obat terlarang, kecelakaan lalu lintas, pengeroyokan, hingga pelecehan seksual. ‘’Paling banyak pencurian, sekitar 70 persen,’’ kata Kasubsi Bimbingan Klien Anak Bapas Madiun Djaka Sutedjo, Selasa (3/8).

Yang menjadi catatan khusus bapas, lanjut Djaka, tahun ini terdapat sembilan anak terjerat pasal UUD darurat terkait penggunaan bahan peledak. ‘’Walaupun niatnya hanya main-main, tapi membahayakan. Sebagian mungkin karena pengaruh orang dewasa,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Menelusuri Masjid Setono Peninggalan Donopuro

Dia menyebut, beberapa anak yang melakukan tindak pidana diketahui besar di lingkungan keluarga broken home, yatim piatu, serta orang tuanya menjadi pekerja migran Indonesia (PMI). ‘’Tidak semuanya berakhir di penjara. Beberapa ada restorative justice, terutama yang ancaman hukumannya di bawah tujuh tahun,” paparnya. (irs/mg8/c1/isd/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/