alexametrics
23.5 C
Madiun
Friday, May 27, 2022

Tak Ada PTM, Penjahit Seragam Sekolah Kini Berganti Jualan Perkedel Kentang

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Dua tahun sudah pelajar menjalani pembelajaran daring. Dua kali pula penjahit seragam sekolah tak merasakan manisnya momen pergantian tahun ajaran baru. Bahkan, tidak sedikit yang banting setir menekuni usaha lain yang dinilai lebih menjanjikan di masa pandemi.

Lina Lastuti, misalnya. Warga Desa Kincang Wetan, Jiwan, itu terpaksa memensiunkan mesin jahitnya sejak pandemi Covid-19 melanda. Perempuan 52 tahun itu banting setir berjualan perkedel kentang. ‘’Pendapatannya ya jauh lebih sedikit (dibanding jasa jahit). Kira-kira hanya seperlimanya,’’ ujar Lina Rabu (6/7).

Sebelum pagebluk, dalam sekali momen pergantian tahun pelajaran, Lina rata-rata mendapat pesanan 700 potong seragam sekolah. Namun, sejak pandemi kondisinya berbalik 180 derajat. ‘’Eman, katanya. Wong tidak masuk sekolah kok pesan seragam baru,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Laga Persinga vs Persebaya Digelar 16 Februari di GBT

Enoh Prasetyowati, seorang wali murid, mengaku jika membeli atau menjahitkan seragam sekolah saat ini sama artinya buang-buang duit. Sebab, sejak pandemi belum sekalipun anaknya merasakan pembelajaran langsung di sekolah. ‘’Biasanya setiap naik kelas anak minta seragam baru,’’ ungkap Enoh seraya menyebut tetap memilih pembelajaran daring sebelum pandemi berakhir demi keselamatan anak. (den/c1/isd)

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Dua tahun sudah pelajar menjalani pembelajaran daring. Dua kali pula penjahit seragam sekolah tak merasakan manisnya momen pergantian tahun ajaran baru. Bahkan, tidak sedikit yang banting setir menekuni usaha lain yang dinilai lebih menjanjikan di masa pandemi.

Lina Lastuti, misalnya. Warga Desa Kincang Wetan, Jiwan, itu terpaksa memensiunkan mesin jahitnya sejak pandemi Covid-19 melanda. Perempuan 52 tahun itu banting setir berjualan perkedel kentang. ‘’Pendapatannya ya jauh lebih sedikit (dibanding jasa jahit). Kira-kira hanya seperlimanya,’’ ujar Lina Rabu (6/7).

Sebelum pagebluk, dalam sekali momen pergantian tahun pelajaran, Lina rata-rata mendapat pesanan 700 potong seragam sekolah. Namun, sejak pandemi kondisinya berbalik 180 derajat. ‘’Eman, katanya. Wong tidak masuk sekolah kok pesan seragam baru,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Laga Persinga vs Persebaya Digelar 16 Februari di GBT

Enoh Prasetyowati, seorang wali murid, mengaku jika membeli atau menjahitkan seragam sekolah saat ini sama artinya buang-buang duit. Sebab, sejak pandemi belum sekalipun anaknya merasakan pembelajaran langsung di sekolah. ‘’Biasanya setiap naik kelas anak minta seragam baru,’’ ungkap Enoh seraya menyebut tetap memilih pembelajaran daring sebelum pandemi berakhir demi keselamatan anak. (den/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/