alexametrics
30.6 C
Madiun
Thursday, August 18, 2022

Inflasi Kota Madiun Tertinggi Kedua di Jawa Timur

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Momen Lebaran mengerek inflasi Kota Madiun. Badan pusat statistik (BPS) setempat mencatat, pada Mei lalu inflasi Kota Pendekar mencapai 0,58 persen. Angka itu melampaui rata-rata Jatim (0,49 persen) dan nasional (0,40 persen). ‘’Pada momen Lebaran lalu permintaan serta harga komoditas kebutuhan masyarakat meningkat,’’ kata Kepala BPS Kota Madiun Dwi Yuhenny, Minggu (5/6).

Dwi menjelaskan, inflasi terjadi lantaran kenaikan harga secara umum dan naiknya sebagian besar indeks pengeluaran. Dari sebelas kelompok pengeluaran, seluruhnya mengalami inflasi. Tertinggi pada kelompok transportasi, yakni 0,94 persen. Disusul kelompok minuman dan tembakau (0,84 persen) serta penyediaan makanan dan minuman/restoran (0,62 persen).

Sedangkan kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,44 persen); perawatan pribadi dan jasa lainnya (0,40 persen); kesehatan (0,28 persen); rekreasi, olahraga, dan budaya (0,27 persen); pakaian dan alas kaki (0,22 persen). Pun, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (0,16 persen).

Baca Juga :  Dian Juniarto Manfaatkan Tripleks untuk Media Lukis Siluet

Dua terendah, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa (0,09 persen); serta pendidikan (0,01 persen). ‘’Dari delapan kabupaten/kota penghitung inflasi nasional di Jatim, seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi Kabupaten Sumenep dan terendah Kota Kediri. Madiun nomor dua tertinggi,’’ paparnya.

Dwi mengatakan, kenaikan inflasi Kota Madiun tidak terlepas dari lonjakan harga berbagai komoditas sepanjang Mei lalu. Hasil pemantauan BPS di pasar tradisional maupun modern, terjadi kenaikan inflasi dan kenaikan indeks harga konsumen (IHK).

Komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Mei lalu di antaranya telur ayam ras, biaya tukang bukan mandor, tarif angkutan antarkota, bawang merah, dan tarif kereta api. Sedangkan komoditas penekannya atau mengalami deflasi adalah turunnya harga daging ayam ras, beras, bawang putih, dan aneka buah.

‘’Komoditas yang paling memengaruhi inflasi adalah bawang merah. BPS pusat juga menyatakan minimnya pasokan bawang merah di sentra produksi, termasuk suplai yang minim menjadikan harga bawang merah naik,’’ ungkapnya. (ggi/c1/sat)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Momen Lebaran mengerek inflasi Kota Madiun. Badan pusat statistik (BPS) setempat mencatat, pada Mei lalu inflasi Kota Pendekar mencapai 0,58 persen. Angka itu melampaui rata-rata Jatim (0,49 persen) dan nasional (0,40 persen). ‘’Pada momen Lebaran lalu permintaan serta harga komoditas kebutuhan masyarakat meningkat,’’ kata Kepala BPS Kota Madiun Dwi Yuhenny, Minggu (5/6).

Dwi menjelaskan, inflasi terjadi lantaran kenaikan harga secara umum dan naiknya sebagian besar indeks pengeluaran. Dari sebelas kelompok pengeluaran, seluruhnya mengalami inflasi. Tertinggi pada kelompok transportasi, yakni 0,94 persen. Disusul kelompok minuman dan tembakau (0,84 persen) serta penyediaan makanan dan minuman/restoran (0,62 persen).

Sedangkan kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,44 persen); perawatan pribadi dan jasa lainnya (0,40 persen); kesehatan (0,28 persen); rekreasi, olahraga, dan budaya (0,27 persen); pakaian dan alas kaki (0,22 persen). Pun, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (0,16 persen).

Baca Juga :  Vaksinasi Covid-19 Kota Madiun Capai 74 Persen

Dua terendah, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa (0,09 persen); serta pendidikan (0,01 persen). ‘’Dari delapan kabupaten/kota penghitung inflasi nasional di Jatim, seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi Kabupaten Sumenep dan terendah Kota Kediri. Madiun nomor dua tertinggi,’’ paparnya.

Dwi mengatakan, kenaikan inflasi Kota Madiun tidak terlepas dari lonjakan harga berbagai komoditas sepanjang Mei lalu. Hasil pemantauan BPS di pasar tradisional maupun modern, terjadi kenaikan inflasi dan kenaikan indeks harga konsumen (IHK).

Komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Mei lalu di antaranya telur ayam ras, biaya tukang bukan mandor, tarif angkutan antarkota, bawang merah, dan tarif kereta api. Sedangkan komoditas penekannya atau mengalami deflasi adalah turunnya harga daging ayam ras, beras, bawang putih, dan aneka buah.

‘’Komoditas yang paling memengaruhi inflasi adalah bawang merah. BPS pusat juga menyatakan minimnya pasokan bawang merah di sentra produksi, termasuk suplai yang minim menjadikan harga bawang merah naik,’’ ungkapnya. (ggi/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/