alexametrics
22.2 C
Madiun
Wednesday, June 29, 2022

Apa Saja Kendala Perajin Industri Batik di Kota Madiun? Ini Penjelasannya

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Kesan eksklusif yang melekat pada batik menghambat pemasaran produk itu di Kota Madiun. Selain mahal, sebagian warga memandang batik hanya untuk acara resmi. Image itu disebut-sebut sebagai faktor para perajin batik Kota Pendekar kesulitan memperluas jaringan bisnisnya. ‘’Belum semua masyarakat mengenal batik dengan baik,’’ kata Ketua Paguyuban Koperasi Batik Kharismatik Sejahtera (PKBKS) Kota Madiun Muhammad Tonny Wiweko Adjie Rabu (2/10).

Tonny menyebut, image batik eksklusif sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini. Kain batik bisa diubah menjadi pakaian kasual. Kain berbahan katun dengan menghilangkan kesan kakunya. Motifnya juga mengikuti tren. Jenis seperti pecelan, madumongso, jeruk nambangan, dan keris Retno Dumilah bisa dikreasi sesuai keinginan. ‘’Muara kendala pemasaran yang dikeluhkan perajin adalah kesan eksklusif itu,’’ ujarnya.

Salah satu upaya menghapus problem lewat pemberdayaan para pelaku usahanya. Ketika menjalankan program pengadaan pakaian dinas atau instansi. Pemkot bisa membuka lelang jasa kegiatan itu kepada para usaha mikro kecil menengah (UMKM) batik. ‘’Dari situ batik Kota Madiun semakin dikenal,’’ tuturnya.

Hingga kini 33 perajin batik yang rutin memproduksi tergabung dalam PKBKS. Lima di antaranya bersertifikasi. Hingga dipercaya menjadi instruktur pelatihan membatik. Akan tetapi, puluhan anggota paguyuban itu bukan jumlah keseluruhan perajin batik di Kota Madiun. Ditengarai masih banyak yang belum bergabung. ‘’Kemungkinan mereka malu karena produksinya belum tinggi,’’ kata Tonny.

Baca Juga :  Libur Nataru, Aturan Perjalanan dengan Kereta Api Diperketat

Menurutnya, atensi pemkot terhadap industri batik sudah bagus. Salah satunya membentuk paguyuban. Wadah yang baru dua bulan terbentuk itu sempat studi banding ke Solo, Jawa Tengah. Juga menyediakan sarana dan prasarana (sarpras) pelatihan membatik di setiap kelurahan. ‘’Lewat pelatihan, diharapkan batik semakin berkembang dan regenerasi berjalan dengan baik,’’ pungkasnya. (mgd/c1/cor)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Kesan eksklusif yang melekat pada batik menghambat pemasaran produk itu di Kota Madiun. Selain mahal, sebagian warga memandang batik hanya untuk acara resmi. Image itu disebut-sebut sebagai faktor para perajin batik Kota Pendekar kesulitan memperluas jaringan bisnisnya. ‘’Belum semua masyarakat mengenal batik dengan baik,’’ kata Ketua Paguyuban Koperasi Batik Kharismatik Sejahtera (PKBKS) Kota Madiun Muhammad Tonny Wiweko Adjie Rabu (2/10).

Tonny menyebut, image batik eksklusif sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini. Kain batik bisa diubah menjadi pakaian kasual. Kain berbahan katun dengan menghilangkan kesan kakunya. Motifnya juga mengikuti tren. Jenis seperti pecelan, madumongso, jeruk nambangan, dan keris Retno Dumilah bisa dikreasi sesuai keinginan. ‘’Muara kendala pemasaran yang dikeluhkan perajin adalah kesan eksklusif itu,’’ ujarnya.

Salah satu upaya menghapus problem lewat pemberdayaan para pelaku usahanya. Ketika menjalankan program pengadaan pakaian dinas atau instansi. Pemkot bisa membuka lelang jasa kegiatan itu kepada para usaha mikro kecil menengah (UMKM) batik. ‘’Dari situ batik Kota Madiun semakin dikenal,’’ tuturnya.

Hingga kini 33 perajin batik yang rutin memproduksi tergabung dalam PKBKS. Lima di antaranya bersertifikasi. Hingga dipercaya menjadi instruktur pelatihan membatik. Akan tetapi, puluhan anggota paguyuban itu bukan jumlah keseluruhan perajin batik di Kota Madiun. Ditengarai masih banyak yang belum bergabung. ‘’Kemungkinan mereka malu karena produksinya belum tinggi,’’ kata Tonny.

Baca Juga :  Besok Bongpay Sisi Timur Mulai Dibersihkan

Menurutnya, atensi pemkot terhadap industri batik sudah bagus. Salah satunya membentuk paguyuban. Wadah yang baru dua bulan terbentuk itu sempat studi banding ke Solo, Jawa Tengah. Juga menyediakan sarana dan prasarana (sarpras) pelatihan membatik di setiap kelurahan. ‘’Lewat pelatihan, diharapkan batik semakin berkembang dan regenerasi berjalan dengan baik,’’ pungkasnya. (mgd/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/