alexametrics
24.2 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Masjid Besar Kuno Taman Jadi Cagar Budaya, Renovasi Harus Seizin BPCB

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Bersamaan kumandang azan Isya malam itu, ratusan warga bergegas memadati Masjid Besar Kuno Taman. Beberapa di antaranya sibuk mengatur parkir kendaraan para jemaah di halaman masjid. Tidak lama berselang, tempat ibadah penuh hingga nyaris tidak ada ruang tersisa.

Malam itu merupakan momen istimewa karena merupakan malam pertama bulan Ramadan. Pun, para jemaah setelah menunaikan salat Isya lantas melakukan salat sunah Tarawih dan witir.

Masjid di Jalan Asahan, Kelurahan/Kecamatan Taman, itu memiliki sejarah panjang. Masjid tersebut didirikan pada 1725 silam oleh Pangeran Mangkudipuro, bupati Madiun ke-13. Pendiriannya bersamaan dengan pembangunan makam keluarga. ‘’Dulu namanya Masjid Donopuro,’’ kata Harminto, ketua takmir Masjid Besar Kuno Taman.

Kompleks masjid dengan luas sekitar 2.600 meter persegi itu mengadopsi arsitektur Masjid Demak dan sedikit ada unsur Keraton Jogjakarta. Sementara, pengurusnya kini total ada 40 orang. Mereka mengampu berbagai bidang seperti pendidikan, agama, ibadah, dan pemeliharaan bangunan. ‘’Tidak hanya untuk beribadah, tapi juga pusat pendidikan dan ekonomi,’’ tuturnya.

Pengurus masjid pertama yang ditunjuk bupati Madiun kala itu adalah Kiai Kanjeng Misbah. Setelah itu, empat tahun sekali dilakukan pergantian pengurus. Pada 1981, masjid kuno itu beserta kompleks makam di belakangnya ditetapkan sebagai cagar budaya. ‘’Jadi, kami tidak bisa sembarangan mengubah bentuk maupun merenovasi,’’ ujar Harminto.

Baca Juga :  Pembobol ATM Indomaret Tergolong Maling Kelas Teri

Bersamaan penetapan sebagai cagar budaya itu, nama Masjid Donopuro diganti menjadi Masjid Besar Kuno Taman. Pada 2001, dilakukan pembongkaran masjid karena ada beberapa bagian bangunan yang rusak.

Langkah serupa dilakukan pada 2020 lalu oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Madiun. ‘’Terakhir diganti pakai kayu ulin dari Kalimantan,’’ ungkapnya.

Setiap ada renovasi maupun pembongkaran bangunan masjid, pihak takmir wajib melapor terlebih dahulu ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) di Mojokerto. Sebab, satu pun bagian bangunan tidak boleh diubah. Di antaranya, area depan, tiang, pintu, dan jendela. ‘’Sekarang jadi aset pemkot dan menjadi objek wisata religi,’’ tuturnya.

Di kompleks Masjid Besar Kuno Taman dulu terdapat madrasah. Namun, karena bangunannya rusak dan tidak terawat lagi, lembaga itu vakum. Kemudian, pada 2006 pengurus masjid mulai membangun kembali Madrasah Darul Ulum yang meliputi jenjang PAUD, TK, dan MI. ‘’Kurikulumnya kami mengikuti Kemenag,’’ ujar Harminto.

Selain madrasah, di masjid juga ada kegiatan TPA setiap sore. Harminto sendiri mengurus kajian Rabu Berkah dengan pengajian setelah magrib. Ada pula kegiatan berbagi sedekah ke warga sekitar serta yasinan.

Harminto juga berkomitmen tidak meninggalkan seni gembrung yang sudah dibawa ketua takmir masjid terdahulu. Kesenian itu biasa ditampilkan untuk mengiringi salawatan kala memperingati hari besar Islam. (mg7/isd/c1/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Bersamaan kumandang azan Isya malam itu, ratusan warga bergegas memadati Masjid Besar Kuno Taman. Beberapa di antaranya sibuk mengatur parkir kendaraan para jemaah di halaman masjid. Tidak lama berselang, tempat ibadah penuh hingga nyaris tidak ada ruang tersisa.

Malam itu merupakan momen istimewa karena merupakan malam pertama bulan Ramadan. Pun, para jemaah setelah menunaikan salat Isya lantas melakukan salat sunah Tarawih dan witir.

Masjid di Jalan Asahan, Kelurahan/Kecamatan Taman, itu memiliki sejarah panjang. Masjid tersebut didirikan pada 1725 silam oleh Pangeran Mangkudipuro, bupati Madiun ke-13. Pendiriannya bersamaan dengan pembangunan makam keluarga. ‘’Dulu namanya Masjid Donopuro,’’ kata Harminto, ketua takmir Masjid Besar Kuno Taman.

Kompleks masjid dengan luas sekitar 2.600 meter persegi itu mengadopsi arsitektur Masjid Demak dan sedikit ada unsur Keraton Jogjakarta. Sementara, pengurusnya kini total ada 40 orang. Mereka mengampu berbagai bidang seperti pendidikan, agama, ibadah, dan pemeliharaan bangunan. ‘’Tidak hanya untuk beribadah, tapi juga pusat pendidikan dan ekonomi,’’ tuturnya.

Pengurus masjid pertama yang ditunjuk bupati Madiun kala itu adalah Kiai Kanjeng Misbah. Setelah itu, empat tahun sekali dilakukan pergantian pengurus. Pada 1981, masjid kuno itu beserta kompleks makam di belakangnya ditetapkan sebagai cagar budaya. ‘’Jadi, kami tidak bisa sembarangan mengubah bentuk maupun merenovasi,’’ ujar Harminto.

Baca Juga :  Harga Naik, Dinas Perdagangan Intens Pantau Penyaluran Elpiji di Kota Madiun

Bersamaan penetapan sebagai cagar budaya itu, nama Masjid Donopuro diganti menjadi Masjid Besar Kuno Taman. Pada 2001, dilakukan pembongkaran masjid karena ada beberapa bagian bangunan yang rusak.

Langkah serupa dilakukan pada 2020 lalu oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Madiun. ‘’Terakhir diganti pakai kayu ulin dari Kalimantan,’’ ungkapnya.

Setiap ada renovasi maupun pembongkaran bangunan masjid, pihak takmir wajib melapor terlebih dahulu ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) di Mojokerto. Sebab, satu pun bagian bangunan tidak boleh diubah. Di antaranya, area depan, tiang, pintu, dan jendela. ‘’Sekarang jadi aset pemkot dan menjadi objek wisata religi,’’ tuturnya.

Di kompleks Masjid Besar Kuno Taman dulu terdapat madrasah. Namun, karena bangunannya rusak dan tidak terawat lagi, lembaga itu vakum. Kemudian, pada 2006 pengurus masjid mulai membangun kembali Madrasah Darul Ulum yang meliputi jenjang PAUD, TK, dan MI. ‘’Kurikulumnya kami mengikuti Kemenag,’’ ujar Harminto.

Selain madrasah, di masjid juga ada kegiatan TPA setiap sore. Harminto sendiri mengurus kajian Rabu Berkah dengan pengajian setelah magrib. Ada pula kegiatan berbagi sedekah ke warga sekitar serta yasinan.

Harminto juga berkomitmen tidak meninggalkan seni gembrung yang sudah dibawa ketua takmir masjid terdahulu. Kesenian itu biasa ditampilkan untuk mengiringi salawatan kala memperingati hari besar Islam. (mg7/isd/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/